KUPILIH DIRIMU

KUPILIH DIRIMU
Episode 16


__ADS_3

Bunda Mendadak Pulang


❤❤❤❤❤❤


Saat mata coklat Claudia terbuka, dia kembali teringat kejadian semalam. Dia sangat kesal pada Gilang, rasanya pengen banget beritahu Gilang seberapa besar rasa marahnya atas perlakuan Gilang yang melupakannya semalam. Tetapi Claudia sudah berjanji pada Bunda untuk menjadi dewasa, untuk belajar bertanggung jawab, tidak cenggeng dan manja. Akhirnya Claudia menarik beberapa kali nafas panjang, dia berusaha merilekskan dirinya sendiri. Baiklah, gak boleh ngadu ma Bunda apa lagi ma Papa Hartanto dan Mama Rachel, harus belajar dewasa.


 


Dilihatnya jam dinding di depan ranjangnya, ternyata sudah jam enam pagi. Seperti biasa sebelum membersihkan diri di kamar mandi, Claudia kembali menikmati suguhan pemandangan di luar jendela kamarnya. Terlihat jelas langit mulai memperlihatkan warna cerahnya, beberapa ekor burung berterbangan dari satu pohon ke pohon yang lainnya dan beberapa helai dedaunan jatuh tertiup angin hingga akhirnya mendarat di rerumputan yang sepertinya masih sedikit lembab. Claudia memang suka menikmati pemandangan di pagi hari saat dia baru bangun tidur, rasanya sangat senang menjadi manusia pertama di dalam kamarnya yang tahu peristiwa apa yang terjadi di luar jendela kamarnya. Ini adalah kebiasaan Claudia sedari kecil, walaupun sekarang dia berada di kamar baru, dengan pemandangan baru. Tetapi kebiasaannya tidak bisa dirubahnya.


 


Saat Claudia tengah menikmati suasanan pagi di luar jendelannya, seperti kemarin, pagi ini kembali sepasang mata abu-abu memperhatikan Claudia dengan seksama dari balik pohon besar di seberang kamarnya. Mata abu-abu itu terus mengawasi Claudia, hingga akhirnya Claudia beranjak menjauh dari jendela barulah sang pemilik mata berjalan masuk ke rumah besar keluarga Hartanto. Padahal baru bangun tidur, tetapi aura cantiknya sangat terlihat. Kamu itu keturunan bidadari  ya cantik*.


 


Cepat Claudia mandi, dia ingin menemui Bunda, ingin bercerita tentang pengalamannya kemaren di tempat bimbel. Semalam gara-gara Gilang, aku jadi gak punya waktu buat cerita pengalaman bimbel ku sama Bunda. Padahal besok Bunda balik ke Bengkulu, jadi pagi ini sebelum berangkat bimbel aku pengen cerita-cerita dulu sama Bunda.


 


Selesai mandi Claudia langsung turun ke lantai satu menuju kamar sang Bunda. Beberapa kali pintu kamar Bunda diketuknya, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Claudia memutuskan untuk masuk dan ternyata saat matanya menjelajah kamar, didapatinya kamar Bunda kosong, tetapi travelbag dan tas tangan Bunda tersusun di dekat meja rias. Bunda mana ya? Kok tas baju Bunda di tarok situ.


 


Bergegas Claudia berjalan ke arah dapur, mungkin karena terlalu fokus mencari Bunda, Claudia sampai tidak menyadari ada Gilang berdiri di dekat rak piring sedang menikmati air putih dingin sehabis lari pagi tadi. Gilang hanya diam memperhatikan gerak-gerik Claudia. Sepertinya memang cantik dari lahir, tanpa makeup aja udah sukses membuat mata ku sibuk memandanginya. Eh, lagi cari apa sih, sampe gak lihat ada aku di sini. Pikir Gilang.


 


"Bi, Bibi lihat Bundanya aku?" Tanya Claudia pada Bibi yang sedang sibuk menata menu sarapan di meja makan. "Sudah aku cari di kamar, tapi gak ada? Di teras belakang juga gak ada". Ujar Claudia.


 


"Bundanya non sedang keluar sama nyonya". Jelas Bibi pada Claudia.


 


"Kemana Bi pagi-pagi ginih?". Claudia tetap penasaran kemana Bundanya.

__ADS_1


 


"Ke pusat oleh-oleh langanan nyonya, non". Bibi menjawab sambil melanjutkan menata meja makan.


 


"Loh kok cari oleh-oleh pagi benar Bi, padahalkan Bunda masih dua hari lagi pulangnya. Apa gak kecepetan?" Tanya Claudia dengan heran.


