
Alfred sedikit bingung, ia berada dalam posisi sulit pada saat ini. Jika ia menyembunyikan keadaan Regina tentu ia akan berhadapan dengan Alex Mars, ayah Regina yang terkenal tegas dan kejam.
Sementara jika membiarkan Regina yang sudah ia anggap seperti anaknya, ia khawatir akan mendapat hukuman yang sangat berat dari keluarganya.
"Aku hanya bisa menutupi untuk sementara, namun semakin lama ditutupi kehamilan kamu juga semakin membesar. Saat itu tentu semua akan terkena imbasnya, kuharap kamu bisa mengerti" ucap Alfred dengan serius.
"Baiklah untuk sementara aku akan mencari solusi, terimakasih atas pertolonganmu" ucap Regina dengan tulus.
"Untuk menghindari kecurigaan, sebaiknya setelah ini kamu mau makan. Sehingga aku memiliki penjelasan terhadap keluarga mu. Selain itu, berpikirlah demi calon bayi yang kau kandung saat ini" ucap Alfred.
"Aku akan makan, aku akan memperhatikan saranmu" jawab Regina.
Setelah perbincangan itu, Regina berinisiatif memakan buah apel yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ibunya. Ia makan dengan lahap karena memang dari kemarin tidak makan.
Melihat perubahan sikap Regina, dokter Alfred hanya tersenyum ringan. Walau bagaimanapun ia akan menghadapi masalah besar jika kehamilan Regina tersebar hingga ke luar.
Sesaat keluar dari kamar Regina, dokter Alfred segera menemui ibu Regina dan melaporkan perkembangan jika Regina sudah mau makan dan kondisi sebelumnya hanya kelelahan saja.
Mendengar hal tersebut tentunya membuat ibu Regina merasa senang. Kemudian ia memeriksa keadaan putrinya sendiri yang kini memang sedang makan buah-buahan yang sudah disediakan.
Sementara itu, Regina tampak memikirkan suatu rencana agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Ia sendiri kaget jika kini ia sedang hamil, saat pertama kali berhubungan dengan William memang mereka sedang berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
Regina ingin sekali menghubungi William dan memberitahukan tentang kehamilannya, tetapi justru ia takut masalah akan semakin besar. Ia hanya yakin, William akan berkembang pada suatu hari nanti, jika William sudah kuat maka ia sendiri yang akan mencarinya.
Sementara di Kota NY, di kantor tempat William magang sudah ramai terdengar kabar mengenai pengangkatan Diana sebagai Direktur Operasional. Kabar tersebut ramai diperbincangkan di WhatsApp grup. Rencananya Diana akan diangkat pada siang hari ini, hal tersebut sudah diputuskan pada rapat terbatas pimpinan.
William tidak mengetahui hal ini, ia bukan karyawan tetap dan ia juga tidak dimasukkan ke dalam grup perusahaan. Sementara Jasmine tidak masuk kerja, ia meminta izin dengan alasan tidak enak badan.
Saat ini Jasmine masih berada di kamar, meskipun ia merasa sangat sedih namun ia bertekad akan menjalani tiga hari terakhir bersama William. Regina sendiri tidak pernah yakin dengan janji William yang akan mengubah keadaan hanya dalam tiga hari seperti yang ia janjikan.
__ADS_1
Jasmine hanya berpikir ia sudah pasrah dan tidak memiliki harapan apapun, apalagi ia juga membaca informasi di grup WhatsApp tentang pengangkatan Diana sebagai Direktur Operasional. Jasmine sebenarnya curiga dengan kedekatan Diana dengan pamannya yang bernama Abraham Koch, hubungan keduanya yang tidak biasa karena Diana ingin menguasai perusahaan Eternal Grace.
Meskipun keluarga Howard memiliki Howard Studio's, namun Diana tidak mendapatkan dukungan untuk menjadi pimpinan di sana. Hal itu dikarenakan nama Justin Howard sudah ditentukan sebagai pewaris utama Keluarga Howard.
"Diana, selamat akhirnya kamu berhasil menduduki jabatan yang selama ini diimpikan" ucap Justin yang kini berada di ruang kerja Diana.
