
PERSIAPAN MENJADI MAHASISWA
❤❤❤❤❤❤
Pagi hari ini merupakan pertama Claudia menikmati udara pagi Kota Semarang, Claudia membuka jendela kamarnya memandang ke arah luar. Udara pagi ini masih terasa lembab, rasa dingin membuat Claudia mengerakkan ke dua tangannya untuk menghangatkan kulit pada lengan dan bahunya. Sepertinya hujan malam tadi masih menyisakan udara dingin dan lembab pagi ini. Nampak tetes air yang sesekali berjatuhan dari satu daun ke daun berikutnya menuju arah bawah, hingga akhirnya tetes air tersebut sukses terpecah menghilang terserap saat menghantah tanah di sekeliling pohon. Claudia memperhatikan dengan seksama gerakan tetes air yang jatuh itu, mungkin kalau di buat slow motion bagus ya. Pikir Nia yang sedang asyik menikmati pemandangan paginya hari ini. Rasanya berbeda sekali dengan pemandangan yang disuguhkan dari kamarnya selama belasan tahun di Kota Bengkulu. Ya, sebenarnya mamang sama-sama latar pepohonan juga yang terpampang di luar jendela kamarnya di Bengkulu, tetapi karena kota ini merupakan kota baru baginya sehingga ada rasa beda dengan pepohonan yang sekarang di pandanginya, emmm...apa ya bedanya. Pikir Claudia mencoba membuat ingatannya bisa membandingkan dua pemandangan dari dua kamar berbeda yang pernah ditempatinya dan baru ditempatinya sekarang.
Tanpa disadarinya, sepasang mata abu-abu tengah memperhatikan Claudia dari seberang jalan rumah mewah itu. Sepasang mata abu-abu itu sepertinya sedang asyik juga menikmati pemandangan yang terlihat dari jendela salah satu kamar di lantai dua rumah besar itu. Benar kata orang, kalau mau tahu seberapa cantiknya seorang wanita. Cobalah lihat wanita itu saat baru bangun tidur. Maka akan terlihat asli dari paras sebenarnya seorang wanita. Aku harus mengakui, paras wanita di balik jendela yang baru bangun tidur itu memang cantik. Sangat cantik malah. Suara pikiran si mata abu-abu mengagumi bukti dari pembenaran kata-kata yang sering di dengarnya selama ini. Kemudian senyum tipis terlihat di wajah itu, senyum tipis yang menyiratkan keheranan pada objek yang tengah di pandangnya. Jelas terlihat ada sedikit kerutan di kening wanita itu, sepertinya Claudia tertangkap sedang larut dalam pikirannya sendiri. Apa kira-kira yang dipikirkannya sekarang, sepertinya dia sangat serius dalam pikirannya sendiri saat ini. Sebuah keingintahuan besar muncul dalam diri si mata abu-abu itu. Cepat dia menghenyahkan rasa ingin tahunya, dia tidak mau tertangkap basah tengah memperhatikan Claudia yang sedang berada di balik jendela kamar wanita itu. Tentu saja akan terasa konyol bagi Gilang si pemilik mata abu-abu itu kalau sampai dia terlihat tengah memperhatikan Claudia.
Pelan Gilang berjalan menuju rumah besar itu untuk menyudahi kegiatan lari paginya tadi. Dia masuk berjalan langsung menuju dapur, mengambil air dingin yang tersedia di kulkas dan langsung meminummya dengan sangat cepat. Sepertinya dia merasa sangat haus, setelah selesai lari pagi.
"Den, aden di cari nyonya tadi", suara bibi dari arah belakang Gilang membuat Gilang menghentikan keinginan untuk menyerap air dingin kembali.
"Ooo..iya bi? Dimana Mama sekarang bi?" Tanya Galang kemudian
"Di taman belakang den, lagi gobrol bareng tuan dan nyonya Amelia". Bibi memberitahu kepada Gilang.
"Makasih ya bi, Gilang temui mereka dulu di belakang". Dan Gilang pun berjalan ke arah taman belakang rumahnya. Tampak dari jauh ke dua orang tuannya sedang berbincang satu sama lain dan terkadang Bunda Amelia juga ikut dalam perbincangan tersebut. Dan sesekali Gilang bisa mendengar suara tawa dari para orang tua yang sedang berbincang satu sama lain.
__ADS_1
"Pa, Ma, Bunda...pagi". Gilang mendekati sang Mama dan mencium pipi Mama seperti biasa.
"Gilang....kamu tuh ya, bau asem keringat gituh malah nyosor pipi mama. Ihhhh, jauh sana kamu tuh bau". Suara sewot mama.
"Namanya juga habis lari pagi ma, ya jelaslah keringatan, trus karena belum mandi ya baunya campur sekarang. Jadi wajar aku agak asem-asem dikit. Tapi ma sekala kegantenganku gak kurang kok ma, gak ngaruh loh ma..hahahahah". Suara bahagia Gilang yang di sambut ekspresi kesal dari sang Mama.
"Mama cari aku tadi? Kenapa ma?" Gilang jadi ingat tadi kata bibi kalau Mama mencarinya.
