
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ayah Regina setuju untuk membiarkan Regina berlibur ke Jepang. Alex Mars berpikir jika keputusan Regina untuk pergi berlibur adalah untuk melupakan William.
"Ayahmu tidak keberatan, kapan kau akan berangkat? Biar ibu yang memesan tiket pesawatnya" ujar ibunya Regina.
"Besok aku akan pergi" jawab Regina dengan ekspresi senang.
Regina telah menyusun rencana tentang sandiwaranya, pergi berlibur ke Jepang hanyalah alasannya saja biar ia bisa pergi dari rumah. Selama beberapa tahun ia akan pergi, ketika William sudah berhasil baru ia akan mengungkapkan semuanya, menurutnya hanya William sudah menjadi bisa diandalkan barulah ia bisa menghadapi keluarganya.
"Baiklah jika begitu" ucap ibunya sambil berlalu pergi dari dalam kamar Regina.
"Wil, maafkan aku. Suatu hari aku akan kembali, aku juga tidak akan pernah menyalahkan kamu andai kelak kau akan salah paham kepada diriku" gumam Regina pelan.
William tentu saja tidak tahu kondisi yang dialami oleh Regina saat ini. Ia sedang fokus membesarkan dirinya agar bisa membuat cita-citanya tercapai.
Adapun Jasmine, ia akan menjelaskannya nanti. Ada beberapa hal yang tidak mudah dijelaskan namun harus ia jalani pada saat ini. Untungnya Jasmine adalah wanita baik, ia bisa menerima keadaan dirinya yang sudah memiliki Regina.
Di kantor Eternal Grace, penunjukan Jasmine menjadi Presiden Direktur sekaligus CEO tidak ada yang bisa menghalanginya. Diana dan Abraham hanya tertunduk pasrah menerima keadaan, bahkan Diana berniat untuk meninggalkan perusahaan Eternal Grace karena kejengkelannya.
Selain itu kabar tentang rencana pernikahan Jasmine dan William juga sudah diberitahukan oleh ayahnya Jasmine secara resmi saat penutupan rapat pemegang saham.
"Wil, terimakasih" ucap Jasmine saat mereka sedang berdua di ruang kerja Jasmine yang baru.
"Sama-sama.." jawab William sambil menatap Jasmine dengan lembut.
"Mulai besok kamu akan bekerja di dekatku. Tepat di sebelah ruangan ku adalah ruangan di mana kamu bekerja" ujar Jasmine sambil tersenyum.
"Baiklah Bu Presiden Direktur" jawab William.
Setelah pengangkatan Jasmine sebagai Presiden Direktur, hal pertama yang dilakukannya adalah mengangkat kembali William sebagai karyawan magang. Namun ia memiliki perjanjian kerja tersendiri yang mengatur hak dan kewajibannya.
"Oiya.. Sore ini aku ada janji dengan Hana, apakah kamu mau ikut menemani?" tanya William selanjutnya.
"Hana?" tanya Jasmine sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Wanita yang kemarin membantuku membeli apartemen mu kembali" jelas William.
"Aku akan menemanimu" ujar Jasmine kemudian.
"Bolehkah aku meminjam komputer mu?" William tampak memperhatikan jam tangannya, ia melihat hari belum terlalu sore.
"Semua yang ada di sini adalah milikmu juga" ujar Jasmine sambil menarik tangan William ke tempat duduknya.
William kemudian mengoperasikan komputer yang akan menjadi Komputer kerja Jasmine, sebagai ahli komputer ia sengaja menanamkan sebuah program untuk menghindari peretasan. Selain itu ia juga berencana membuka aplikasi saham yang sebentar lagi akan tutup, dalam sekejap ia mengakses sebuah perusahaan yang sudah ia incar sebelumnya.
Tanpa ragu, William segera menginvestasikan 500 Milliar pada sebuah perusahaan yang sedang anjlok nilainya. Sementara Jasmine hanya tersenyum bahagia melihat aktivitas yang William lakukan, bakatnya dalam bermain saham sangat luar biasa.
"Aku akan membuatkan kopi untukmu" ujar Jasmine.
William hanya mengangguk pelan, karena ia sedang serius memainkan jari-jarinya di atas keyboard.
