KUPILIH DIRIMU

KUPILIH DIRIMU
Episode 31


__ADS_3

BERCERITA (3)


❤❤❤❤❤❤


Setelah merasa tengorokonya sudah tidak pedih lagi akibat batuknya tadi, Claudia melanjutkan menyuapi mulut kecilnya dengan nasi goreng seefood yang sempat terhenti disantapnya tadi.


 


"Udah baikkan?" Ari kembali memastikan kondisi Claudia.


 


"Hu-uh", jawab Claudia sambil terus mengunyah makanannya.


 


"Berarti sudah bisa cerita dong? Gara-gara batuk tadi, kamu gak amnesiakan Claw?" Tanya Ari pada Claudia kemudian.


 


"Usak mu Ri", jawab Claudia seenaknya.


 


"Males banget deh Claw mendengar bahasamu itu. Gomong ya yang jelas deh, jangan di singkat gituh. Aneh tau!" Perintah Ari pada Claudia.


 


"Hahaha, suka, suka aku dong. Ari usak". Kali ini Claudia sengaja mengejek Ari.


 


"Udah ahh, serius dong. Cerita sekarang". Ari sepertinya sudah tidak sabar mendengar cerita Claudia.


 


"Iya, iya, nggak sabaran banget". Caludia pun mulai bersikap serius, bercerita tentang kisah dirinya pada Ari.


 


"Jadi gini Ri", Claudia memulai ceritanya. "Dulu semasa aku masih sekolah, aku punya tiga teman yang hubungan pertemanan antara kami itu sangat dekat. Kami itu sahabatan dalam suka dan duka, mereka adalah Sinta, Tanto dan Rama. Kami selalu bersaing dalam pelajaran, tetapi kompak dalam belajar. Kami sempat membuat janji bersama, setelah lulus SMA akan melanjutkan kuliah ke Bandung, kira-kira impian kami itu ingin menjadi anak rantau yang sukses menamatkan bangku perkuliahan di Kota Bandung. Tetapi sial bagi ku dan beruntung bagi sahabat-sahabatku. Aku di larang Bunda melanjutkan kuliah keluar dari Bengkulu, kota kelahiranku. Dan karena aku terus menerus merengek, akhirnya Bunda luluh, Bunda mengizinkan aku kuliah keluar dari Kota Bengkulu, tapi hanya boleh di sini di Semarang ini. Jadi semenjak itu aku berpisah sama tiga sahabatku, entah gimana perkembangan perjuangan mereka sekarang untuk bisa lolos di universitas seperti impian kami dulu?"


 


"Wah, seru ya pola persahabatan kalian. Andai kalian gak terpisah, pasti kalian sekarang sedang bimbel bareng, ya seperti kita saat ini". Ujar Ari menanggapi cerita Claudia.

__ADS_1


 


"Hahahahaha", Claudia hanya bisa tertawa sambil mengingat tiga sahabatnya itu.


 


"Trus kenapa Bunda kamu cuma bolehkan kuliah di sini? Dan Bapak tadi itu siapa? Eh iya, hampir lupa kemana Mas Galih, Claw?" Ari baru ingat pada lelaki yang terakhir kali menjemput Claudia pulang.


 


"Ceritanya masih berlanjut Ri". Claudia kembali memulai bercerita. "Kenapa hanya boleh di sini? Ternyata tanpa sepengetahuan aku, almarhum Ayah aku dan Bunda punya rekan bisnis yang sudah seperti keluarga di sini. Jadi kalau aku memang mau lanjut kuliah keluar dari kota asal ku ya hanya boleh ke sini saja. Kata Bunda, Bunda gak sampe hati kalau aku harus tinggal sendiri, menjadi anak kost di sebuah kota asing dan menjalani hari tanpa ada orang yang melimpahkan kasih sayang sama besar seperti apa yang Bunda berikan. Maklum saja Ri, semenjak Ayah aku meninggal, aku deket banget sama Bunda. Kemana-mana sama Bunda, apa-apa sama Bunda, jadi Bunda pengen saat aku memulai hidup mandiri diperantauan ya harus berasa di antara orang-orang yang juga menyayangiku. Nah, keluarg Papa Hartanto dan Mama Rachel, sahabat dan rekan bisnis keluarga ku inilah yang di percaya Bunda mampu memberikan aku kehangatan sebuah keluarga. Dan memang aku akui Ri, Papa dan Mama sangat sayang pada ku, mereka memperlakukan aku seperti anak sendiri. Kebetulan anak mereka laki-laki semua, Mas Galih yang kamu temui kemaren dan Mas Gilang yang lupa menjemputku di hari pertama aku bimbel"


 


 


"Hah, jadi Mas Galih kakak angkat mu? Dan yang menelantarkan kamu dulu itu juga kakak angkat mu? Bukan anak Ibu kost seperti yang kamu bilang?" Ari tidak percaya dengan penjelasan Claudia.


