
Selama kuliah ia tidak pernah tahu nama perusahaan yang telah menyumbangkan dana sosialnya ke kampus, baru hari ini mengetahuinya setelah ia mendapatkan pemberitahuan dari kampus tentang nama perusahaan raksasa tersebut.
Setelah berpikir sejenak, William mengetik beberapa kata di handphone nya. "Baiklah aku setuju dan besok pagi aku akan melapor ke Perusahaan Eternal Grace"
Setelah pesannya terkirim, ia juga membuka beberapa notifikasi pesan WhatsApp lainnya. Ada beberapa pesan dari Regina serta Video Call yang tidak terjawab.
"Sayang, apakah kamu sedang sibuk?" tanya Regina melalui chat yang sudah satu jam lalu terkirim.
Setelah membaca chat tersebut, William segera melakukan video call. Tidak menunggu lama, panggilan tersebut langsung tersambung.
"Maaf Re, aku baru sempat memegang Handphone" ucap William buru-buru.
"Apakah kamu William?" tanya Regina dari dalam layar dengan ekspresi tidak percaya.
"Iya tentu saja, apakah ada yang salah?" tanya William dengan keheranan.
"Kamu berubah, tampan sekali" puji Regina dengan jujur.
"Terimakasih, aku baru saja pulang merapikan rambut. Kebetulan juga besok aku mendapat panggilan untuk magang di Kantor Eternal Grace" ungkap William dengan wajah senang.
"Benarkah? Semoga mereka bisa melihat kinerjamu yang terbaik" ucap Regina sambil tersenyum manis.
Mereka kemudian berbincang penuh keseruan, berbicara tentang beberapa hal di masa lalu yang pernah terlewatkan. Tanpa sadar hampir dua jam mereka melakukan panggilan video, Regina begitu terkesan dengan penampilan baru William hingga beberapa kali memujinya.
Setelah menutup panggilan videonya, William lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian ia memakai pakaian yang baru saja ia beli tadi siang, sementara semua pakaian lamanya segera ia kemas untuk ia singkirkan.
Tanpa sengaja William menemukan sebuah kartu debit yang dilengkapi dengan catatan kecil. Dengan perlahan ia memegang erat kartu tersebut sambil membaca tulisan yang yang terdapat pada catatan tersebut.
"William, aku berharap kau akan berhasil di masa depan. Aku memberikan kartu ini kepadamu karena aku percaya kau bisa membuktikan tekadmu, semalam terlalu luar biasa untuk aku lupakan hingga aku bertambah yakin padamu. No Pin kartu ini adalah hari ulang tahunku"
__ADS_1
Setelah membaca catatan tersebut, William segera meraih handphone nya kembali untuk menelepon Regina.
Setelah beberapa kali terdengar nada tunggu, panggilan itu tersambung dengan Regina.
"Halo Wil, baru saja kita mengobrol kau sudah rindu" ucap Regina diujung telepon dengan nada bercanda.
"Re.. Aku baru saja menemukan sebuah kartu debit, namun aku terkejut setelah membacanya dan ternyata kamu telah melakukan hal yang berlebihan" ucap William dengan suara berat.
"Owh, aku pikir kamu sudah menerimanya sejak tadi pagi" sahut Regina.
Setelah diam sejenak, lalu ia melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu kau akan keberatan, namun anggap saja aku berinvestasi kepadamu. Jika kau sudah berhasil kau boleh mengembalikannya padaku, tentunya dengan beberapa kompensasi.." bujuk Regina untuk meyakinkan William.
"Kenapa kau melakukannya untukku?" tanya William dengan serius.
"Aku serius" ucap William dengan nada penekanan.
William adalah lelaki yang memiliki harga diri yang tinggi, meskipun ia orang yang tidak punya tetapi bukan berarti ia mau memanfaatkan orang lain begitu saja.
