
"Sudah tidak bisa, sebelumnya ayah sudah minta penangguhan sebanyak dua kali" ucap Bill Koch.
"Tuan dan Nyonya, maafkan saya apabila ikut campur dalam masalah ini. Saya sudah berjanji pada Jasmine untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Oleh karena itu, saya akan melunasi hutang tersebut malam ini juga" ucap William dengan percaya diri.
"Hai anak muda, kamu jangan impulsif. Kamu kira kamu akan sanggup membayarnya?" ucap Bill Koch dengan ekspresi kesal.
"Saya tidak bertindak impulsif, saya yakin dengan apa yang sudah saya janjikan kepada putri anda." sahut William saat melihat ekspresi ayahnya Jasmine nampak kecewa.
"Baiklah aku akan mendengarkan mu, namun jika kau hanya bermulut besar maka segera angkat kaki dari sini dan jangan pernah ganggu putriku lagi" ucap ayahnya Jasmine dengan tegas.
Jasmine memandang kedua orang pria beda generasi di depannya dengan ekspresi rumit, saat ini jika William tidak bisa membuktikan omongannya maka hubungan mereka akan berakhir.
"Wil.." ucap Jasmine sambil merangkul tangan William di depan kedua orangtuanya.
"Kamu tidak usah khawatir, seperti yang aku janjikan maka aku akan menepatinya saat ini" ucap William dengan lembut.
"Tuan, bagaimana saya harus membereskan hutang tersebut?" ucap William dengan sopan kepada Bill Koch.
"Kamu harus membayar uang sejumlah 90 Miliar Dollar ke nomor rekening bank." ucap Bill Koch sambil menunjukkan selembar berkas.
Dengan seksama William membaca kertas tersebut, namun ia mengernyitkan matanya saat membaca nama Andrew tertuang dalam perjanjian tersebut.
"Kenapa? Apakah kau menyerah?" tanya ayah Jasmine setelah melihat ekspresi William.
"Saya tidak menyerah, hanya saja saya sepertinya mengenal nama Andrew dalam surat tersebut" ucap William dengan serius.
"Di Kota NY banyak nama Andrew, namun Andrew yang terdapat dalam surat tersebut adalah kepala cabang utama Bank terbesar di negara ini" ujar Bill Koch.
"Jika seperti itu, maka orang yang kita maksud adalah sama" ucap William sambil tersenyum.
Adapun Jasmine yang berada di sebelahnya, tampak sangat cemas menghadapi situasi seperti ini.
Detik berikutnya William segera mengeluarkan handphonenya, lalu menekan tombol panggilan untuk menghubungi seseorang.
Untuk meyakinkan semu orang, William segera menekan tombol loudspeaker. Tidak berapa lama kemudian panggilan itu terhubung.
__ADS_1
"Halo Tuan William, apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pria di ujung telepon.
Bill Koch langsung terdiam, ia tentu sangat mengenal suara yang kini terhubung di telepon itu.
Sementara Jasmine dan ibunya hanya saling memandang penuh ketidakpercayaan, mereka tidak mengira jika William benar-benar melakukan sambungan telepon.
"Saat ini aku sedang bersama tuan Koch, apakah benar Tuan Koch memiliki hutang kepada Bank anda?" ucap William dengan ekspresi santai.
"Apakah yang Tuan maksud adalah Bill Koch dari perusahaan Eternal Grace?" tanya Andrew dengan serius.
"Ya benar, kebetulan saya juga sedang memegang surat perjanjian hutang diantara kalian" ucap William sambil membaca surat tersebut secara seksama.
"Benar Tuan, Bill Koch mewakili perusahaan Eternal Grace memiliki hutang sebesar 90 Milliar Dollar" terang Andrew.
Orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut menjadi hening, Jasmine sendiri menjadi sangat heran dengan koneksi yang dimiliki oleh William yang ia kenal hanya sebagai karyawan magang di perusahaannya.
"Mulai sekarang aku akan bertanggungjawab atas hutang tersebut. Silahkan anda melakukan debet langsung dari rekening saya uang sejumlah itu" ucap William dengan ekspresi yang terlihat sangat santai.