 


"He-ehh", jawab Claudia singkat.


 


 


"Ya gituh deh, Mas Galih itu memang luar biasa baik. Dia tampan, baik dan bijaksana, dia bisa membuat aku tertawa lepas. Aku nyaman banget saat bersama dia, dia melindungi aku dan tahu cara terbaik buat aku gak sedih. Nah, kalau Mas Gilang beda Ri. Sejak awal aku kenal, dia dah buat aku kesal. Trus sengaja melupakan aku, ya itu tadi menelantarkan aku hitungan jam. Trus dia suka marah gak jelas sama aku, ah..orangnya aneh gitu". Claudia menjelaskan perbedaan Galih dan Gilang pada Ari.


 


"Kamu suka sama Mas galih? Tanya Ari kemudian.


 


"Cewek mana coba yang gak suka sama dia Ri?" Claudia malah balik bertanya.


 


"Sama Mas Gilang?" Ari melanjutkan pertanyaannya.


 


"Apa Mas Gilang, males banget deh. Dia itu suka banget buat aku emosian, lama-lama deket dia bisa kena penyakit darah tinggi aku". Jawab Claudia sewot.


 

__ADS_1


"Hati-hati Claw, jangan kelewat gak suka. Nanti kamu jatuh cinta ma dia baru ambyarrrrr, hahahah". Terdengar tawa Ari yang sukses meledek Claudia.


 


"Enggak, enggak", jawab Claudia cepat sambil mengelang-gelengkan kepalanya.


 


"Lantas Bapak tadi siapa?" Ari merasa masih ada yang belum dipahaminya.


 


"Ooo, itu Pak Adi sopir keluarga Papa Hartanto. Sekarang Papa dan Mama sedang keluar kota, ada urusan yang berhubungan dengam perusahaan mereka yang harus diselesaikan oleh Papa dan Mama Rachel mendampingi Papa. Karena Papa sedang fokus pada perusahaan mereka di luar kota, maka Papa mempercayakan cabang perusahaan di kota lain sama Mas Galih untuk memantaunya dan Mas Gilang kebagian di sini. Jadi beberapa hari kedepan aku kemana-mana sama Pak Adi ya termasuk pergi bimbel". Claudia merasa telah memceritakan semua hsl tentang dirinya pada Ari.


 


"Ooooo", ucap Ari sambil.menganggukan kepalanya tanda paham dengan semua penjelasan Claudia.


 


"Yah kalau gituh, aku sangat yakin tujuan Bunda kamu tuh baik mengirim kamu melanjutkan kuliah di sini. Buktinya menurut cerita kamu, ternyata keluarga yang sekarang ngurusin kamu sangat sayang sama kamu Claw. Dan menurut aku ya Claw, belum tentu Mas Gilang itu sejelek apa yang kamu pikirkan. Kamu kan belum mengenal dia, jadi jangan main judge orang deh. Pamali Claw". Ari mencoba menasehati Claudia.


 


"Wah, sok tua kamu Ri, sok bijaksana. Sakit mata kaki ku lihat gaya kamu". Claudia mengejek Ari.


 


"Ehh, di nasehatin itu bok ya di denger. Bukan di ledek". Ari berusaha bersikap serius pada Claudia.


 


Claudia tertawa mendapati sikap Ari yang sok serius. Dia tidak bisa menaham tawanya melihat sikap sahabat barunya itu yang di buat sedemikian rupa.


 


Begitulah akhirnya, Claudia dan Ari berlanjut membahas tentang kisah Claudia si anak rantau di Kota Semarang. Terkadang mereka saling tertawa bersama dan terkadang mereka saling ejek. Sikap mereka berdua sangat konyol malam itu.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2