Sebagai adik dari Diana, Justin tentu mendukung karir Diana untuk menguasai perusahaan Eternal Grace. Bahkan ia berencana untuk menyiarkan berita pengangkatan Diana dengan heboh di tajuk utama media yang diusung oleh keluarga Howard.
"Terimakasih, kamu juga harus cepat berpikir dewasa" ucap Diana dengan datar.
"Tentu saja, aku akan mengikuti jejakmu yang cerdas" jawab Justin.
"Bagaimana dengan pacarmu? Apakah kau akan serius berhubungan dengan putri Tuan Sander?" tanya Diana.
"Tentu saja, bulan depan kami akan bertunangan" ucap Justin dengan senang.
"Baguslah jika kau sudah berhenti memainkan perasaan perempuan" ujar Diana ada sambil menyesap kopinya.
"Tok"
"Tok"
Sejenak William terkejut dengan keberadaan Justin yang sudah ia kenal. Pada saat ini, William baru teringat jika Diana dan Justin memiliki nama keluarga yang sama, yaitu Howard.
"Maaf Nona Diana, ini data produksi dalam tiga hari terakhir" ucap William dengan sopan.
Letakkan di sana! ucap Diana dengan datar.
William segera menuruti kemauan Diana, dengan cepat ia meletakkan map yang berisi berkas laporan perkembangan produksi, setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan ruangan yang masih terdapat Justin di dalamnya.
__ADS_1
"Oh iya, aku lupa ingin bertanya padamu. Apakah kau mengenal pria yang baru saja keluar?" tanya Diana kepada adiknya.
"Tidak" jawab Justin singkat.
"Dia adalah karyawan magang di tempat ini. Namanya William, berasal dari kampus yang sama denganmu" ucap Diana.
"Apa? William" tanya Justin dengan tidak percaya.
Dalam ingatannya, William adalah pemuda culun yang tidak memiliki masa depan. Bahkan beberapa bulan yang lalu mereka sempat berdebat di halaman kediaman Catherina.
"Ini data Informasinya" ucap Diana sambil menyodorkan map berwarna biru.
Justin membuka map tersebut, namun alangkah kagetnya jika pria yang baru saja disebutkan oleh kakaknya adalah William yang sama yang pernah ia kenal.
"Bagaimana bisa ia berubah seperti itu" ujar Justin dengan heran.
"Jadi kau mengenalnya?" tanya Diana sambil mengernyitkan alis.
"Tentu saja, ia adalah mahasiswa penerima beasiswa di kampusku. Namun ia juga pria terbodoh yang pernah dimanfaatkan oleh Catherina selama empat tahun lebih" ucap Justin sambil mencibir.
"Menarik juga" ucap Diana sambil menggerakkan jarinya di atas meja kerja.
Mulanya Diana tidak terusik dengan kedatangan William, namun ketika William dekat dengan Jasmine persepsinya langsung berubah. Bagi Diana, Jasmine adalah musuh abadi. Jadi siapapun yang menjadi teman Jasmine maka akan menjadi musuhnya.
"Tampaknya aku kini memiliki kesempatan untuk menindasnya" ujar Justin dengan senyum jahat.
"Tunggulah sampai aku sudah menjadi Direktur, saat ini ia sedang dekat dengan Jasmine Koch. Aku khawatir wanita itu akan menimbulkan masalah" ucap Diana dengan serius.
"Hahaha.. Aku tidak menyangka jika pria miskin itu bisa mengenal Jasmine" ucap Justin dengan nada merendahkan.
__ADS_1
Di sisi lain William yang sudah kembali melanjutkan pekerjaannya, kini baru mengetahui jika Diana akan diangkat menjadi Direktur Operasional. Berita tersebut cukup santer terdengar dari mulut ke mulut, mereka membicarakan Diana Howard penuh pujian.
William yang mendengarnya tidak bereaksi apapun, ia dan Diana selama ini tidak memiliki kesan yang khusus. Selain sebagai penanggung jawab pekerjaan William, Diana juga ia kenal sebagai wanita yang dingin dan tidak mudah diajak bicara.