
SELAMAT DATANG DI SEMARANG (2)
❤❤❤❤❤❤
Setelah dua jam tadi mereka transit di Jakarta, akhirnya sekarang Claudia dan Bunda Amelia sudah sampai di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Bandara besar ini tegah sibuk-sibuknya menyambut dan mengantarkan para pengunjung ke dalam atau keluar Kota Semarang. Menginjakkan kaki di Semarang membuat Claudia berdecak kagum, Bandara yang dua kali lipat lebih besar dan mewah dari bandara di Kota asalnya, bagaimana tidak kapasitas bandara Jenderal Ahmad Yani ini mampu menampung 6,9 juta penumpang pertahunya, di tambah lagi apronnya mampu menampung 12 pesawat. Sungguh luar biasa, Claudia terkagum-kagum sendiri.
Langkah pasti Bunda menuntun Claudia ke luar bandara, sesuai janji Tante Rachel kemaren, dia akan datang menjemput Bunda Amelia dan Claudia sore ini. Benar saja, saat mereka sampai di luar bandara Tante Rachel langsung memanggil Bunda.
"Amel, Amelllllllia". Teriak Mama Rachel saat mata Bunda mencari-cari keluar bandara.
Bunda berjalan cepat di ikuti oleh Claudia ke arah Tante Rachel. Kemudia ke dua ibu-ibu itu berpelukan lama. Ada rasa rindu di antara mereka, maklumlah sudah hampir tujuh tahun merek tidak berjumpa dan selama itu komunikasi mereka hanya di lakukan via telpon. Kesibukan Om Hartanto membuat Tante Rachel harus mendampinginya ke mana pun Om Hartanto harus beraktivitas. Sedang Bunda sendiri, harus mendampingi ayah Claudia dan setelah ayah Claudia meninggal Bunda harus memberi perhatian extra pada anak-anaknya terutama Claudia. Bunda harus berperan ganda menjadi Bunda dan ayah sekaligus buat Claudia, demi memastikan agar Claudia bisa tumbuh kembang sempurna seperti anak-anak lain yang memiliki ayah.
"Sudah lama sekali ya Mel, ya Tuhan aku kangen banget Mel", Tante Rachel duluan berbicara saat Bunda melepas pelukan mereka. "Lihat dirimu, kamu tetap cantik. Aku jadi iri loh lihat wajah awet mudamu". Puji Tante Rachel saat menatap Bunda. Bunda pun tertawa mendengar pujian Tante Rachel.
"Kamu memang selalu aja paling bisa Ay, selalu saja bisa membuat aku tertawa". Bunda tertawa lepas saat berbicara dengan Tante Rachel.
Claudia hanya memperhatikan ke dua ibu-ibu cantik tersebut saling memuji.
"Ay..ini Claudia. Claw ayo sini nak, salam Tante Rachelnya". Bunda meminta Claudia mendekat.
Claudia pun mendekat ke arah Tante Rachel, dengan tersenyum manis Claudia menyalami si Tante. "Claudia, Tante. Tante Ay apa kabar?" Sapa Claudia. Claudia sengaja memanggil Tante Rachel dengan panggilan Tante Ay seperti Bundanya tadi. Karena memang Bunda terbisa menyapa Tante Rachel dengan panggilan Ay, panggilan akrab bunda untuk Tante Rachel.
"Mama sayang, panggil Tante dengan sebutan Mama, Mama Rachel atau Mama Ay juga boleh. Tapi gak boleh Tante. Ingat ya Claw. Sekarang dan untuk beberapa tahun ke depan kamu akan menjadi anak gadis Mama dan Papa Hartanto. Jadi kamu gak boleh panggil kami Tante dan Om lagi. Biasakan ya sayang". Perintah Mama Rachel pada Claudia.
Claudia menatap bingung ke arah Bundanya, seperti meminta persetujuan Bunda. Sang Bunda pun menganggukkan kepala ke arah Claudia, seakan tahu arti pandangan mata anaknya tadi.
"Boleh ya Mel, aku minta Cludia panggil aku dan Mas Hartanto, Mama dan Papa. Kan Claudia bakal jadi anak gadis kami beberapa tahun ini". Mama Rachel memohon pada Bunda.
