Ku Tulis Namamu Di Hati

Ku Tulis Namamu Di Hati
Tiga Hari Saja


__ADS_3

"Kalau aku boleh tahu, hal apa yang membuat kamu nekat berbuat demikian" tanya William dengan serius.


Jasmine terdiam, memandang ke arah William lalu berkata kembali.


"Apakah kau bersedia menjaga rahasia ini?"


"Aku berjanji akan menjaga masalahmu" ucap William.


"Huh"


Jasmine menarik napas panjang, lalu mulai bercerita.


"Masalah ini bermula dari hutang perusahaan yang tidak diketahui uangnya lari kemana, serta adanya investasi besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan namun tidak jelas hasilnya. Setelah diselidiki ternyata pamanku yang berada di balik itu semua, sayangnya kami tidak memiliki bukti yang kuat untuk menangkapnya. Tetapi efek dari perbuatannya, ayahku harus berhutang untuk menyehatkan perusahaan. Namun hingga kini hutang tersebut belum terlunasi, jika dibiarkan maka perusahaan Eternal Grace yang merupakan warisan keluarga akan berpindah tangan. Ayahku berencana menikahkan aku dengan sahabatnya demi melunasi hutang, namun aku menolaknya dengan keras. Oleh sebab itu aku mati-matian mengumpulkan uang demi berinvestasi agar bisa melunasi hutang tersebut"


Mendengar pengakuan Jasmine, William terdiam. Dengan refleks ia mengusap kepala Jasmine dengan lembut sebagai bentuk empati. Namun Jasmine yang sedang rapuh menganggap perhatian tersebut sebagai bentuk perhatian yang lain.


"Malam ini kamu di sini jangan tinggalkan aku" pinta Jasmine sambil memeluk William dengan erat.


William terkejut melihat sikap Jasmine yang kini sedang memeluknya, ingin ia melepaskan pelukan tersebut namun ia takut jika Jasmine akan terluka.


"Memangnya berapa hutang yang harus keluargamu lunasi?" ucap William yang akhirnya mulai peduli dengan permasalahan Jasmine.


Mendengar pertanyaan William, Jasmine hanya tersenyum canggung. Meskipun ia memberi tahunya, William juga tidak akan bisa membantu.


Kendati demikian Jasmine bukanlah tipe orang yang meremehkan orang lain, bagaimanapun ia mengapresiasi kepedulian William terhadap masalahnya.


"90 Milliar Dollar" ucap Jasmine singkat.


"Berikan aku waktu tiga hari. Selama waktu itu, aku minta kamu tidak melakukan hal yang nekat" ucap William dengan serius.


"Apa?" ucap Jasmine yang tersentak kaget.


Dalam sekejap pelukannya terlepas begitu saja, ia menatap William dengan penuh rasa tidak percaya. Mulanya ia berpikir jika William hanya akan bersimpati, namun kini William malah menantangnya dalam waktu tiga hari.

__ADS_1


"Iya tiga hari saja, aku akan melunasi hutang keluargamu. Aku juga akan berinvestasi di perusahaan keluargamu" kata William dengan sungguh-sungguh.


"Ka.. Kamu tidak sedang membual kan?" tanya Jasmine dengan ekspresi rumit.


"Tentu saja tidak, kamu hanya perlu menunggu" ucap William.


"Baiklah, meskipun kau hanya berkata untuk sekedar menghiburku, aku tidak akan keberatan" jawab Jasmine dengan tatapan kosongnya.


"Sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Kamu sepertinya kurang istirahat" ucap William mengalihkan perhatian Jasmine.


"Iya" jawab Jasmine sambil mengangguk ringan.


Lalu Jasmine kembali memeluk tubuh William dan berada dalam selimut yang sama. Kali ini William benar-benar berada di posisi rumit, namun ia juga tidak mau memanfaatkan kondisi seperti ini dan memanfaatkan Jasmine.


"Apakah kau masih lelaki normal?" tanya Jasmine.


"Apa maksudmu?" tanya William bingung.


"Kamu sepertinya tidak tertarik dengan wanita. Meski sudah sedekat ini kau sama sekali tidak berbuat lebih jauh" ujar Jasmine.


