
Di dalam ruang rapat sudah banyak orang yang hadir, mereka adalah para pimpinan serta Abraham dan Diana sebagai salah satu pemegang saham.
Setelah William berhasil membeli 55% saham kini hanya Abraham dan Diana yang berasal dari pihak luar dengan kepemilikan 25% saham.
"Selamat siang.. Mohon maaf telah membuat kalian menunggu" sapa Bill Koch saat tiba di ruang rapat.
Sementara Jasmine dan William berada di belakangnya mengikuti dengan patuh.
"Selamat siang Tuan Koch, silahkan duduk" ujar seorang pria paruh baya.
"Apakah sudah bisa kita mulai rapatnya?" tanya Bill Koch tanpa membuang waktu.
"Silahkan Tuan Koch" sahut beberapa orang mempersilahkan.
"Baiklah jika begitu, pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan kepemilikan saham perusahaan yang baru serta penunjukan Presiden Direktur sebagai penanggung jawab perusahaan" ujar Bill Koch.
Namun baru saja Bill Koch mengawali pembukaan rapat tiba-tiba Abraham bersuara.
"Tuan Koch jika kita hari ini ingin membahas masalah internal lalu mengapa ada pihak lain yang tidak berkepentingan?"
Pada saat mengatakan hal tersebut mata Abraham melirik ke arah Jasmine dan William.
"Apakah aku boleh melanjutkan perkataanku?" tanya Bill Koch dengan serius.
"Ya.. Silahkan Tuan" sahut beberapa orang secara bersamaan.
"Apakah saya ini masih dianggap pemegang saham? kenapa keluhan saya tidak didengarkan?" protes Abraham Koch.
Suasana ruang rapat menjadi tidak tenang atas keberatan yang baru saja dilayangkan oleh Abraham.
Di samping Abraham tampak Diana tersenyum datar. Ia seolah cuek namun menikmati perselisihan yang baru saja dipertontonkan oleh Abraham.
"Baiklah aku akan menjawab ketidakpuasan mu" ucap Bill Koch sambil mengeluarkan beberapa
lembar dokumen.
"Perhatikan! Ini adalah dokumen kepemilikan 30% saham atas nama Jasmine Koch" ucap Bill Koch dengan serius.
__ADS_1
"Jika ada yang mengatakan dirinya tidak layak hadir dalam rapat ini maka orang itu sungguh tidak waras" ucap Bill Koch dengan nada sedikit kesal.
Setelah Bill Koch mengatakan hal itu, beberapa orang memeriksa keaslian dokumen legal tersebut dan memastikan jika memang benar dokumen tersebut adalah asli.
Wajah Abraham terlihat jelek setelah memeriksa kevalidan dokumen tersebut, meskipun Jasmine adalah keponakannya namun secara terang-terangan ia tidak menyukainya.
Diana yang sudah mendengar berita kepemilikan saham tersebut dari ayahnya tadi pagi, tetap saja ia merasa hatinya berdarah pada saat ini.
Persaingannya dengan Jasmine sudah mendarah daging sejak mereka berada dalam kampus yang sama, bahkan demi membalas dendamnya persaingan tersebut berlanjut hingga di perusahaan Eternal Grace.
Diana berencana untuk menghancurkan Jasmine melalui perusahaan kebanggaan keluarganya. Oleh karena itu ia rela menjalin hubungan dengan asmara dengan Abraham yang memiliki perbedaan usia cukup jauh.
"Selanjutnya aku akan mengumumkan kepada kalian jika Jasmine Koch akan menjadi Presiden Direktur sekaligus CEO dari perusahaan Eternal Grace" ucap Bill Koch dengan suara yang tegas.
Orang-orang yang mendengar ucapan Bill Koch langsung tepuk tangan tanda setuju, kecuali Diana dan Abraham yang terlihat kurang suka.
"Tunggu Tuan Koch, apakah ini tidak terburu-buru?" suara Diana mengejutkan banyak orang.
"Tentu saja tidak, dengan dukungan saham yang aku miliki maka Jasmine sudah memiliki 50% kepemilikan" ujar Bill Koch dengan santai.
"Itu dia maksud saya, Jasmine hanya menguasai 50% saham dan masih ada pemilik 25% saham yang tidak hadir. Oleh karena itu, rapat ini terlalu menganggap remeh pihak lain" ucap Diana dengan serius.
