Ku Tulis Namamu Di Hati

Ku Tulis Namamu Di Hati
Mencoba Bunuh Diri


__ADS_3

Pada saat sebelum jam kantor berakhir, tanpa sepengetahuan orang lain, William yang baru saja mencairkan uang senilai 3,75 Milliar Dollar dari penjualan sahamnya segera mencari perusahaan baru yang bisa ia investasikan. Secara kebetulan William menemukan modus yang sama pada sebuah perusahaan yang diduga sedang ditargetkan oleh broker handal.


Sebuah perusahaan yang sedang mengalami penawaran tinggi membuat harga sahamnya kini sedang terpuruk, namun berdasarkan analisa William perusahaan kelas menengah tersebut sebelumnya adalah perusahaan yang stabil. Namun kini harga saham terkoreksi pada titik terendah, membuat grafik yang aneh.


William sangat meyakini jika aktor yang bekerja di belakangnya adalah orang yang sama. Jadi dengan cepat William segera membeli saham-saham tersebut pada lima menit sebelum penutupan. Pada sesi tersebut, William berhasil membukukan namanya untuk kepemilikan 375 Juta lembar saham.


Di dalam apartemen, Jasmine terlihat sangat gugup. Tubuhnya lemas dan bergetar menahan ketidakpercayaan.


"Gawat.. Bagaimana mungkin ini terjadi" ucap Jasmine diiringi tubuhnya yang melorot jatuh ke lantai.


William yang baru saja tiba seusai berolahraga segera membantu Jasmine dan mengangkat tubuhnya ke sofa.


"Ada apa? Kenapa bisa seperti ini?" ucap William dengan panik.


Setelah memastikan jika Jasmine masih dalam posisi sadar, William segera membuatkan teh manis hangat agar segera bisa diminum oleh Jasmine.


Wajah Jasmine tampak pucat, kecantikan yang biasa terpancar dari wajahnya kini pudar karena kondisinya yang terpuruk. Selain ia juga kurang istirahat, kini ia dihantam oleh badai krisis keuangan yang sangat besar.


Setelah melihat kondisi Jasmine yang mulai membaik, William segera beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri setelah baru saja selesai berolahraga sore.


Dengan menggunakan kaos dan celana pendek William keluar dari kamarnya menuju ruang tengah di mana Jasmine berada. Baru saja William ingin menghampiri sofa, sambil melihat-lihat ternyata Jasmine sudah tidak berada di posisi semula.


Namun alangkah kagetnya William jika pada saat ini Jasmine tengah berdiri di pinggir jendela Hotel, nampak jendela tersebut sudah dibuka paksa oleh Jasmine sesaat sebelumnya.


"Apa yang akan kau lakukan?" teriak William sambil meraih tubuh Jasmine yang hendak melompat.


"Lepaskan aku" ucap Jasmine sambil meraung.

__ADS_1


"Ada apa? Jika ada sesuatu jangan seperti ini?" ucap William sambil menarik paksa tubuh Jasmine.


Tarikan tangan William yang kuat membuat tubuh Jasmine yang lemah terhempas ke dalam pelukan William begitu saja.


"Hufft"


William memeluk erat tubuh Jasmine berusaha untuk menenangkan kondisi jiwanya yang sedang terguncang.


Secara perlahan William langsung berjalan menjauhi jendela. Ia memapah tubuh Jasmine hingga ke dalam kamarnya.


Setelah cukup tenang, William beranjak untuk memesan makan malam dan agar diantar ke kamar tempat di mana ia menginap.


Pada saat ini William merasa iba kepada Jasmine, ia tidak mengerti masalah apa yang mendera dirinya. Sambil menjaga Jasmine, William segera mengambil laptopnya untuk melihat perkembangan perkembangan saham yang baru saja ia beli sore tadi.


Dalam waktu yang singkat ia sudah melihat grafik penjualan pada saham tersebut. Uang 3,75 Milliar Dollar hanya mampir sejenak lalu berubah kembali dalam bentuk saham. Di sisi lain, seseorang dengan akun yang sama juga sudah membukukan saham mayoritas.