Uang yang dimiliki oleh William kini tinggal 300 Miliar, ia berencana untuk mengaktifkan perusahaan yang sebelumnya pernah dibeli oleh Jasmine yang menyebabkannya rugi.
"Lupakanlah" ujar Jasmine dengan nada malas.
Jasmine tentu merasa sakit kepala jika mengingat uangnya yang berjumlah 2 Milliar berubah menjadi 13,3 Juta Dollar dalam sekejap.
"Aku akan mengakuisisi perusahaan tersebut, rencananya akan ku jadikan mitra dari perusahaan Eternal Grace" ungkap William.
"Bagaimana caranya?" tanya Jasmine yang sedikit bingung.
"Tentu saja kita harus memiliki saham tersebut secara menyeluruh, lalu menyuntikkan modal dan melakukan perombakan besar-besaran" ucap William sambil membuka kembali data perusahaan yang hampir dinyatakan bangkrut tersebut.
William memperkirakan harga perusahaan tersebut berkisar di harga 20 Milliar, ditambah biaya untuk penyehatan perusahaan dibutuhkan sekitar 200 Milliar untuk kembali normal.
Hal lain yang perlu William lakukan adalah dukungan dari perusahaan Eternal Grace yang bergerak di bidang manufaktur. Hal ini sejalan dengan perusahaan yang Jasmine investasikan.
Detik selanjutnya William langsung mengklik pembelian saham dari perusahaan tersebut, 20 Milliar Dollar segera dihabiskan William untuk menjadi pemilik 95% saham, sementara 5% nya adalah saham yang dimiliki oleh Jasmine sebelumnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya" ujar Jasmine dengan tatapan kagum.
"Ini semua belum seberapa, aku ingin membuat perusahaan sendiri beberapa waktu ke depan. Setidaknya aku ingin membuat keturunan ku merasa bangga suatu hari nanti" ucap William dengan serius.
"Hahaha.. Seluruh anak kita akan bermarga Koch, jika kamu tetap memilih menjadi menantu menumpang" ujar Jasmine dengan santai.
"Tidak masalah" jawab William.
"Apakah kamu tidak memikirkan wanita mu yang lain?" ucap Jasmine.
William terdiam sejenak, ia mengingat Regina pada saat ini. Ada rasa bersalah yang ia rasakan saat ini.
"Apakah kamu tidak sebaiknya mencari Regina? Mengingat kondisimu sudah lebih baik saat ini" ujar Jasmine dengan ekspresi serius.
"Sebenarnya aku sangat ingin menemuinya, namun hal itu akan percuma karena aku masih belum terlalu kuat" kilah William dengan tak berdaya.
"Aku akan mendukung mu, suatu saat jika kau butuh penjelasan di depannya maka aku akan berada di sampingmu" tegas Jasmine.
William merasakan kehangatan saat mendengar kata-kata Jasmine. Saat ini ia hanya berpikir untuk menjadi lebih baik lagi, tekadnya untuk menjadi yang terbaik sudah tidak terbendung.
Ia akan menunjukkan pada dunia jika ia mampu berdiri di atas kaki sendiri serta membungkam orang-orang yang sebelumnya telah merendahkannya.
"Sepertinya sudah waktunya kita berangkat" ujar William yang teringat janjinya dengan Hana.
Sebelumnya William sudah menghubungi Hana untuk memajukan pertemuan mereka, pada sore menjelang malam, William akan mengunjungi ayah angkatnya bersama Jasmine.
Jasmine dan William berjalan berdampingan, meskipun tidak bergandengan tangan namun keduanya terlihat begitu mesra. Kabar tentang rencana pernikahan keduanya sudah tersebar luas di Kantor Eternal Grace.
"Orang yang beruntung" gumam beberapa orang karyawan yang melihat William.
Di perusahaan Eternal Grace kini ada dua berita yang cukup heboh. Para karyawan baru saja mengetahui tentang pengangkatan Jasmine sebagai Presiden Direktur, namun mereka tidak menyangka jika Jasmine ternyata memiliki hubungan dengan William yang hanya orang biasa.
William dengan santai berjalan menuju parkiran, ia masih menggunakan sepeda motornya untuk membonceng Jasmine menuju restoran tempat di mana kemarin mereka bertransaksi.
__ADS_1