
"Jadi kau bermimpi untuk memiliki dua wanita?" ucap Jasmine dengan sedikit kesal.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku dan Regina kini dipisahkan oleh orang tuanya, karena aku miskin jadi orang tuanya bertindak demikian" ujar William dengan santai.
"Kenapa kamu tampak tidak peduli?" tanya Jasmine dengan heran.
"Karena ini bukan yang pertama, sebelumnya juga demikian. Orang yang kucintai ternyata membohongiku dan kini memilih Justin Howard untuk menjadi pendampingnya" jawab William dengan tenang.
Namun Jasmine juga tampak tak berdaya, ia juga sudah bisa menebak jika kedua orang tuanya tentu tidak akan pernah setuju. Apalagi kondisi keluarga Koch yang tengah dililit hutang dan sudah masuk jatuh tempo.
Ayahnya Jasmine yang bernama Bill Koch tidak akan mau melepas saham perusahaan demi menutupi hutangnya, ia lebih memilih menikahkan Jasmine dengan sahabatnya guna menyelamatkan perusahaan keluarga.
Sebagai seorang anak, Jasmine merasa hak hidupnya tergadaikan. Semua cita-cita dan harapan hidupnya di masa lalu kini terampas begitu saja demi keadaan. Padahal Jasmine tidak masalah jika harus hidup susah dan mengulang semuanya dari awal.
"Apakah sebaiknya kita pergi dari Negara ini dan memulai hidup baru bersama?" ucap Jasmine mencetuskan ide.
"Hahaha.. Apakah kamu sudah yakin mau bersamaku? Pikirkan lagi, aku bukanlah apa-apa" ujar William sambil tertawa ringan.
Sebenarnya Jasmine berusia dua tahun lebih tua dari William, namun paras cantik Jasmine tidak menandakan hal demikian.
"Aku akan hidup bersamamu di manapun dan dalam keadaan apapun" ucap Jasmine dengan sungguh-sungguh.
William terdiam, ia terharu dengan ucapan Jasmine. Sangat jarang wanita, yang mau menerima laki-laki saat ia sedang terpuruk. Apalagi di mata Jasmine ia adalah orang yang baru saja gagal, statusnya yang hanya karyawan magang berakhir begitu saja.
"Sebenarnya apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu, padahal aku tidak memiliki apa-apa?" tanya William dengan ekspresi serius.
"Kamu memiliki harapan, kamu memiliki semangat, jadi aku yakin kalau kamu hanya butuh waktu saja untuk tumbuh" ucap Jasmine.
Saat ini, hari sudah sore namun William kali ini tidak melakukan olahraga seperti biasanya. Perbincangannya dengan Jasmine menentukan banyak hal, namun William sangat puas pada sikap Jasmine.
__ADS_1
William ingat jam 7 malam ini ada janji di restoran Hotel tempatnya menginap, mulanya ia ingin memberikan kejutan kepada Jasmine namun melihat ketulusan hatinya William memiliki rencana lain.
William meletakkan kepalanya tepat di pangkuan Jasmine, sambil merasakan wangi tubuhnya William lalu memegang tangan Jasmine dan meletakkannya di wajah William.
"Aku tidak mengira akan bisa seperti ini denganmu, padahal aku saat ini sedang dalam masa bingung memikirkan kekasihku yang tiada kabar. Entahlah apakah aku ini masih pria baik-baik dan layak untukmu. Namun aku juga merasa sangat beruntung, kisah hidupku bisa menemukan kalian. Kalian sama-sama hadir dalam situasi terpuruk, namun aku merasa bersalah karena menutupi kebenaran" ungkap William dengan sungguh-sungguh.
"Maksudnya bagaimana? Aku tidak mengerti" ucap Jasmine dengan heran.
"Sebenarnya saat ini aku memiliki banyak uang dari hasil penjualan saham. Semua uangku berkembang dalam beberapa bulan terakhir dan kini aku sudah bisa dianggap sebagai seorang Milyuner" ucap William tampak serius.