Namun jika Jasmine masih bertahan maka masih ada kemungkinan untuk naik meski sulit. Sebab William tahu jika perusahaan yang diinvestasikan oleh Jasmine adalah perusahaan fiktif, oleh sebab itu William sudah menyarankan kepada Jasmine untuk menarik dananya.


Tidak lama kemudian makanan yang dipesan oleh William telah datang, seorang pelayan Hotel meletakkan makanan tersebut di meja makan yang sudah disiapkan.


Dengan lembut William membangunkan Jasmine untuk makan malam bersama, namun Jasmine terlihat enggan. Wajah cantiknya masih sembab karena air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.


"Ayo kita makan, apapun masalahmu jangan kau sakiti dirimu seperti ini" bujuk William dengan lembut.


"Kamu tidak usah pedulikan aku, kamu makan saja duluan" ucap Jasmine dengan tatapan kosong.


"Sudahlah ayo makan, aku sudah mengerti tentang permasalahanmu. Namun jika kamu tidak cerita bagaimana aku bisa membantumu?" ucap William sambil meraih tangan Jasmine.

__ADS_1


"Kamu tidak usah pedulikan aku, sana pergi!" ucap Jasmine sambil meraung.


William semakin kasihan melihat Jasmine yang bersikap demikian, ia tahu jika Jasmine memiliki masalah yang sangat besar hingga ia bersikap demikian. William juga khawatir jika Jasmine akan berusaha untuk bunuh diri jika ditinggalkan dalam kondisi seperti ini.


"Kita akan makan bersama" ucap William dengan tegas.


Selanjutnya William segera mengambil makanan dan menyuapinya secara perlahan ke dalam mulut Jasmine. Melihat sikap William yang keras kepala, akhirnya Jasmine luluh juga.


"Aku bisa sendiri" ucap Jasmine sambil mengambil makanan yang berada di tangan William.


Setelah melihat perubahan Jasmine, William sangat senang. Ia lalu melanjutkan makannya dengan lahap, seiring perkembangan tubuh William yang terlihat atletis diikuti juga nafsu makan yang besar.


Setelah selesai makan, William segera membersihkan dan membereskan sisa makanan yang ada. Dengan sabar ia juga mengambilkan minum untuk Jasmine.


Mendapatkan perhatian demikian membuat Jasmine merasa hangat dan sedikit lebih tenang.


"Bolehkah aku menemanimu mengobrol?" tanya William kepada Jasmine yang masih berada di atas ranjangnya.


"Ya, tentu saja" jawab Jasmine yang kini menyesal.


Jika saja ia mengikuti saran dari William sebelumnya maka ia tidak akan mengalami kerugian sebesar ini. Setelah memandang William dengan lekat, kemudian ia berkata.


"William, maafkan aku yang tidak mengikuti saran mu. Aku malah tergoda dengan masukan dari teman-temanku, dan bodohnya aku juga malah menambah nilai investasi dari hasil penjualan apartemenku"


"Sudahlah semua sudah berlalu, kamu jangan berlarut dalam kesedihan. Ingatlah kita masih punya Tuhan dan masih punya harapan" ujar William dengan santai.


"Kau benar, hanya saja aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Jika saja orang tua ku tahu jika aku sudah menjual apartemen yang selama ini aku tempati maka mereka akan marah besar. Sebelumnya aku juga sudah menjual beberapa aset untuk mengumpulkan uang dan berinvestasi pada saham yang aku tunjukkan sebelumnya" ucap Jasmine dengan murung.

__ADS_1


William tampak terdiam setelah mendengar penuturan dari Jasmine, ia tidak mengira jika Jasmine bisa berbuat senekat ini dengan mempertaruhkan segalanya. Ia pikir sebagai putri dari salah seorang pemilik perusahaan besar tidak akan mengalami masalah finansial, namun nyatanya Jasmine berada pada titik terendahnya hingga ingin melakukan bunuh diri.


__ADS_2