
MENDENGAR DARI CELAH KECIL
❤❤❤❤❤❤
Entah sudah berapa menit dihabiskan Gilang untuk berdiskusi dengan hatinya tentang penyebab Claudia terlihat tidak begitu menyukainya, pertanyaan demi pertanyaan silih berganti meminta jawaban pada dirinya sendiri. Namun sayang, Gilang belum bisa merangkai jawaban paling tepat. Belum lagi penyebab dia yang jelas-jelas emosi mendapati kakak kandungnya memeluk Claudia. Semua seakan berputar di dalam kepalanya menuntut dia segera memberi penjelasan pada dirinya sendiri.
Matanya lurus menatap langit-langit kamarnya masih seperti posisi awal, kepalanya tetap terbaring nyaman di atas bantal di ranjang empuknya. Diam dan terus terdiam, Gilang hanya diam sambil terus berpikir. Tiba-tiba Gilang mendengar suara langkah kaki yang hampir sampai di ujung tangga paling atas menuju lantai dua, tempat kamarnya, Galih dan Claudia.
Refleks Gilang melihat ke arah jam dinding, hampir jam setengah sepuluh apa mungkin itu adalah Papa dan Mama? Tanya Gilang pada diri sendiri. Sebisa mungkin Gilang berusaha memastikan langkah kaki siapakah di luar itu. Di tunggu dan di tunggu tetapi langkah kaki yang didengarnya tadi malah terdengar berhenti di depan kamar Claudia, bukan di depan kamarnya. Jelas ini pertanda langkah kaki yang di dengarnya bukan milik orang tuanya.
Apa mungkin itu Claudia? Tetapi kenapa langkah kaki yang ku dengar lebih dari satu? Atau itu adalah Mas Galih dan Claudia?
Cepat, Gilang mengambil posisi duduk di tepi ranjangnya dan kembali berusaha mendengar suara yang mungkin dapat di tangkapnya dari luar pintu kamar. Tetapi sebaik apa pun usahanya, Gilang tetap tidak bisa mendengar suara apa pun. Akhirnya karena di dorong rasa penasaran yang teramat sangat Gilang memutuskan untuk mendengar suara yang mungkin bisa di kupingnya dari balik pintu kamarnya. Tetapi sayang, Gilang tetap tidak mendengar suara apa pun.
Apa mungkin Claudia langsung masuk kamar, Mas Galih juga begitu? Ahh, aku penasaran apa yang mereka berdua lakukan ya?
__ADS_1
Pelan, sangat pelan Gilang mencoba membuka sedikit pintu kamarnya hingga membentuk celah kecil yang bisa dijadikannya untuk mengintip dan menguping suara di luar kamarnya. Saking pelannya Gilang membuka pintu kamarnya tersebut sampai-sampai dirinya sendiri pun tidak menangkap ada bunyi berdenyit dari usahanya membuka pintu kamar.
Sukur-sukur bisa membuka sedikit celah. Eh, ternyata itu memang Claudia dan Mas Galih. Loh, itu tangan mereka kenapa bergandengan. Apa-apaan mereka?
"Terima kasih Mas, aku senang banget". Gilang mendengar ucapan tulus keluar dari mulit Claudia.
"Iya sama-sama Claw". Jawab Galih sambil melepas tangan kanannya dari genggaman tangan Claudia. Tangan kanan itu pun beralih gerak dengan memperbaiki letak rambut Claudia kebelakang telinganya dan setelah itu Gilang melihat tangan kanan Galih membelai pipi kanan Claudia.
Ahggh...kenapa sih harus belai-belai pipi Claudia segala. Apa-apaan Mas ini, itu juga Claudia malah senyam senyum.
"Masih Mas, tapi tinggal sedikit". Aku Claudia, "apa lagi Bunda belum pergi main ke tempat tadi Mas, tapi ya gimana lagi. Lagi pula Bunda kan udah janji besok-besok kalau Mas Bram udah enggak sibuk lagi bakal ke sini lihat aku. Nanti kalau Bunda dan Mas Bram ke sini, kita bawa ya Mas main ke tempat tadi, ya Mas". Pinta Claudia pada Galih.
"Tentu saja, Mas akan senang bisa membawa Bunda dan Bram berekreasi bersama kita". Ujar Galih sambil membelai lembut rambut Claudia.
__ADS_1
Kenapa Claudia begitu manja saat bersama Mas Galih? Ahgggh, lama-lama emosi ku bisa naik ke ubun-ubun kembali. Mereka itu apa-apaan sih. Kurang kerjaan apa, ngobrol sambil seperti itu. Itu juga Mas Galih, kapan mau melepaskan tangan kirinya dari Claudia.
"Ya udah, kamu istirahat lagi ya", perintah Galih pada Claudia. "Besok pagi Mas gak bisa antar kamu, tapi malam Mas bakal bawa kamu ke tempat yang sudah kita rencanakan tadi". Janji Galih pada Claudia. "Jadi besok pulang bimbel gak boleh kemana-mana, langsung pulang dan tunggu Mas di rumah".
"Iya Mas, siap laksanakan". Ujar Claudia sambil meniru gerakan orang memberi hormat.
Galih tertawa melihat ulah Claudia, "selamat tidur Claw". Ucapan perpisahaan Galih pada Claudia sebelum berjalan menuju kamar tidurnya sendiri di sebelah kamar Gilang.
Akhirnya, mereka berpisah juga. Tapi sejak kapan ya mereka bergandengan. Apa mungkin sejak dari bandara tadi? Apa iya begituh. Itu tadi janjian apa ya? Mau kemana mereka besok?
Setelah merasa kalau Galih sudah menutup pintu kamarnya dan masuk semakin jauh ke dalam kamarnya, Gilang pun mengendap-endap berusaha keluar kamarnya dan berdiri di depan pintu kamar Claudia.
Ditatapnya pintu kamar Claudia yang tertutup rapat, mulai terjadi perdebatan kembali di dalam hatinya. Masuk, enggak, masuk, enggak. Ataw langsung buka aja? Apa ketok dulu? Gilang berpikir apa yang paling baik di lakukannya saat ini.
__ADS_1