 


"Nah, si non memang nggak tahu ya?" Sekarang Bibi menghentikan kegiatannnya menyusun meja makan dan segera beralih memandangi Claudia yang sudah terduduk di kursi meja makan. "Non, kemaren Bundanya dapat telepon. Katanya kakaknya non lagi kurang sehat. Jadi si Bunda mutusin buat pulang lebih awal".


 


"Apa Bi, Mas Bram kenapa? Kok Bunda gak cerita". Suara Claudia sedikit cemas.


 


"Wah, soal itu Bibi kurang tau non". Ujar Bibi yang bisa merasakan kecemasan Claudia. "Non sabar aja, bentar lagi Bunda sama nyonya pasti balik. Tunggu bentar y non". Bibi pun izin melanjutkan pekerjaannya.


 


 


Awalnya Gilang ingin segera duduk di sebelah Claudia, dia ingin menghibur gadis cantik yang terlihat jelas mulai cemas. Tetapi karena badannya bau keringat setelah berolahraga pagi, ada baiknya dia mandi dulu baru kemudian gabung di meja makan kembali. Cepat Gilang melangkah menuju kamarnya, mandi dan berganti pakaian.


 


Benar kata Bibi, kurang dari sepuluh menit kemudian Bunda dan Mama Rachel sudah sampai di rumah kembali. Claudia bisa mendengar suara Mama Rachel yang sedang berbicara pada Bunda. Claudia berlari menuju asal suara, tepat saat Gilang hampir sampai di anak tangga paling bawah.


 


"Bunda, apa benar Bunda mau balik Bengkulu sekarang? Kenapa Bunda? Kan Bunda tiketnya dua hari lagi?" Tanya Claudia beruntun sambil memeluk sang Bunda.


 


"Sudah lama bangun sayang?" Tanya Bunda sambil menatap Claudia yang sedang memeluk erat Bunda. "Wangi banget anak gadis Bunda". Puji Bunda saat mencium puncak ubun-ubun Claudia.

__ADS_1


 


"Bunda, kenapa buru-buru pulang, ada apa?" Pertanyaan pun kembali di ulang Claudia.


 


"Iya nak, Bunda terpaksa balik ke Bengkulu lebih cepat dari rencana. Kemaren malam saat Bunda telepon Mas mu terdengar suaranya sedikit beda. Rupanya Mas mu itu sedang flu, tapi kamu tahukan? Mas mu mana mau istirahat. Bunda khawatir nanti flunya menjadi berat, jadi ada baiknya Bunda pulang dulu ya sayang, supaya bisa memperhatikan asuapan makanan dan vitamin Mas mu agar kondisinya gak tambah ngedrop". Jelas Bunda panjang.


 


"Kok aku gak tau Mas Bram sakit? Kenapa Bunda gak cerita semalam?" Ujar Claudia.


 


"Bunda lihat, malam tadi kamu dah capek sayang. Jadi Bunda gak tega bilang. Maksud Bunda pagi ini mau bilang sama kamu, eh tahu-tahu kamu sudah berdiri di depan Bunda sekarang". Ujar Bunda sambil membelai rambut Claudia.


 


Iihh, ini semua gara-gara Gilang. Aku jadi gak punya waktu malam kemaren buat cerita-cerita sama Bunda, sampe rumah kecapekan, jadi gak tau deh tentang Mas Bram. Dasar Gilang jelek, kezelll bangat ma kamu. Rutuk kesal Claudia.


Eh, gimana ya kondisi Bram? Sampe-sampe Bunda Amelia mendadak pulang. Gilang.


 


"Sayang, memang Clawnya kenapa? Kan di sini ada Papa, Mama, Mas Galih dan Mas gilang. Jadi Claudia nggak perlu kawatir, iya kan Bunda?" Tanya Mama Rachel pada Bunda Amelia.


 


"Benar nak, di sini ada keluarga baru mu, dan semua sayang sama kamu. Kamu gak perlu kawatir, semua pasti menjaga dan menyayangi gadis kecil Bunda ini". Ujar Bunda sambil mengangkat wajah Claudia agar menatap mata Bunda.


 


Sedih, sangat sedih, ada rasa takut. Apa benar Claudia bisa menetap di Kota Semarang bersama keluarga Hartanto tanpa Bundanya. Apa lagi setelah kejadian semalam, apa iya kejadian seperti semalam tidak akan terulang kembali? Apa iya tidak akan ada kejadian lebih dramatis dari semalam?


 


Gilang yang sedari awal memperhatikan Claudia, Bunda Amelia dan Mamanya itu dari arah tangga hanya bisa diam. Dia ingat benar, karena kejadian terlambat menjemput Claudia, akhirnya malam kemaren Claudia tidak banyak menghabiskan waktu bersama Bundanya. Dan di luar dugaan pagi ini malah Bunda Amelia akan pulang. Kasihan kamu Claw.

__ADS_1


 


 


__ADS_2