
NOVI
❤❤❤❤❤❤
Sepanjang jalan Gilang asyik dengan senyumannya sendiri, sepertinya Gilang sangat menikmati kejadian sebelum dia meninggalkan Claudia tadi. Gilang sangat ingat bagaimana warna pipi Claudia yang berubah menjadi merona. Jujur, mendapati pipi indah Claudia merona tadi, sebenarnya Gilang sangat ingin membelainya. Apakah akan semakin merona kalau ku belai pipi mu Claw? Seperti apa rasanya saat tangan ku menyentuh pipi mulus mu? Gilang mencoba berspekulasi dengan hatinya sendiri.
Lalu lintas menuju jalan Hatta cukup ramai, Gilang hanya mampu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lima puluh sampai enam puluh kilometer perjam. Mungkin perjalanannya ini cukup lama, tetapi karena suasana hatinya yang sedang senang, Gilang justru menikmati semuanya. Saat setir kemudi akan dibelokkan Gilang diperempatan berikutnya, tiba-tiba nada dering handphonenya berbunyi. Novi, gawat aku benar-benar melupakan Novi. Gilang segera mengangkat teleponnya.
"Hai sayang". Suara Gilang setelah mengeser tombol jawab dihandphonenya.
"SAYANG, SAYANG..aku kira kamu sudah lupa sama aku?" Suara marah Novi di ujung telepon.
__ADS_1
"Hei, kenapa marah, ayolah sayang. Kamu kok seperti itu sama aku?" Gilang mencoba meredakan amarah Novi. Sebenarnya Gilang sangat tahu kenapa suara Novi cukup keras di ujung telepon. Ya, dia bisa memakluminya kalau Novi mungkin marah padanya. Bagaimana tidak, pagi ini Gilang sukses melupakan Novi. Dia benar-benar mengesampingkan Novi dan lebih mengutamankan mengantar Claudia. Entah kenapa Gilang bisa senekat itu. Tetapi hatinya sangat senang bisa berduaan bersama Claudia. baiklah, sementara lupakan dulu Claudia, fokus ke Novi dulu. Kalau nih cewek ngambek bisa puasa aku dibuatnya. Gilang membayangkan kalau sampai dia gagal membujuk Novi agar tidak marah lagi padanya akan berdampak buruk, dipastikan tidak ada servis bibir lembut Novi pada adik kesayangannya yang berada tepat di bawah pingangnya. Gilang mencoba mencari cara untuk membujuk sang kekasih yang baru beberapa bulan ini dipacarinya.
"Ya wajar dong aku marah, kamu itu pacar apaan coba. Jelas-jelas kamu tuh sudah janji sama aku buat antar aku ke dokter pagi ini. Kenyataannya apa? Jangan bilang kamu mendadak amnesia!" Sepertinya Novi memang benar-benar marah pada Gilang.
"Sayang, kamu kalau marah benar-benar buat aku jadi pengen deh". Gilang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kan benar, gawat nih. Gilang mulai khawatir. "Sayang, kamu gak boleh marah-marah. Kamu kan lagi kurang enak badan, nanti malah tambah sakit loh. Sayang kamu dengar dulu penjelasan aku, aku tuh bukan lupa sama janji aku buat bawa kamu ke dokter. Aku tadi itu ada rapat mendadak sama Papa tentang perusahaan yang di Bandung, jadinya aku terpaksa deh gak jadi temenin kamu". Gilang mencoba menjelaskan.
"Aku nggak percaya". Novi tetap merasa tidak puas dengan penjelasan Gilang.
__ADS_1
"Loh kok gak percaya, sayang ini beneran. Papa sendiri yang telepon aku mendadak tadi, padahal aku itu tadi sudah jalan ke rumah kamu. Ya mana mungkin dong aku berani bantah Papa". Gilang kembali mencoba menyakinkan Novi.
"Trus, di mana kamu sekarang?" Sepertinya rasa kesal Novi mulai mereda. Novi mulai termakan perkataan Gilang, dia yakin kalau bukan karena alasan yang sangat penting Gilang tidak mungkin melupakan janjinya. Novi sangat yakin kalau dia telah membuat Gilang bertekuk lutut padanya. Dan benar saja, ternyata Papanya Gilang yang membuat Gilang terpaksa batal menemaninya. Jadi dia pun mulai menormalkan lagi nada suaranya.
Gilang tahu, kalau dia sudah sukses melunakkan hati Novi kembali. Untung saja gak susah menyakinkannya.
"Aku lagi jalan ke rumah mu, paling kurang dari sepuluh menit aku sampai". Gilang menjelaskan posisnya sekarang.
"Ya udah, kamu hati-hati. Aku tunggu kamu di rumah". Panggilan telepon pun dimatikan oleh Novi.
Dan benar saja, kurang dari sepuluh menit kemudian Gilang sudah berada di teras rumah Novi.
__ADS_1