
MAAF
❤❤❤❤❤❤
Gilang mengemudikan mobilnya dengan santai menuju rumah keluarga mereka, setelah selesai acara makan malam tadi. Sesekali Gilang melihat ke arah Claudia, diam dengan kepala menyandar kesandaran kursi penumpang disebelah Gilang, Claudia hanya memandangi jejeran bangunan dan pepohonan yang berlalu pasti meninggalkannya.
Kenapa sih gak minta maaf ma aku, udah menelantarkan aku selama dua jam, sukses melupakan aku yang masih hidup di lokasi bimbel, pake marah-marah lagi tadi. Dia yang salah, aku yang menderita, tapi tetap nggak ada kata maaf. Sekarang pake lirik-lirik aku lagi, mau buat tensi aku naik lagi, iyaaaaaa? Claudia di buat heran dengan sikap Gilang. Setalah apa yang dilakukan Gilang padanya hari ini, tetapi kenapa Claudia merasa gelagat Gilang padanya tidak mengarah pada itikad untuk meminta maaf. Mungkin dengan Gilang meminta maaf padanya, rasa marah, kesal, jengkel yang terpahat dihatinya bisa menghilang. Secara aku tuh korban amnesia buatan Gilangkan? Pikir Claudia kesal.
Kok diam aja ya, kan udah di bawa makan tadi. Apa lagi coba alasannya masing pasang tampang horor gituh ke aku. Aku tuh kesal banget sama nih cewek, lancar banget tadi marah-marahnya. Sampe lupa ma sopan santun, panggil nama aja ke aku plus ada kata brengseknya juga tadi. Seumur-umur baru kali ini ada cewek ngatain aku seperti itu. Harusnya itu aku yang marah, umur baru beberapa tahun aja udah lancang banget panggil nama, pake maki pula. GAK SOPAN TAHU. Gilang menahan kesal dihatinya.
Larut dengan hati masing-masing, Gilang hanya berusaha fokus membawa mobilnya pulang agar segera keluar dari zona tidak nyaman ini, sedangkan Claudia pura-pura tertidur di sebelah Gilang. Sesampainya di halaman rumah, Gilang memperhatikan mobil Papa dan Mamanya sudah mengisi garase rumah mereka. Dapat disimpulkan semua anggota keluarganya dan Bunda Amelia sudah berada di dalam rumah. Gawat, Bibi sudah cerita apa blom tentang aku yang lupa jemput Claudia. Gimana cara jelaskan sama Papa dan Mama? Habis aku. Gilang mulai di dera ketakukan menghadapi ke dua orang tuanya.
Sementara Claudia yang menyadari bahwa mobil telah berhenti beberapa detik yang lalu segera membuka matanya, tahu bahwa dia sudah sampai di rumah keluarga besar Hartanto, Claudia pun bergegas turun dan berjalan secepatnya menuju teras depan. Saking cepatnya, Gilang sampai tidak menyadari bahwa Claudia sekarang sedang menunggu seseorang membukakan pintu rumah untuknya.
"Agak telat pulangnya Claw", suara Galih pada Claudia saat ia membukakan pintu depan untuk Claudia.
__ADS_1
"Iya mas, hehehe", cengir Claudia. "Tadi di bawa Mas Gilang muter-muter dulu trus makan malam. Maaf ya Mas". Ucap Claudia kemudian.
"Gak masalah Clow, bagus malah jadi kamu bisa cepat beradaptasi di sini". Galih setuju dengan sang adik yang sudah membawa Claudia berkeliling Semarang.
Iya Mas Galih, muter-muter parkiran bimbel dan teras bimbel, sampe aku hafal benar berapa jumlah ubin teras bimbel yang masih mulus utuh, berapa yang ada retakan, berapa yang sedikit rusak dan berapa yang sudah minta di ganti.
"Bunda, sama Papa Mama lagi ngapain Mas?" Claudia menganti topik pembicaraan sambil jalan mengekori Galih ke dalam rumah.