"Boleh dong Ay, aku malah seneng banget kamu dan Mas Hartanto mau menerima Claudia seperti anak sendiri. Makasih ya Ay". Ucap Bunda sambil memegang tangan Mama Rachel.
Akhirnya Claudia mengulang kembali menyapa Tante Rachel dengan sebutan Mama. "Mama Rachel apa kabar", ujar Claudia sambil tersenyum cantik.
Mama Rachel pun memeluk Claudia, "Mama sehat nak. Claudia selamat datang ya di Semarang", ucap Mama Rachel sambil mencium puncak kepala Claudia.
Claudia merasa terharu mendapat sambutan sehangat itu. Di dalam hatinya di berharap, semoga perkuliahannya nanti berjalan lancar sehingga dia tidak perlu terlalu banyak merepotkan keluarg Papa Hartanto yang baik ini.
"Ayo Mel, Claw, kita ke rumah lagi. Kalian pasti sangat lelah setelah perjalanan panjang tadi". Mama Rachel mengandeng tangan Bunda menunju parkiran, sedang Claudia berjalan di belakang ke dua ibu-ibu tersebut sambil memperhatikan Pak Ratmo membawa tas bawaannya dan Bunda.
__ADS_1
Saat mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju perumahan elit tempat tinggal Mama Rachel, sekali lagi Mama Rachel memanggil Claudia. " Claw, di rumah selain Mama dan Papa Hartanto ada Mas Galih anak sulung kami dan Mas Gilang anak bungsu kami. Terus ada Bi Surti yang biasa bantu Mama di rumah, Bi surti sudah lama ikut kami nak, sudah pulihan tahun. Kemudian ada Pak Ratmo Sopir yang biasa antar Mama dan Pak Tomo Sopir Papamu. Jadi Claw gak boleh sungkan ya sayang. Ada kami semua, ada apa-apa atau perlu apa bilang aja ya nak". Penjelasan Mama Rachel.
"Iya Ma, terima kasih banyak. Mohon bantuannya ya Ma untuk kedepannya dan mohon maaf kalah nanti Claw ngerepotin Mama dan keluarga". Ucap Claw sambil tak lupa menyelipkan senyum manisnya.
Perjalanan berlanjut, awalnya Claudia masih mendengar jelas obrolan antara Bundanya dan Mama Rachel hingga akhirnya tanpa di sadarinya dia tertidur selama sisa perjalanan menuju rumah keluaraga Hartanto.
Mungkin hampir satu jam dua puluh lima menit perjalanan yang merek tempuh untuk sampai ke rumah megah tersebut. Dan akhirnya mereka sampai juga, tepat di saat mobil penjemput yang berisi Bunda, Mama dan Claudia sampai, tepat di saat itu juga Mobil Gilang memasuki halaman rumah mereka. Hari ini Gilang sengaja pulang cepat seperti permintaan Mamanya. Sebenarnya Gilang sangat malas di minta pulang cepat saat ini karena tadinya di sedang berasyik-asyik ria bersama Novi pacar barunya. Jangan di tanya apa kegiatan asyik-asyik yang tadi mereka lakukan. Yang jelas Gilang sampai mendengus kesal saat melihat jam yang memberi pertanda bahwa dia harus langsung pulang.
Segera Gilang turun dari mobilnya, menuju mobil sang Mama dan membukakan pintu untuk Mama dan Bunda Amelia. Setelah Mamanya dan Bunda Amelia turun, Gilang mendekati Bunda Amelia dan menyalaminya. "Bunda apa kabar? Gimana Bunda, capek gak habis perjalanan jauh tadi? Tanya Gilang.
"Ya Tuhan, kamu Gilangkan? Waduh sudah besar banget, mana ganteng lagi", Bunda menjawab pertanyaan Gilang. "Ya harus Bunda akui Gi, Bunda lumayan capek. Maklumlah Gi, Bunda mu ini sudah tua". Jawab Bunda lagi sambil menepuk ringan bahu Gilang.
Mama Rachel pun menuntun Bunda untuk masuk ke dalam rumah, tetapi sebelumnya Mama Rachel meminta Pak Ratmo agar membawa semua tas Bunda Amelia dan Claudia ke dalam kamar tamu dan kamar yang sudah di persiapkan untuk Claudia di lantai dua.
