KUPILIH DIRIMU

KUPILIH DIRIMU
Episode 35


__ADS_3

BERBICARA


❤❤❤❤❤❤


 


Gilang berdiri dalam gelap, memperhatikan langkah Claudia meninggalkan meja makan berjalan menaiki satu persatu anak tangga, mengarah ke kamar tidurnya. Gilang hanya memperhatikan langkah kaki jenjang itu yang mulai menjauh, ada perdebatan besar di dalam batinnya tentang apa yang harus di lakukannya.


 


Kejar dia, jangan, kejar dia cepat, jangan pernah lakukan itu, kejar dan peluk dia, kau hanya akan membuat dia takut, bilang padanya kalau kau tidak suka dia bersama lelaki manapun, jangan konyol kau bukan siapa-siapanya.


 


Ya dan tidak, lakukan dan larangan, perintah dan nesahat, Gilang dan hatinya sedang berdebat harus bagaimana sekarang.


 


Berbicalah dengannya, jangan kau hanya membuat semua semakin rumit, bicaralah agar dia tahu isi hatimu, jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali.


 


Perdebatan itu belum selesai, Gilang hanya diam fokus bertahan dalam perdebatnya sendiri, apa yang diinginkannya dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Hingga akhirnya Gilang menarik nafas panjang, dia lelah dengan apa yang diinginkannya terhadap Claudia, dan Gilangpun mengusap kasar wajahnya.


 


Dari tempat Gilang berdiri, dia bisa mendengar kalau saat ini Claudia telah menutup pintu kamarnya. Gilangpun mulai meninggalkan tempat persembunyiannya tadi saat memperhatikan Claudia berbicara bersama Bibi. Gilang pun telah sampai di depan pintu kamarnya, tetapi terlihat belum berniat untuk masuk. Sepertinya Gilang lebih betah memandangi pintu kamar Claudia, entah pemandangan indah apa yang terbentang dihadapannya sampai Gilang betah berlama-lama di sana.


 


Terdengar suara isakan, seperti suara isak tangis, Gilang merasa tidak begitu yakin, mungkin dirinya hanya salah mendengar suara hembusan angin. Gilang mencoba memasang telinganya sebaik mungkin, mendengar dengan baik, bertekad harus memastikan.


 


Bukan angin, itu memang suara isak tangis. Siapa? Ehhh, tunggu apakah itu Claudia? Kenapa?


 


Akhirnya Gilang merasa yakin, dia tidak salah mendengar, itu bukan suara angin itu memang suara tangis seseorang dan suara itu berasal dari kamar Claudia. Tanpa berpikir dua kali, Gilang pun memanggil Claudia.


 


"Claw, Clawwww".


 


"Claudia, buka pintunya! Claw, kamu dengar aku?" Gilang memanggil-manggil Claudia sambil mengetuk pintu kamar gadis itu.


 

__ADS_1


Yang dipanggil hanya diam, tidak membalas sahutan, bertahan di dalam kamar. Gilang mulai meninggikan nada suaranya. Dia masih berusaha membuat Claudia mendengar panggilannya.


 


"Claw, kamu kenapa? Buka pintunya, ayolah Claw!" Gilang mulai panik karena tidak mendapat respon dari Claudia.


 


"Claudiaaaaa, aku mohon buka pintunya. Kamu kenapa? Clawwww..."


 


Mendapati Gilang sudah setengah berteriak di balik pintu kamarnya, Claudia pun memilih menyahut dari dalam kamar.


 


"Aku enggak papah", hanya jawaban singkat dengan suara yang sedikit lemah. Mungkin pengaruh menahan jatuhnya air mata kembali.


 


"Baiklah, kalau kamu nggak papah coba buka pintu ini dulu". Gilang berusaha membujuk Claudia.


 


"Jangan hiraukan aku, Mas. Aku nggak papah kok. Aku mohon". Claudia masih berjuang menahan tangisnya.


 


 


Claudia melangkah mendekati pintu kamarnya, membuka kunci pintu itu dan membuka sedikit hanya sedikit. Kesempatan itu di manfaatkan Gilang, tanpa menunggu Gilang langsung mendorong pintu agar terbuka lebar. Claudia melangkah mundur, percuma rasanya bertahan di balik pintu, tenaga Gilang jauh lebih kuat darinya.


