Ku Tulis Namamu Di Hati

Ku Tulis Namamu Di Hati
Rencana Jahat Diana Howard


__ADS_3

Jasmine dengan santai berboncengan dengan William, sebagai pasangan muda kini mereka sedang menjalani masa-masa berpacaran.


Di sisi lain, Diana memandang penuh benci ke arah mereka berdua hingga bayangan keduanya pergi meninggalkan perusahaan.


"Jasmine.. Tunggu saja, aku akan membalas semua yang terjadi hari ini" gumam Diana dengan tatapan penuh kebencian.


Detik berikutnya, Diana menelepon seseorang.


"Halo.. Kukira kamu sudah melupakan diriku" ujar seseorang di ujung telepon.


"Sudah lah aku sedang malas berbasa-basi, temui aku di tempat biasa" ucap Diana dengan nada serius.


"Baiklah" jawab pria itu singkat.


Orang yang baru saja ditelepon oleh Diana adalah Benjamin, seorang pria yang biasa mengerjakan pekerjaan kotor.


Di Kota NY nama Benjamin dikenal sebagai bagian dari dunia bawah tanah. Sebagai pemimpin salah satu kelompok gangster, Benjamin cukup diperhitungkan karena kebengisan serta kekejamannya. Mendengar namanya saja membuat orang-orang ketakutan serta tertekan.


Sementara itu William terus memacu roda besinya membelah jalan Kota NY, seperti kota yang tak pernah mati Kota NY memiliki pesona tersendiri sebagai kota metropolis.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka berdua tiba di restoran yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Sebuah restoran yang berada di hotel tempat William dan Jasmine menginap pertama kali.


"Sayang, sepertinya kamu harus memiliki asisten pribadi" ujar William saat mereka tiba di dalam restoran.


"Sepertinya demikian, aku sedang memikirkan seseorang yang bisa aku percaya" sahut Jasmine membenarkan perkataan William.


"Sebaiknya orang yang sudah kau kenal saja" ucap William.


"Baiklah, besok akan aku pertimbangkan lebih mendalam"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut Jasmine lalu memesan beberapa menu makanan, mereka datang lebih awal ketimbang Hana. William jelas ingin bersenang-senang dahulu dengan kekasihnya, meskipun di hatinya ada Regina tetapi rasa tanggungjawabnya kepada Jasmine tidak bisa diabaikan begitu saja.


Setelah makanan tiba, mereka tampak saling menyuapi satu sama lain. Kedekatan keduanya mulai mereka pupuk untuk saling mendekatkan diri dan saling menumbuhkan perasaan masing-masing.


Saat ini antara William dan Jasmine memang sudah dekat, hanya saja keduanya mengakui jika kebersamaan mereka memang terjadi karena kebetulan serta mengisi kekosongan saat jiwa mereka sedang dilanda masalah.


Oleh karena hal itu juga, Jasmine tidak memperkarakan keberadaan Regina seperti yang pernah William ceritakan. Jasmine tidak akan pernah mengklaim William seutuhnya, baginya William adalah anugerah terindah yang sudah dikirimkan oleh Tuhan untuk keluarga Koch.


Hal ini tentu saja tidak berlebihan, kebangkitan keluarga Koch saat ini adalah berkat William. Sosok yang tidak mau dikenal banyak orang, sosok yang memilih menjadi menantu matrilokal.


Kendati demikian Jasmine dan William tetap harus mempertanggungjawabkan sikap mereka yang telah melibatkan banyak pihak. Mereka tentu saja tidak bisa menganggap pernikahan yang sakral sebagai ajang permainan.


Setelah menikmati makanan ringan, William tampak sedang mengkalkulasi uang yang akan digunakannya untuk membeli aset. Dulu ia bingung untuk mencari uang, namun kini ia bingung untuk membelanjakan uang miliknya.


"Selamat sore Tuan William dan Nona Jasmine" tampak Hana terlihat dengan setelan blouse berwarna biru.


"Selamat sore Nona Hana, silahkan duduk" sapa William dengan santai.


"Tidak.. Kita belum berada pada waktu yang sudah kita sepakati sebelumnya. Kebetulan kami keluar kantor lebih awal" kata William dengan ekspresi tenang.