"Aduh sampai lupa", Mama Rachel menghentikan langkahnya. "Gilang, kamu tolong bangunkan Claudia ya. Sepertinya dia terlalu capek sehingga tertidur di kursi depan. Langsung suruh istirahat di kamar aja. Mama masih Mau melepas kangen sama Bunda Amelia dulu".
Gilang hanya mengangguk saja mendengar perintah Mamanya sambil berlalu menuju mobil yang terparkir di sebelah mobilnya tadi. Pak Ratmo sudah membawa semua tas ke dalam, kemudian Gilang membuka pintu mobil bagian depan secara perlahan. Cantik, kata pertama yang terucap di dalam hatinya saat melihat Claudia yang tengah tertidur pulas. Rambut hitam sebahu yang sedikit berantakan, kulit wajah yang bersih dengan warna kuning langsat, hidung mancung, bibir tipis, semua terlihat sempurna dalam bingkai wajah oval Claudia. Tanpa di sadarinya, Gilang berlama-lama menatap wajah cantik Claudia. Wajah polos tanpa makeup dan lipstik.
"Bangun, ayo bangun, kamu dah sampe", suara berat Gilang membangunkan Claudia.
Sesaat kemudian Claudia membuka matanya dan dirinya pun langsung beradu pandang dengan wajah tampan yanhg hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Senyum manis menghiasi bibir tipisnya mengarah ke wajah tampan di depannya.
Deg, deg, deg
Suara detak jantung Gilang yang mendadak cepat. Gilang tidak pernah mempersiapkan diri untuk mendapatkan senyum manis itu dan tatapan indah dari mata coklat Claudia. Sepertinya jantungnya sedikit bermasalah saar ini, dan Gilang tidak bisa mengartikan hal tersebut.
Tanpa rasa bersalah, setelah sukses membuat jantung Gilang bermasalah, Claudia malah memejamkan matanya kembali. Sepertinya dia belum sadar sepenuhnya tentang keberadaan Gilang di depan wajahnya. Gilang terdiam, terpaku sendiri, sial nih cewek, sudah buat gue jantungan dengan senyumannya sekarang malah tidur lagi. Padahal baru aja lihat mata coklat indah itu, ehhh malah dipejam lagi. Tapi nih cewek memang cantik, wajah polos tanpa makeup dan bibir tipis itu tanpa polesan lipstik sedikit pun. kok bisa cantik ya, gilaaaaa, saat tidur aja kamu tuh sudah cantik. Kata hati Gilang sambil menatap Claudia yang tetap tertidur dengan tenang. Sekali lagi Gilang memperhatikan Claudia, baju kaos putih yang di balut jaket merah tetapi hanya tersemat asal di badannya, kemudian celana jeans biru menutupi tubuh bagian bawahnya, penampilan santai yang tetap memperlihatkan kecantikan seorang Claudia.
Karena gagal membangunkan Claudia, maka Gilang memutuskan untuk mengendong tubuh Claudia menuju kamar atas yang sudah disiapkan untuknya. Tetapi baru sampai teras rumah tiba-tiba Claudia membuka matanya, dia tersadar tengah berada dalam gendongan seorang lelaki yang tidak di kenalnya. Sontak Claudia memukul dada lelaki tersebut, ada rasa takut dalam hatinya.
"Aduh sakit, kamu kenapa sih mukul dadaku, sakit tau. Bisa gak diam bentar, nanti kita berdua bisa jatuh". Gilang memprotes aksi pukul-pukul Claudia.
"Turunkan aku, kamu siapa? Kamu mau jahatin aku ya? Turunkan aku, cepat, turunkan aku". Claudia mulai ketakutan sendiri.
__ADS_1
"Sembarangan kamu nuduh, aku cuma mau bawa kamu ke kamar. Udah diam dulu kenapa sih". Gilang mencoba menenangkan Claudia.
"APAH, KAMAR", pikiran buruk mulai merasuki Claudia dan setelah itu, "BUNDAAAAAA TOLONGGGGGGGGGG". Teriak Claudia yang sukses membuat Gilang terlonjak kaget. Secepatnya Gilang menurunkan Claudia dari gendonganya.