"Jujur kukatakan, semuanya aku lakukan karena aku mengagumimu dan aku memiliki perhitungan jika kau akan berhasil dengan pemikiran bisnismu yang cemerlang di masa mendatang. Seperti yang aku bilang tadi, jika kau keberatan kau bisa menganggapnya sebagai investasi dariku. Jika kau berhasil kau bisa mengembalikannya, namun jika gagal kau tidak ada kewajiban mengembalikannya karena aku melakukannya dengan suka rela" ucap Regina.
"Bagaimana jika aku tidak melakukan apapun terhadap uang itu?" tanya William kepada Regina.
"Semua terserah padamu, namun satu hal yang perlu kau tahu. Buatlah aku bahagia dengan cara melihatmu berhasil, beberapa tahun aku mengenalmu dan sejak saat itu juga aku sudah berencana untuk mengumpulkan uang agar kelak bisa membantumu" ujar Regina di ujung telepon.
Setelah mendapatkan sikap Regina yang bersikukuh, William tidak ingin berdebat jika itu hanya akan menyakiti perasaan wanita yang kini telah menjadi kekasihnya.
"Aku tidak akan mengecewakanmu" ucap William kemudian.
__ADS_1
"Begitu dong, ini baru William yang dulu kukenal penuh motivasi dan impian. Aku ingin kau membuktikannya kepadaku, baik susah maupun senang aku akan selalu ada untukmu" jawab Regina dengan nada yang hampir menangis.
Regina tetap mengagumi William, meskipun dengan kekayaannya ia ingin membantu William namun tetap saja William berusaha untuk menolaknya. Hal ini juga yang membuat Regina menyukai William yang tidak gelap mata dengan materi.
"Kamu jangan bersedih, maafkan aku jika kata-kata ku menyinggung mu barusan" ucap William berusaha menenangkan Regina.
"Tidak apa, biarlah semua menjadi bagian tidak terpisahkan dari kita. Kelak kita akan bersama di masa depan, aku pun suatu saat akan bergantung pada dirimu. Jadi apa yang aku lakukan hari ini akan menjadi masa lalu di masa depan" ucap Regina dengan nada penuh harap kepada William.
"Baiklah sayangku. Aku berjanji akan memberikan dunia kepadamu di masa yang akan datang" ucap William dengan yakin.
"Denganmu aku bahagia, aku hanya ingin menua bersamamu" ucap Regina dengan penuh kasih sayang.
"Aku sayang kamu" ucap William dengan sungguh-sungguh.
"Aku juga sangat menyayangi mu" jawab Regina sebelum keduanya mengakhiri panggilan.
William tidak lagi mempermasalahkan uang pemberian Regina, namun ia tetap menganggapnya sebagai hutang di masa depan dan harus ia pertanggung jawabkan demi harga dirinya juga.
Seusai berbicara dengan Regina, William segera melakukan sinkronisasi data email untuk mendownload beberapa aplikasi yang sebelumnya tertinggal di handphone lamanya.
Setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil masuk ke akun pialang saham yang ia miliki sebelumnya. Namun alangkah terkejutnya William saat melihat notifikasi di akunnya, uang yang sudah ia investasikan dalam bentuk saham kini mengalami peningkatan yang sangat drastis.
Pada penutupan pasar saham sore tadi, harga saham yang dimiliki oleh William kini sudah meningkat pesat. Jika sebelumnya ia memiliki 500 ribu Dollar, kini uang yang ia miliki sudah senilai Tujuh Juta Dollar dalam bentuk saham.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya William dalam hati.
Baru dua hari ia tidak membuka notifikasi pasar sahamnya namun kini ia dikejutkan oleh lonjakan investasi harga jual sahamnya tersebut. Investasi yang ia lakukan semuanya bersifat tahunan, jadi wajar jika William tidak sering mengikuti perkembangannya.
Namun apa yang menjadi prediksinya di masa lalu kini menjadi kenyataan, untung saja dulu ia memilih menanamkan uangnya pada industri jasa antar barang atau makanan. Awalnya perusahaan yang ia pilih tidak familiar karena masih baru dan belum memiliki pelanggan.
__ADS_1