"Baiklah Tuan, karena anda adalah nasabah prioritas kami maka kami akan memotong bunga berjalan serta denda yang ada. Mohon berikan saya waktu sekitar sepuluh menit untuk mengkalkulasinya" jawab Andrew dengan sopan di ujung telepon.
Pandangan Bill Koch menjadi takjub terhadap William, ia mengenal sosok Andrew yang sulit diajak bernegosiasi. Namun di bawah pengaruh William, pria pimpinan Bank terbesar di Kota NY tersebut terlihat seperti anak kecil.
"Apakah aku seperti hantu yang telah menyakitimu? ujar William sambil mengelus rambut Jasmine dengan lembut.
"Hai kalian, apakah tidak bisa menghargai keberadaan kami di sini" ucap Bill Koch yang kini sudah bisa tersenyum ke arah William dan Jasmine.
"Maafkan kami" jawab Jasmine dengan wajah memerah.
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" ucap Rose penasaran.
"Kami baru saja kenal, bahkan kedekatan kami baru dua hari ini terjadi" jawab Jasmine malu-malu.
"Apa? baru dua hari?" tanya ibunya dengan tidak percaya.
Bagi ibunya, mustahil seorang pria yang baru dikenal dua hari sudah mau berkorban uang puluhan miliar begitu saja.
__ADS_1
Pada saat ini, tiba-tiba handphone Bill Koch berdering, itu adalah panggilan dari seorang staf Bank Royal untuk mengkonfirmasi dan menyetujui potongan denda serta bunga berjalan.
Bill Koch tampak sangat antusias menerima panggilan tersebut, walau bagaimanapun hal ini tidak pernah ia duga sebelumnya.
Setelah selesai menerima panggilan tersebut, Bill Koch semakin kagum. Ia tidak percaya jika pihak bank sendiri yang kini menghubunginya, apalagi ini sudah malam dan pelayanan perbankan seharusnya sudah tutup. Namun hanya dengan satu panggilan dari William mereka langsung bergerak cepat memberikan pelayanan.
Selang tidak berapa lama, kini handphone William yang berdering.
"Halo Tuan, untuk pelunasan hutang setelah dipotong denda berjalan dan bunga semua menjadi 85 Milliar Dollar, apakah sudah bisa dilakukan penarikan dananya?" ucap Andrew di ujung telepon.
"Baiklah, silahkan lakukan" ujar William dengan santai.
"Baik Tuan, mohon tunggu sebentar." ucap Andrew.
Beberapa detik kemudian sebuah notifikasi muncul di handphone William, transaksi penarikan dana baru saja berhasil dilakukan.
"Sudah selesai Tuan, apakah ada hal lainnya yang perlu saya urus?" ucap Andrew dengan sopan.
"Apakah kamu memiliki koneksi terhadap pemilik saham perusahaan Eternal Grace lainnya?" tanya William.
"Ada Tuan" jawab Andrew dengan cepat.
"Bisakah kau menegosiasikan pembelian saham dengan mereka"? Tanya William lagi.
"Kebetulan ada dua orang yang ingin melepaskan saham, jika di total kedua orang tersebut memiliki 30 % saham. Namun sepertinya orang-orang dari keluarga Howard juga menginginkan hal tersebut" ungkap Andrew.
"Apa? Keluarga Howard?" ucap William dengan bingung.
"Betul Tuan, sepertinya mereka sangat tertarik" ujar Andrew.
"Tolong usahakan agar mereka hanya menjualnya kepadaku, aku menyiapkan 300 Milliar untuk hal itu" ucap William dengan santai.
"Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik untuk anda"
"Jika ini berhasil, maka aku akan menginvestasikan 2 Triliun di Bank mu" ucap William.
__ADS_1
"Siap Tuan.." ucap Andrew dengan penuh semangat.
Sementara itu orang-orang yang mendengar percakapan William dengan Andrew semuanya menjadi diam terpaku, mereka baru saja mendengarkan pembicaraan yang seolah sangat konyol di telinga mereka.