
NASEHAT BUNDA
❤❤❤❤❤❤
Bunda berusaha keras melepaskan pelukan Claudia, tetapi gadis kecil kesayanganny itu hanya mengeleng dan mempererat pelukannya. Kalau di tanya tentang perasaan Bunda saat ini, ingin sekali rasanya Bunda menetap dan tinggal di Semarang saja, tetapi mana mungkin. Bunda harus adil, di Bengkulu ada Bram yang sedang membutuhkannya. Walaupun Bram berusaha menyakinkan Bunda bahwa si anak sulung itu tidak apa-apa, baik-baik saja, hanya sedang sedikit fkus biasa. Tetap Bunda tidak tega, lagi pula Claudia tidak sendiri. Ada keluarga Hartanto yang sangat menyayanginya. Akhirnya Bunda berusaha menguatkan diri, harus di tega-tegain, kalau gak mana mungkin bisa melepaskan Claudia tinggal jauh. Begitulah isi hati Bunda.
Dari pengeras suara di depan pintu masuk keberangkatan dalam negeri, Gilang bisa mendengar pemberitahuan untuk semua penumpang pesawat yang akan Bunda Amelia naiki. Tetapi terlihat jelas Claudia tidak mau melepaskan pelukannya dari sang Bunda walaupun telah di bujuk oleh Mama bahkan Papa. Gilang berniat mendekati dan menbujuk Claudia, tetapi yang didapatnya malah suara kesal Claudia.
"Sana, jangan dekati aku". Ujar Claudia kesal saat Gilang menyentuh tangannya ingin melepaskan pelukannya dari Bunda. Semua ini gara-gara kamu, kalau saja kamu enggak telantarin aku kemaren, pasti aku punya banyak waktu buat bersama Bunda semalam.
__ADS_1
Bunda di buat mengelengkan kepala mendapati sikap Claudia pada Gilang, "Sayang, gadis kecil Bunda. Bunda pulang dulu ya nak. Nanti kalau Mas mu sudah sehat dan gak sibuk Bunda ke sini lagi lihat kamu bareng sama Mas mu ya. Sekarang Claw harus belajar dewasa, harus belajar mandiri. Claw gak boleh merepotkan apa lagi buat susah keluarga Papa Hartanto. Mereka menyayangi Claw dan sudah menganggap Claw seperti anak sendiri. Tetapi ingat Claw harus bisa menjadi wanita dewasa, gak boleh cenggeng. Harus tegar, harus pintar, harus sukses. Bunda pulangkan buat lihat Masnya, nanti kalau Mas Bram tambah sakit gimana? Claw gak boleh egois, harus belajar memikirkan orang-orang di sekitar, jaga sikap dan tutur kata ya nak. Bunda sayang Claw, Bunda sangat berharap Claw menjadi wanita sukses di kemudian hari". Begitu banyak nasehat Bunda kepada anak gadis kesayangannya itu.
Pelan Claudia mengangat wajahnya menatap mata Bunda yang telah bekaca-kaca. Dan tanpa disadarinya, pertahanan diri yang sedari tadi di jaga Claudia runtuh juga. Akhirnya Claudia pun meneteskan air matanya. Dia tidak ingin berpisah dari Bunda, dari kecil dia tidak pernah jauh dari Bunda apa lagi berpisah antar kota, provinsi bahkan pulau seperti ini. Lantas sekarang harus pisah dari Bunda entah sampai berapa lama baru bisa berjumpa Bunda lagi. Tetapi apa yang di bilang Bunda barusan telah merasuk ke dalam hatinya.
Benar, aku harus belajar dewasa, gak boleh cenggeng, gak boleh manja, harus kuat, harus tegar di perantauan. Harus jadi wanita sukses dan buat Bunda, Mas Bram dan mendiang Ayah bangga.
"Iya sayang, kamu juga jaga diri ya". Bunda mencium kening dan ke dua pipi Claudia, memeluk Claudia sekali lagi dan akhirnya berpamitan pada Papa Hartanto, Mama Rachel, Mas Galih dan Mas Gilang. "Titip gadis kesayanganku ya Mas, heal". Ujar Bunda pada Papa Hartanto dan Mama Rachel.
__ADS_1
Setelah Bunda tidak terlihat lagi dari pandangan Claudia, akhirnya air mata yang sempat dihapusnya tadi terjatuh kembali. Tubuhnya sedikit terguncang, terlihat jelas dia sedang menangis. Cepat Galih melangkah mendekatinya, menarik Claudia dan memeluk erat tubuh mungil yang mulai terisak itu. "Cup, cup, ada Mas di sini. Gak boleh sedih ya". Terdengar suara Galih berusaha menenangkan Claudia.
Gilang yang di awal kesal karena gagal mendekati Claudia, sekarang lebih kesal lagi mendapati saudara kandungnya sendiri dengan mudahnya bisa menenangkan Claudia dalam pelukannya. Tanpa disadarinya, sekarang Gilang telah mengepalkan tangan kanannya. Dia sangat tersulut emosi, dia sangat cemburu. Tetapi entah kenapa dia bisa cemburu? Atas dasar apa? Kenapa aku jadi seperti ini, ada apa ini? Kenapa aku harus marah pada Mas ku sendiri dan ini, kenapa aku malah jadi cemburu. Gilang, gilang, apa dasar kamu cemburu pada Claudia. Memang wanita itu siapa kamu?
Merasa frustasi sendir, Gilang melangkah menjauh ke arah parkiran. Lebih baik dia menyingkir sambil menenangkan diri. Dia harus benar-benar bisa mengendalikan diri saat ini.
Papa Hartanto dapat melihat dengan jelas suasana hati Gilang yang tersulut emosi, si Papa mulai memiliki dugaan sendiri atas prilaku anak ke duanya itu. Tetapi mungkin yang terbaik saat ini bagi Gilang adalah menjauh, dia tidak boleh menunjukkan emosinya kepada Galih. Papa mengajak Mama untuk mendekati Claudia dan membawanya pergi dari bandara. Sepertinya pesawat Bunda sudah berangkat, jadi mereka pun sudah harus kembali. Papa harus segera masuk ke kantor bersama Galih. Dan Mama harus kembali ke rumah, sedang Claudia harus masuk ke bimbelnya hari ini. Sementara Gilang, terlihat telah pergi dari parkiran bersama mobilnya tadi, entah kemana anak itu sebenarnya akan memacu mobil miliknya.
__ADS_1