Mendengar ucapan William, Jasmine hendak tertawa namun ia menahannya karena tidak mau menyinggung perasaan William.
"Kamu pasti tidak percaya, namun aku sudah membulatkan tekad untuk tidak menyembunyikannya darimu. Aku tidak mau kejadian tentang Regina akan terulang kembali" ucap William sambil bangkit dari pangkuan Jasmine.
"Jam 7 malam ini aku akan bertemu dengan seseorang yang mungkin kamu mengenalnya. Aku sengaja mengajakmu bukan karena ingin pamer atau menyombongkan diri, namun aku melakukan ini karena aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai" ucap William dengan ekspresi serius.
'Tentu saja tidak, mulai sekarang dan seterusnya kamu adalah ratuku. Kamu yang akan mengatur semua keuanganku, namun aku hanya minta satu hal padamu" ucap William.
"Apa itu?" tanya Jasmine yang sudah mulai terbawa suasana pembicaraan William.
"Aku hanya mau berleha-leha sementara kamu yang akan bekerja keras" ucap William sambil tersenyum konyol.
"Dasar tidak tahu malu. Mandi sana.." ucap Jasmine sambil mendorong tubuh William.
Namun William justru menarik tangan Jasmine ke kamar mandi, menyeretnya lalu mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di atas bathtub.
"Aku sudah mandi" teriak Jasmine sambil mencoba bangkit.
Namun ia tidak kuasa menahan tubuh William yang kini sudah mulai menindihnya dan mencumbunya dengan lembut.
__ADS_1
Di bawah pancuran air, mereka kembali bercinta bersama di dalam kamar mandi. Jasmine merasakan sensasi yang berbeda saat William menyentuhnya dengan pelan, dalam sekejap ia bisa melupakan semua permasalahan yang tengah menghimpitnya.
Hampir satu jam mereka melampiaskan gelora jiwa muda, setelah selesai mereka segera mandi bersama dan saling menggosok punggung masing-masing.
William dan Jasmine berada dalam suasana yang sangat bahagia, mereka menikmati hubungan yang baru saja terjalin dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, William segera mengajak Jasmine agar bersiap-siap ke lantai lobby untuk makan malam di restoran.
Setelah memeriksa handphonenya, semua sudah dijadwalkan seperti yang tadi ia janjikan dengan agen penjualan. William akan bertemu dengan pemilik apartemen untuk membelinya kembali.
"Wil, apakah tidak apa-apa jika orang melihat kita berdua di hotel ini?" tanya Jasmine.
"Tidak masalah, cepat atau lambat aku juga akan menikahi mu" jawab William dengan santai.
"Kamu kalau bicara seperti tidak ada takutnya" ucap Jasmine sambil mencubit pinggang William.
"Aku ingin orang-orang berpikiran jika aku hidup darimu, seperti yang ada dalam pikiran Justin dan Diana saat ini" ucap William dengan tenang.
Tidak lama kemudian mereka berdua tiba di sebuah restoran yang sangat mewah, bagi William ini adalah yang pertama kalinya. Namun Jasmine terlihat biasa saja dengan pembawaannya yang santai.
William memesan sebuah ruangan privasi untuk kapasitas sepuluh orang. Sebelumnya William sudah diinformasikan jika akan ada beberapa orang yang hadir untuk transaksi yang akan disepakati. William selanjutnya mengirimkan pesan kepada agen penjualan yang bernama Hana, pesan itu berisi tentang nomor ruangan tempat di mana mereka akan bertemu.
"Wil, apakah ini tidak berlebihan?" ucap Jasmine dengan keheranan.
"Sepertinya tidak" jawab William saat mereka tiba di dalam sebuah ruang privasi.
Jasmine tampak heran, sikapnya yang semula santai kini ia merasa tidak tenang. Berbagai hal berkecamuk di dalam pikirannya, ia tidak bisa membayangkan jika perkataan William sebelumnya akan terbukti.
Baru saja mereka duduk, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Beberapa orang wanita dan seorang lelaki paruh baya dengan membawa tas kantor masuk ke dalam dan menghampiri mereka.
__ADS_1