"Gi...nanti jangan lupa kamu antar Claudia untuk mendaftar di tempat bimbel ya, trus kamu juga bantu dia untuk mencari semua keperluan dia buat persiapan mendaftar kuliahnya nanti". Mama mengingatkan tugas Gilang pagi ini.
"Apa gak bisa di tunda dulu kegiatan di kampusnya, besok aja gimana? Hari ini khusus untuk temani Claudia aja nak, Mama minta tolong ya?" Mama mencoba membujuk Gilang.
"Ya udah ma, kalau Gilang gak bisa biar aku saja. Pagi ini kita gak ad meeting kan Pa? Jadi aku boleh telat dikit Pa ke kantor. Aku temani Claudia dulu". Suara Galih yang membuat semua orang terkejut. Entah sejak kapan Galih sudah berdiri di situ .
"Boleh, gitu lebih bagus, Papa izinkan kamu terlambat masuk hari ini Galih. Nanti tolong di bantu Claudia ya". Papa mengiyakan perkataan Galih barusan.
"Terima kasih ya Galih sudah mau direpotkan untuk mengurus Claudia". Bunda akhirnya bersuara setelah tadi sempat khawatir anak gadisnya akan gagal mendaftar bimbel hari ini.
"Ehhh, setelah aku pikir-pikir gak masalah kok kalau urusan di kampus di tunda besok. Hari ini biar aku yang antar Claudia Ma, Pa, Bunda. Mas Galih pasti banyak pekerjaan hari ini, jadi biar aku saja". Gilang mendadak merubah rencana kegiatannya.
__ADS_1
"Loh, bukan kamu sendiri tadi yang bilang kalau kamu gak bisa. Lagi pula aku gak terlalu sibuk juga dan Papa pun sudah memberi izin padaku. Santai aja Gi, kamu selesaikan saja semua urusan wisuda mu. Claudia biar sama aku". Galih merasa heran tiba-tiba Gilang berubah pikiran.
Tentu saja Gilang mendadak berubah pikiran, bayangan kalau Claudia akan pergi berdua dengan kakaknya membuat otaknya menolak keras. Ada rasa takut pada sebagian dirinya saat Claudia bersama saudara kandungnya itu, tapi entah apa arti rasa takut tersebut. Yang jelas Gilang tidak bisa membiarkan Claudia dekat dengan Mas Galih.
"Apa kamu yakin, bukannya tadi kamu sangat berkeras tidak bisa Gi, kok sekarang mendadak bisa?" Mama mulai menaruh curiga pada perubahan Gilang yang sangat mendadak itu.
"Emmm...itu, itu..gini ma, setelah aku pikir lagi, persiapan wisudakan masih bisa di tunda. Besok juga bisa kok Ma, kalau gak salah dipengumumannya sampe dua hari. Tadi aku lupa ma, perasaan tadi hari ini terakhir. Ehh, setelah diingat-ingat lagi besok juga masih bisa ma". Gilang berusaha memberi alasan.
"Gilang..kalau memang gak bisa jangan di paksa. Kan sudah ada Galih, Gilang fokus aja sama rencana kegiatan hari ini, Claudia biar di bantu Galih". Bunda pun juga merasa heran dengan perubahan mendadak Gilang.
"Hahaha, gak papah Bun, enggak masalah kok. Aku bisa, tadi memang lupa Bun kalau kegiatan kampus masih bisa besok. Bunda tenang aja, aku pasti bantu Claudia sampe selesai hari ini". Gilang menjawab sambil cengar cengir untuk meyakinkan Bunda, dia sangat takut kalau sampai ketahuan berbohong pada semua.
"Ya sudah, kalau kamu memang bisa nanti di bantuin Claudia sampe selesai ya. Tapi kalau mendadak kamu berubah rencana, cepat hubungi Mas mu biar dia yang bantuin Claudia". Papa mencoba menyudahi debat pagi ini. Siapapun yang di awal melihat dan mendengar Gilang berbicara tadi akan tahu kalau dia memang menolak untuk membantu Claudia. Tetapi entah kenapa mendadak setelah Galih datang, seorang Gilang jadi bisa meluangkan waktu untuk membantu Claudia. Aneh sekali sikap Gilang pagi ini, itu yang dirasakan Papa, Mama, Bunda dan Galih melihat perubahan drastis dari seorang Gilang.
Mana mungkin aku membiarkan Mas Galih berduaan sama Claudia, nanti kalau Mas Galih suka sama Claudia gimana? Gilang seakan bisa membaca isi hati orang-orang yang tengah memandang heran padanya saat ini. Lantas bagaimana dengan nasib Novi yang sedang menunggu kedatangan Gilang pagi ini? Tentu saja Gilang lupa dengan wanita yang baru beberap bulan ini di pacarinya. Kira-kira seperti apa nanti saat Novi tahu Gilang sukses melupakan janji mereka. Entahlah, karena sekarang Gilang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri yang tak bisa membiarkan kakak kandungnya berduaan dengan Claudia.
__ADS_1