
Setelah perbincangan singkat, akhirnya Andrew kembali pergi dari tempat tersebut. Sebuah mobil mewah yang terparkir di depan kafe tersebut menjadi perhatian banyak orang. Namun William tidak peduli, ia kembali membuka aplikasi saham yang sebelumnya tertunda karena kedatangan Andrew.
William kembali menggelontorkan uangnya untuk diinvestasikan kepada salah satu perusahaan kelas atas yang memang kondisinya seperti sedang menurun. Namun William tahu jika itu hanyalah trik dari seorang broker besar yang kini sedang bermain di belakang layar.
William menanamkan uangnya sebesar 1 Triliun Dollar pada 10 menit sebelum penutupan pasar saham. Kejadian ini tentu saja membuat heboh pasar saham, beberapa orang yang tadinya sudah mengunci harapannya kini berubah masam saat William membeli saham perusahaan tersebut dan memiliki secara mayoritas.
Orang yang semula ingin bermain untuk mencari keuntungan sesaat berubah menjadi panik, mereka tidak rela jika saham tersebut dikuasai oleh orang lain. Tidak lama setelah penutupan pasar saham, William mendapatkan sebuah pesan di alamat emailnya. Dalam pesan tersebut tampak seseorang ingin mengajaknya bertemu secara langsung untuk membicarakan tentang saham yang baru saja dibeli oleh William.
"Tuan, bisakah kita bernegosiasi tentang saham yang baru saja anda miliki"
William hanya tersenyum ringan menanggapi isi pesan tersebut, lalu ia segera mengirim pesan balasan.
"Silahkan anda buka harga penawaran terbaik, atau saya akan menahannya untuk saya miliki sendiri" jawab William dengan penekanan.
William tahu, jika perusahaan tersebut berharga lebih dari lima Triliun. Jika kini ia bisa membelinya dengan harga 1 Triliun maka ia sangat beruntung.
"Bagaimana jika saya akan menggandakannya?" balas email tersebut.
"William lalu mengetik balasan, "Tiga kali atau tidak sama sekali" balas William lalu menutup percakapannya.
Karena sudah waktunya jam pulang kantor, akhirnya William segera pulang untuk kembali ke Hotel di mana ia menginap. Pada saat ini ia ingin mencari tahu tentang apartemen yang sebelumnya sudah dijual oleh Jasmine.
William berpikir jika Jasmine sudah lebih dari teman, meskipun ia sendiri juga sedang dalam fase yang sulit dengan Regina. Sudah beberapa kali William mencoba menghubungi Regina namun selalu tidak dapat terhubung, ia benar-benar tidak menduga jika orang tua Regina lebih keras dari Tuan Sander.
Sambil berjalan pelan, William membuka mencari broker apartemen yang pernah dimiliki oleh Jasmine sebelumnya. Setelah mengetik nama apartemen yang pernah dimiliki oleh Jasmine, muncul pengiklan yang menawarkan harga penjualan apartemen tersebut yang berharga 1,8 Milliar Dollar.
Setelah melihat profil penjual, lalu William menghubungi orang tersebut untuk melakukan penawaran. William ingin membeli kembali apartemen tersebut untuk Jasmine. William masih memiliki uang 350 Miliar Dollar lebih, jadi ia sama sekali tidak kekurangan uang pada saat ini.
__ADS_1
Dengan cepat sebuah notifikasi muncul di layar handphone William, itu adalah pesan masuk dari agen perumahan yang sebelumnya memasang iklan apartemen.
"Baiklah kita akan bertemu di restoran Hotel Marriot malam ini jam 7 malam" bunyi chat dari agen perumahan tersebut.
William tersenyum cerah saat membayangkan semudah itu melakukan apapun ketika memiliki uang, sebagai seorang milyuner ia kini memiliki beberapa rencana untuk membeli beberapa aset nyata.
Meskipun ia dengan mudah mendapatkan uang dari pasar saham, namun untuk menjadi orang kaya sungguhan ia perlu memiliki aset yang berbentuk fisik agar dapat dipertanggungjawabkan.