Belum selesai William mengakhiri kata-katanya, Jasmine langsung bergerak menindih tubuhnya dan mencium bibir William dengan mesra.


Mendapati serangan seperti ini, kelelakian William tentu saja tidak dapat menahannya. William yang mulanya terdiam karena keagresifan Jasmine, kini mulai mengimbangi permainan yang baru saja dilakukan oleh Jasmine.


Dalam sekejap mereka sudah berada dalam posisi tanpa busana dan memacu birahi dengan penuh gairah. Meskipun keduanya pernah melakukan dengan pasangan masing-masing sebelumnya, namun permainan percintaan mereka berjalan dengan panas dan liar.


William yang dalam kondisi fitnya, bergerak bebas di atas tubuh Jasmine yang kini sudah mulai menemukan semangatnya. Keduanya menghabisi malam bersama dan kemudian terkulai dalam pelukan kemesraan hingga mereka tertidur bersama.


Sementara itu, tanpa William ketahui kini Regina yang ia cintai tengah berada dalam kondisi dirawat oleh dokter pribadi keluarga mereka. Regina berada dalam kondisi yang lemah setelah ia tidak makan selama dua hari, ia ditemukan tidak sadarkan diri oleh keluarganya di dalam kamar.


"Regina, kenapa kau seperti ini?" tanya ibunya yang kini melihat Regina yang sedang diinfus di dalam kamarnya.


"Kalian terlalu kejam sudah memisahkan kami". ucap Regina penuh emosi.

__ADS_1


"Ayahmu tidak mau kamu berpacaran dengan orang yang tidak memiliki latar belakang serta masa depan" ucap ibunya memberi penjelasan.


"Aku lebih baik mati jika harus dipisahkan dari William" ucap Regina dengan tatapan dingin ke arah ibunya.


Melihat kerasnya sikap Regina, ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak dapat mencegah sikap keras suaminya yang sudah tegas dalam memutuskan sesuatu.


"Nyonya, izinkan saya berbicara berdua dengan Nona Diana" ucap dokter pribadi mereka sesaat sebelum pulang.


"Baiklah silahkan" jawab Nyonya Mars.


Setelah ibu Regina pergi, dokter keluarga tersebut memandang Regina dengan penuh rasa iba. Sebagai dokter pribadi keluarga Mars, ia tentu tahu jika sikap keras Alex Mars tidak dapat ditentang oleh siapapun.


"Nona, apakah anda sudah beberapa bulan ini tidak datang bulan?" tanya dokter keluarga tersebut dengan serius.


Regina yang semula cuek, tiba-tiba ia tersadar.


"Sudah dua bulan ini aku tidak datang bulan" ucap Regina dengan pelan.


"Sebenarnya kondisi Nona berhubungan dengan hal itu, fisik Nona terlalu lemah saat ini. Oleh karena itu aku sarankan agar Nona bisa menjaga diri dengan makan makanan yang bergizi" jawab Alfred memberi saran.


"Apakah aku hamil?" tanya Regina dengan ekspresi kaget.


"Berdasarkan hasil diagnosa yang aku lakukan sepertinya demikian" jawab Alfred dengan jujur.


Mendengar pengakuan dokter yang sudah mengabdi kepada keluarga Mars selama puluhan tahun itu membuat Regina syok. Antara sedih dan bahagia kini bercampur menjadi satu.


Ia sedih jika kehamilannya diketahui oleh keluarganya maka William akan dalam bahaya serta anak dalam kandungannya bisa saja digugurkan, hal ini tentu saja bukan masalah yang bisa dihadapi dengan mudah.


Sedangkan ia merasa bahagia karena buah cintanya dengan William telah hadir, ia yang semula ingin bunuh diri kini memiliki semangat baru untuk hidup lebih lama.


"Tuan Alfred, apakah keluargaku sudah tahu tentang kehamilanku?" tanya Regina dengan hati-hati.


"Belum, aku awalnya ingin beritahu mereka. Tetapi mendengar ucapan ibumu barusan aku menjadi ragu. Walau bagaimanapun aku adalah dokter yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan" jawab dokter Alfred.

__ADS_1


"Terimakasih dokter, aku mohon jangan beritahu keluargaku" ucap Regina dengan nada memohon.


__ADS_2