Bunda yang mendengar teriakan Claudia langsung berlari kearah pintu depan di ikuti oleh Mama Rachel dan Bi Surti di belakangnya.
"Kenapa Claw, ada apa sayang". Tanya Bunda yang khawatir anak gadisnya kenapa-napa.
"Itu Bunda ada orang mau jahatin Claw, kayaknya pedofil deh Bun". Tuduh Claudia pada Gilang tanpa berdosa sambil bersembunyi di belakang bahu sang Bunda
"K A M U", Gilang emosi memdengar tuduhan Claudia. Sial nih cewek, udah dada gue di pukul tadi, trus teriak di telinga gue, eh..endingnya gue malah di bilang pedofil. Pedes juga tuh bibir tipis. Rutuk kesal Gilang dalam hati.
Mama Rachel tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, sedang Bi Surti yang berdiri di belakang majikanya pun tertawa pelan mendengar penuturan Claudia.
"Sayang, ini tuh Mas Gilang, anak bungsu Mama. Kamu ingat cerita mama tadi", jelas Mama Rachel sambil tetap tertawa pelan. "Ayo sini, ngapain coba sembunyi di belakang Bundanya". Mama Rachel menarik tangan Claudia supaya mendekat ke arahnya.
Claudia melihat tidak percaya ke arah Gilang, Ehhhh, salah ya? Bukan orang jahat ya? Bukan pedofil juga ya? Claudia masih sedikit ragu.
"Claw, perkenalkan. Ini namanya Gilang, dia anak bungsu Mama Rachel", Bunda mencoba menyakinkan Claudi siapa sebenarnya Gilang, "ayo minta maaf sama Mas Gilang, kamu udah sembarang nuduh dia tadi". Bunda memberi perintah.
"Sa, salah Claw ya Bun, eeeee...itu tadi refleks loh Bun, ma..maaf ya Mas, maafin aku. Habisnya kamu sih main gendong orang sembarangan. Kenal juga enggak, gimana aku gak salah paham ma kamu". Claudia terbata-bata saat meminta maaf ke pada Gilang.
"Kamu tuh sudah di tolong malah gomonganya sembarangan, tuh mulut pedes amat. Makan cabe berapa kilo kamu tadi, pedes banget tau. Aku tuh dah coba bangunkan kamu dari tadi, tapi kamu tidurnya kayak orang pingsan, enggak bangun-bangun. Mangkanya aku gendong, PAHAM". Gilang masih kesal terhadap Claudia.
"Iya..iya..maaf, maafin aku. Aku dah salah, maaf ya". Sekali lagi Claudia mencoba meminta maaf pada Gilang.
"Sudah Gilang, kan Claudia sudah minta maaf". Mama Rachel menyudahi perdebatan antara anak bungsunya dengan Claudia. "Bi, tolong antar Claudia ke kamarnya. Biar dia bisa beristirahat". Mama Rachel meminta Bi Surti agar mengantarkan Claudia ke kamarnya.
"Baik nyonya", jawab Bi Surti patuh. "Ayo non, silahkan lewat sini". Bi Surti menunjukkan arah jalan ke lantai dua.
"Ini kamar non", Bi Surti menjelaskan pada Claudia letak kamarnya setelah mereka sampai di depan pintu kamarnya. "Yang ini kamar den Gilang". Bi Surti menunjuk kamar yang tepat berada di depan kamarnya, "dan yang ini kamar den Galih". Kembali Bi Surti menunjuk kamar yang tepat berada di sebelah kamar Gilang.
"Ya udah non istirahat dulu ya, nanti kalau perlu apa-apa panggil Bibi aja ya non'. Pamit Bibi pada Claudia.
"Baik Bi, terima kasih banyak ya Bi'. Claudia pun berjalan masuk ke kamarnya.
Di sinilah dia sekarang, di dalam ruangan baru yang akan menjadi kamarnya ke depan. Semoga saja semua bisa berjalan dengan seharusnya agar aku bisa membuat Ayah, Bunda dan Mas Bram bangga. Pinta Claudia dalam hatinya.
Kemudia Claudia merebahkan badannya di tempat tidur barunya.
__ADS_1