Tanpa terasa kini William sudah berada di depan pintu kamarnya. Sebelumnya ia tidak sempat memberi tahu Jasmine tentang kepulangannya.
Setelah membuka pintu kamar, William melihat Jasmine yang sedang murung. Lalu dengan perlahan, William merangkul Jasmine yang sedang menatap William.
"Kamu kenapa lagi?" tanya William penasaran.
"Aku baru saja mengetahui berita pemecatan mu" jawab Jasmine dengan ekspresi sedih.
"Owh karena itu.. Sudahlah, tidak penting" ucap William dengan enteng.
"Mungkin aku akan mengandalkan mu nanti, jadi aku tidak perlu bekerja keras" ujar William dengan santai.
"Sejak kapan kau jadi tidak tahu malu seperti ini?" ucap Jasmine dengan nada sedikit kesal.
"Apakah kau sudah melupakan hubungan kita" ucap William sambil menggoda Jasmine.
"Lupakanlah, anggap semalam tidak terjadi apapun diantara kita" jawab Jasmine dengan cuek sambil pergi menyiapkan secangkir kopi untuk William.
"Hai aku serius ingin hidup dari uang yang kau hasilkan" ucap William yang kini tengah duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Itu hanya dalam mimpimu" ucap Jasmine sesaat setelah meletakkan kopi panas di atas meja.
"Kenapa Diana memecat mu?" tanya Jasmine dengan serius.
"Sepertinya ia tidak menyukai kedekatan kita, ditambah adiknya adalah pria yang merebut cinta pertamaku saat di kampus" jawab William dengan jujur.
Mendengar perkataan William barusan, hati Jasmine seperti disayat pisau. Ia benar-benar tidak menyangka jika persaingan keduanya sampai melibatkan William yang tidak tahu apa-apa.
"William, maafkan aku. Gara-gara aku, kamu malah jadi korban ambisi Diana" ucap Jasmine dengan ekspresi murung.
"Sudahlah.. Tidak penting itu, besok ketika perusahaan itu sudah di bawah pengaturan mu tentu semua akan berbeda. Aku bisa dengan tenang menghabiskan uangmu" kata William dengan santai.
Namun tidak dengan Jasmine, ia berpikiran jika William sedang terluka jadi perkataannya sedikit melantur.
"Apa kamu keberatan?" sambung William yang melihat Jasmine tampak melamun.
"Entahlah Wil, aku tidak tahu. Aku juga tidak yakin jika lusa masih bekerja di sana. Aku takut orang tua ku mengetahui semua yang kulakukan. Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Oleh karena itu, aku merasa akhir hidupku hanya tersisa beberapa hari dan itu akan aku persembahkan untukmu" ungkap Jasmine dengan mata yang hendak menangis.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk memberikan waktu tiga hari, sekarang masih ada waktu untuk membuktikan ucapanku" ucap William dengan serius.
"Sepertinya mustahil, dengan adanya kamu menemaniku, aku sudah bahagia sekali" ujar Jasmine yang kini benar-benar sudah menangis.
William segera menghampiri Jasmine lalu memeluknya dengan erat, lalu berkata.
"Mulanya aku sudah memiliki seseorang, dan wanita tersebut masih terukir dengan baik di dalam hatiku. Namun saat ini, kedekatan kita sudah tidak bisa disederhanakan dan aku akan bertanggung jawab atas dirimu seutuhnya" ucap William dengan penuh kasih sayang.
Mendengar ucapan William, perasaan Jasmine menjadi hangat. Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya, namun ia juga tidak menampik perasaan yang baru saja tumbuh di hatinya.
__ADS_1
"Bukankah kau telah menyakiti wanitamu jika bersamaku?" tanya Jasmine.
Dalam hatinya ia juga merasa bodoh jika harus menjadi wanita kedua di kehidupan William, hal ini tentu saja tidak pernah terpikirkan sama sekali di dalam hidup Jasmine. Apalagi Jasmine juga belum mengenal latar belakang William yang menurutnya masih penuh rahasia, belum lagi tentang keluarga Jasmine yang tidak akan setuju dengan kedekatan hubungan mereka.