"Oo, itu lagi pada santai di ruang keluarga. Kamu lanjut aja ke sana, Mas mau ke kamar dulu ya, masih ada kerjaan". Galih pun berbelok ke arah tangga hendak menuju kamarnya, sedang Claudia langsung melangkahkan kakinya ke ruang keluarga.berapa
Tepat di saat Gilang sampai di ruang keluarga, ternyata Claudia sudah duduk di samping Bundanya. Gilang segera menyapa satu persatu orang tuanya dan Bunda Amelia. Sedikit waspada kalau-kalau sekarang waktunya Claudia mengadukan kesalahannya pada Papa dan Mamanya, Gilang pun memilih duduk sedikit menjauh.
"Kemana aja nak?" Tanya Bunda pada Claudia, "kok hampir jam sembilan baru sampe rumah?" Lanjut Bunda kemudian.
__ADS_1
"Pagi daftar bimbel bun, trus lanjut beli perlengkapan bimbel. Jam sepuluh sampe jam lima aku di kelas bimbel Bun, pulang bimbel di paksa Gi, eh..Mas Gilang buat muter-muter Bun. Aku dah nolak Bunda, ya aku kan segan Bunda sama Papa dan Mama, masak baru sehari di sini sudah muter-muter. Tapi gimana lagi Bunda, aku di paksa Mas Gilang. Sampe nangis aku Bun buat nolak, tetap di paksa juga". Cludia menjelaskan pada Bunda dengan wajah yang di buat se imut mungkin.
Dari tempat duduknya, Gilang memandang tidak percaya dengan ucapan Claudia barusan. Claudi tidak mengadukannya secara langsung pada keluarga dan Bunda Amelia. Tetapi karena Gilang tahu benar apa yang telah terjadi sebenarnya, hatinya ciut dengan semua perkataan Claudia. Gilang mendengar Papa dan Mamanya juga Bunda Amelia tertawa. Mungkin bagi mereka tingkah Claudia saat menjelaskan tadi sangat lucu, tetapi bagi Gilang yang tengah bergelut dengan rasa bersalahnya, jelas-jelas memandang tingkah Claudia sebagai suatu ancaman.
"Claw, kamu ada-ada aja. Di bawa muter-muter kok malah nolak, pake nangis lagi. Apa benar itu? Gak boong? Kok Bunda merasa bukan seperti kamu banget?" Bunda merasa ragu dengan cerita Claudia barusan.
"Kalau Bunda nggak percaya tanya aja Mas Gilang", Claudia kemudian menatap tajam pada Gilang, "iya kan Mas, kamu maksa aku? Coba deh Mas ceritakan versi Mas Gilangnya seperti apa!" Ujar Claudia masih dengan menatap tajam pada Gilang. Dia merasa senang bisa memojokkan Gilang sekarang.
Gilang mendengar namanya di sebut langsung mengarahkan pandangannya ke pusat suara. Betapa terkejutnya dia saat beradu pandang dengan Claudia, mata coklat terang Claudi menatap tajam padanya. Mungkin istilah setajam silet bisa di pinjam Gilang untuk mengambarkan apa yang dilihatnya sekarang.
Itu mata ngeri banget ya, mau nyayat aku secara perlahan sepertinya. Lagian kenapa juga dia menjebak aku dengan cerita boongnya. Nih anak sengaja deh mau nyuruh aku ngaku sendiri ke Papa dan Mama sama Bundanya. Kira-kira aku boong aja gak ya? Apa jujur aja? Kalau jujur bisa ambyar aku di coret Papa dari daftar keluarga. Semua pasti marah besar padaku karena lupa jemput Claudia dan dia pun harus menunggu sampai dua jam di teras bimbel. Gilang mengusap asal mukanya. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
Mama yang melihat ulah Gilang hanya tersenyum saja, dalam pikira Mama, Gilang pastu malu bercerita tentang dia yang membawa Claudia jalan-jalan. Jadi Mama pun memutuskan tidak mau memaksa Gilang untuk bercerita. "sudah, sudah gak usah di bahas. Ayo kalian istirahat lagi. Claudia besok masih lanjut bimbelkan, Gilang juga besok harus antar Claudia dan masuk kantorkan?" Mama mengingatkan Gilang dan Claudia.
__ADS_1
Gilang dan Claudia hanya menangguk, mereka pun berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju tangga lantai dua. Mereka berjalan dalam diam, walaupun hati kecil mereka sebenarnya penuh dengan berbagai suara yang ingin ditumpahkan satu sama lain. Entahlah, yang jelas mereka tetap tak saling bicara hingga pintu kamar masing-masing terkunci rapat.