"Oiya, apakah anda sudah mempersiapkan beberapa properti yang aku minta sebelumnya?" sambung William.


"Sudah.. Saya sudah menyiapkan beberapa alternatif" jawab Hana sambil membuka tas kerjanya.


Dengan hati-hati Hana membuka beberapa dokumen yang berisikan data-data sejumlah properti, ia juga menyiapkan beberapa gambar dari masing-masing properti yang ia promosikan.


Sambil menunggu pesanan Hana, William dan Jasmine tampak serius memperhatikan beberapa mansion serta bangunan apartemen. Namun dari daftar yang ditawarkan, semuanya terlihat menarik membuat William antusias ingin memilikinya.


William berencana memindahkan orang tua angkatnya ke sebuah mansion di pusat Kota NY. William akan berdalih jika semuanya adalah pemberian dari Jasmine, selain untuk membalas Budi William juga tidak mau identitasnya terungkap.

__ADS_1


Apalagi Katy, ibu angkatnya terkenal dengan wanita yang materialistis. Selama William bersekolah hingga kuliah, hanya ayah angkatnya yang peduli dengan keadaan William.


Oleh karena itu, William ingin menyenangkan ayah angkatnya tersebut dengan memberikan tempat tinggal yang layak serta penghidupan yang lebih baik. David sudah dianggap seperti orang tua kandung sendiri, meski William tidak pernah mengetahui orang tua aslinya.


Pada saat ini, ada dua buah mansion yang berharga masing-masing 350 Juta Dollar serta sebuah apartemen mewah dengan harga 1,5 Miliar Dollar. William perlu merogoh koceknya sebanyak 2,2 Miliar Dollar, jumlah tersebut tidaklah seberapa bagi William saat ini.


"Apakah bangunan ini bersebelahan?" tanya William dengan tatapan serius.


Menurut William sangat sulit mencari tempat tinggal yang saling sebelahan seperti itu.


"Betul Tuan, apakah ada masalah?" tanya Hana dengan sedikit khawatir.


"Tidak, justru saya menyukainya" ucap William.


Jasmine hanya memperhatikan dengan serius dari sebelahnya, mansion yang diminati oleh William memang terlihat bagus dan mewah. Hampir sama dengan rumah yang saat ini ditinggali oleh keluarga Jasmine.


"Apakah Tuan tidak keberatan dengan harganya? Saya akan memberikan pengurangan harga sebesar 5% saja karena penjual tersebut sedang butuh uang cepat" ujar Hana.


"Saya akan membeli semuanya tanpa potongan harga, meski demikian saya sudah menganggap setiap potongan penawaran harga adalah sebagai komisi yang anda terima. Bagaimana?" ujar William dengan ekspresi santai.


"Benarkah Tuan?" ucap Hana dengan terkejut.


Membayangkan komisi dari tiga unit penjualan yang akan dia terima, tentu ini adalah keuntungan yang tidak terkira. Apalagi lagi harga bangunan apartemen, ia memiliki keuntungan sangat besar.


Adapun di pihak William, ia merasa pembelian dengan harga tersebut juga dinilai wajar. Bahkan di pasaran harga tersebut masih tergolong murah, William benar-benar puas dengan cara bisnis Hama yang tidak serakah dalam mengejar keuntungan.


"Sayang, bukankah kita sudah ada apartemen?" ucap Jasmine yang beranggapan jika apartemen yang ia miliki juga sebagai kepunyaan William.


"Apartemen yang baru saja kita beli akan digabungkan dengan milikmu sebelumnya. Semuanya akan disewakan saja, supaya kita juga tetap memiliki aset" ucap William.

__ADS_1


Apartemen Jasmine sebelumnya terdiri dari dua puluh lantai dan merupakan apartemen mewah yang sudah ia sewakan di bawah manajemen pengelolaan. Oleh sebab itu, ia sangat sakit ketika ia gagal dalam bermain saham, karena ia telah mengorbankan aset investasinya yang ia dapatkan dalam bentuk bangunan apartemen.


kini William telah membeli apartemen, letaknya juga tidak jauh dari milik Jasmine. Dengan kepemilikan aset tersebut, William tidak akan khawatir Jasmine akan kekurangan uang di masa depan.


__ADS_2