"Jika itu membuatmu berpikiran seperti itu, maka kau sudah keliru besar" balas Jasmine yang kini mulai berbicara.
"William tolong tunjukkan dokumen yang sudah dipersiapkan sebelumnya" ucap Jasmine kepada William.
Sebelumnya mereka sudah mengatur skenario ini, William akan bertindak sebagai bawahan Jasmine jika mereka sedang berada di kantor.
"Baik Nona Jasmine" jawab William dengan sopan.
Setelah berkata demikian, William segera membuka sebuah map plastik yang berisi dokumen legal tentang kepemilikan saham.
Setelah mengeluarkannya, William memberikan dokumen tersebut kepada Jasmine.
"Ini adalah dokumen penunjukkan kepemilikan saham 25% yang baru saja kau bicarakan"
Setelah berkata demikian, Jasmine segera menyerahkan dokumen tersebut ke bagian legal perusahaan untuk memeriksanya.
__ADS_1
"Ini adalah dokumen asli dan dapat dipertanggungjawabkan legalitasnya" ucap seorang verifikator dokumen.
"Apa?"
"Bagaimana mungkin?" ucap Diana dengan tatapan tidak percaya.
Namun ia juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk memeriksa dokumen tersebut, matanya terbelalak sempurna saat menyaksikan tandatangan pimpinan Bank Royal sebagai saksi pada dokumen tersebut.
Tubuh Diana menjadi lemas, ia telah kalah dengan telak pada saat ini. Dengan kepemilikan 75% saham, jelas Jasmine dapat berbuat apapun yang ia mau di perusahaan. Meskipun ia dan Abraham memiliki 25% komposisi, namun jumlah tersebut tidak cukup kuat untuk mengganjal pemilik saham mayoritas yang kini dipegang oleh Jasmine.
****
Di Kota Brooklyn, setelah memeriksa dirinya dengan intensif kini Regina tidak dapat mengingkari keadaan yang menyelimuti dirinya.
Setelah dinyatakan hamil, ia memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan Kota Brooklyn. Ia akan membesarkan buah cintanya dengan William, berharap suatu hari mereka akan bisa bersama dalam keadaan yang berbeda.
Ia tidak mungkin bertahan di Kota Brooklyn, ia tidak bisa membiarkan semuanya hancur begitu saja. Terutama dengan calon buah hatinya yang paling menderita, bisa saja ia tidak sempat melihat dunia yang indah ini.
"Ibu.. Aku ingin berlibur" ucap Regina kepada ibunya.
"Apakah kau sudah bosan berada di rumah?" tanya ibunya dengan serius.
"Bisa jadi demikian" sahut Regina dengan nada yang pasrah.
Melihat kondisi putrinya yang sedang dalam masa pemulihan, ibunya hanya memasang penuh simpati. Sebagai seorang ibu dan sesama wanita ia tentu merasakan kesedihan yang dialami oleh putrinya tersebut.
"Memangnya kamu mau berlibur ke mana?" tanya ibunya kepada Regina.
"Aku ingin ke Jepang untuk beberapa hari, mungkin bisa jadi satu bulan" kata Regina dengan yakin.
"Hemmph.. Baiklah aku akan berbicara pada ayahmu terlebih dahulu" ujar ibunya.
"Baiklah ibu, aku akan menunggu" jawab Regina dengan pelan.
Sebenarnya Regina sudah menghubungi Dokter Alfred sebelumnya, ia berencana meminta bantuan Dokter pribadi keluarga Mars tersebut.
Menurut pengakuan Dokter Alfred, ia memiliki sebuah tempat tinggal di salah satu Negara bagian. Sambil membesarkan anaknya, Regina berencana ingin tinggal di tempat tersebut.
__ADS_1
Di bawah pengawasan dokter Alfred, Regina merasa lebih aman. Regina sudah menganggap Dokter Alfred seperti ayahnya sendiri, sebab ayah kandung Regina yang bernama Alex Mars terlalu dingin dan tidak pernah mau memahami perasaannya sejak ia kecil.
Apalagi saat ia bersama William, ayahnya terlihat bengis dengan mengancam keluarga William jika Regina tidak mengakhiri hubungan percintaannya dengan William yang baru seumur jagung tersebut.