 


Claudia berusaha menjauh, membelakangi Gilang. Hatinya sedang tidak baik saat ini, dia tidak ingin terlihat seperti anak kecil cengeng di depan Gilang, dia tidak ingin ditertawakan oleh Gilang. Gadis mandiri yang siap merasakan suka duka menjadi anak rantau, yang telah berjanji pada Bunda tidak akan pernah merepotkan keluarga Papa Hartanto. Tetapi apa? Jelas-jelas bibi tadi bilang bagaimana cemasnya Gilang pada dirinya. Padahal dia hanya pergi sebentar dan itupun bersama Ari teman baiknya, lantas kenapa seakan-akan dia sudah membuat masalah besar. Claudia merasa seperti telah membuat tepot Gilang saja, membuat dirinya menjadi beban pikiran orang lain saja. Dia benar-benar sedih, tidak tahu harus berbuat apa.


 


"Claw?" Suara Gilang tepat di belakang pungung Claudia.


 


Claudia diam, memilih tidak menyahut atau berbalik melihat ke arah Claudia.


 


"Kenapa?" Gilang masih berusaha sabar, jangan di tanya bagaimana usaha kerasnya sedari tadi. Andai saja Claudia masih bertahan tidak akan membuka pintu kamarnya, Gilang pasti dengan senang hati akan mendobrak pintu itu. Gilang sangat ingin tahu, apa gerangan yang menbuat Claudia bersedih.


 

__ADS_1


"Ada apa?". Gilang berusaha menahan kedua tangannya agar tidak memeluk Claudia, walaupun dia sangat ingin menyerap semua kesediahan Claudia agar berpindah padanya, tetapi Gilang takut kalau hal itu hanya membuat Claudia semakin tidak menyukainya.


 


"Maafkan aku Mas, sudah merepotkan Mas, sudah membuat Mas kawatir. Aku tidak bermaksud demikian, Mas mungkin tidak percaya pada Ari, tetapi dia teman yang baik. Sangat baik, dan kami tadi hanya keluar sebentar. Maafkan aku sudah membuat repot saja". Claudia mulai berbicara dengan suara bergetar, sepertinya dia mulai berjuang menahan agar air matanya jangan jatuh kembali.


 


Keluar sebentar, sambil tertawa bahagia. Begituh Claw?


 


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Kamu adalah tanggung jawabku, sama sekali tidak merepotkan. Maaf ya kalau sikapku terlalu keras, aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Itu saja Claw". Gilang mulai sedikit lebih mendekat lagi ke arah Claudia. Berharap bisa segera menjangkau Claudia untuk menarik gadis mungil itu masuk ke dalam pelukannya.


 


"Rasanya sangat memalukan sekali, padahal sudah janji sama Bunda gak akan merepotkan keluarga Papa Hartanto". Ujar Claudia sambil menghapus air matanya.


 


"Sama sekali tidak merepotkan, apa salah kalau aku kawatir padamu?" Gilang berbicara lembut pada Claudia.


 


Claudia membalikkan badanya, menatap mata Gilang mencari kebohongan dari kata-kata Gilang tadi. Berharap dia memang telah merepotkan semua orang, setidaknya dengan begitu dia mendapatkan keyakinan jika dia memang salah. Mungkin dengan merasa pada posisi bersalah hatinya bisa tenang, tidak seperti saat ini.


 


"Kenapa Mas kawatir?" Claudia bertanya pada Gilang.


 


"Karena kamu adalah tanggung jawabku", jawab Gilang yakin. Karena aku, sepertinya aku tidak ingin membagimu dengan yang lain.


 


"Maafkan aku Mas". Claudia hanya mampu mengucapkan kata itu saja. Dia tidak tahu lagi apa kata yang tepat mengambarkan perasaanya saat ini. Claudia merasa telah merepotkan orang lain, tetapi di satu sisi dia merasa berhak menjalankan hidup normalnya bersama teman seusianya sendiri.


 


"Sudah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hari sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Claw, aku bukan ingin mengekangmu, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Hanya itu, silahkan kamu bermain bersama siapa saja, tapi kabari aku terlebih dahulu". Gilang menyudahi pembicaraan mereka. Gilang sangat tahu apa yang diucapkannya tadi, semua hanyalah kata-kata penenang bagi Claudia, andai saja dia bisa jujur mengatakan betapa cemburu dirinya. Tentu semua hanya akan membuat situasi tambah sulit.


 


Gilang telah berdiri dihdapan Claudia, membelai lembut rambut Claudia, menghapus sisa air mata di pipi gadis cantik itu dan entah bagaimana, Gilang sangat berani memberi kecupan di kening Claudia. Claudia terperanjat, rasanya sangat aneh bagi dirinya mendapat perlakuan yang terakhir dari Gilang tadi. Refleks tidak ingin terulang, Claudia melangkah mundur, sedikit menjauh dari Gilang


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2