
SENDIRI DAN MANDIRI
❤❤❤❤❤❤
Setelah puas bercerita, Papa dan Mama pun meminta Galih dan Claudia untuk beristirahat karena mereka pun harus beristirahat yang cukup sebab besok akan segera melakukan penerbangan.
Setelah membersihkan diri, Claudia pun beranjak ke peraduannya. Rasanya hari ini benar-benar menyenangkan baginya. Gilang mengantar dan menjemputnya dari bimbel, sikap bilang pun benar-benar menunjukkan sisi baiknya pada Claudia. Bahkan sikap Gilang padanya bisa membuat jatungnya berdetak tidak sesuai ritme yang seharusnya. Claudia tidak mengerti apa penyebab semua itu, tetapi hatinya menyukai situasi itu.
Sedangkan Galih, sangat pandai membuat dia merasa nyaman. Saat bersama Galih, Claudia selalu bisa tertawa lepas. Galih selalu tahu cara terbaik membuat dia terbahak-bahak mengeluarkan tawa lepas, bahkan Galih tidak pernah egois memaksakan keinginan pada Claudia. Galih selalu bertanya apa yang diinginkannya dan mencoba memahami keinginan Claudia tersebut. Rasanya Claudia memang selalu menjadi diri sendiri saat bersama Galih, Galih sangat pandai menjaga Claudia dengan segala kepolosannya.
Berangsur-angsur rasa kantuk mulai menghampiri Claudia, pelan matanya mulai terpejam. Entah sudah hitungan menit keberapa Claudia terbawa ke alam tidurnya sampai kemudia dia mendengar suara pintu kamar di seberang kamarnya di buka.
Mas Gilang sepertinya baru pulang, cepat Claudia melihat ke arah jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya. Hampir setengah dua belas, malam sekali Mas Gilang pulangnya, sepertinya Mas Gilang sangat sibuk hari ini.
Claudia kemudian mendengar suara pintu kamar di tutup, sepertinya Gilang telah masuk ke dalam kamarnya. Claudia pun memandang langit-langit di kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana, sampai akhirnya entah sudah berapa lama dia pun akhirnya tertidur lelap kembali dan masuk ke dalam alam mimpinya.
*************************
Claudia berusaha membuka matanya dengan sempurna, terlihat sinar mentari pagi telah sedikit mengintip dari celah fentilasi ke dalam kamarnya. Dilihatnya ke arah jam dinding yang terus berdetak tepat di depan tempat tidurnya.
__ADS_1
Hah, apah hampir jam tujuh. Gawat aku kesiangan, jadi gak bisa lihat Papa, Mama dan Mas Galih berangkat deh. Sepertinya karena malam tadi agak susah buat tidur lagi, jadinya sekarang aku bangun gak di jam biasanya.
Claudia bangun dan berdiri di depan jendela kamarnya, di tempat yang persis sama setelah beberapa hari ini menjadi tuan di kamar barunya itu. Dan kali ini Claudia mendapati pemandangan yang sedikit berbeda dari biasanya, mungkin karena bukan jam seperti biasa saat dia memperhatikan suguhan pemandangan di luar jendela, kali ini Claudia tidak menemukan dedaunan yang berlomba jatuh menyentuh tanah di sekeliling pohon. Malah kali ini Claudia mendapati sinar mentari mulai berani memperlihatkan dirinya dari celah-celah dedaunan hijau di sela-sela ranting pohon. Lama Claudia melihat keluar jendelannya, tetapi tetap seperti biasa dia tidak pernah menemukan sepasang mata abu-abu milik Gilang tengah menatapnya dari seberang sambil tersenyum.
Sudah hampir empat puluh menit Gilang menunggu dari tempat favoritnya untuk mencuri pandang wajah cantik Claudia saat baru bangun tidur. Awalnya Gilang mulai ragu, jangan-jangan hari ini Claudia tidak akan melakukan kebiasaannya seperti pagi-pagi sebelumnya. Tetapi setelah menyakinkan diri untuk bersabar sebentar lagi, ternyata Claudia pun muncul juga. Wajah teduh yang memancarkan kecantikan alami itu terlihat sedang asyik memandangi pepohonan yang berjajar rapi di dekat Gilang berada. Kemudia, setelah memastikan bahwa Claudia telah beranjak dari sisi jendela, Gilang pun melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah keluarganya.
*************************
"Pagi non". Sapa bibi saat melihat Claudia berjalan ke arah meja makan.
"Sudah non, tuan dan nyonya jam setengah enam tadi non. Kalau den Galih jam setengah tujuh tadi".
"Aku telat bangun bi, padahal malam, rencana mau lihat Papa, Mama dan Mas Galih berangkat. Gak tahunya hampir jam tujuh aku bangun bi".
"Tumben non? Non gak bisa tidur ya?"
__ADS_1
"Bukan bi, malem habis cerita sama Papa dan Mama, aku langsung tidur kok bi. Tapi saat mas Gilang pulang aku kebangun bi. Trus susah lagi deh tidurnya".
"Ooo, pantes aja non. Ya udah, sekarang non sarapan aja dulu ya. Trus minum susu hangatnya supaya tambah seger non di pagi ini".
"Iya bi, makasih ya bi. Bibi udah sarapan? Makan bareng aku yok bi?"
"Bibi udah non, tadi lagi, non lanjut aja ya makan sendiri. Gak papakan?
"Iya deh bi, ehh..iya bi. Mas Gilang sudah sarapan, mana dia, apa udah berangkat juga bi?"
"Den Gilang baru aja berangkat non. Mungkin beda sepuluh menit dengan non turun ke bawah".
"Ooo, gituh ya bi". Akhirnya Claudia mulai menikmati kunyahan demi kunyahan sandwich telor dengan taburan daun selada dan sedikit mayones yang telah disiapkan bibi untuknya sebagai menu sarapan pagi ini.
Selesai sarapan Claudia bergegas menuju tempat bimbelnya diantar oleh Pak Adi supir keluarga Hartanto yang biasa menjadi sopir Mama Rachel saat hendak berpergian. Dengan semangat pagi Claudia diantarkan oleh Pak Adi, pagi ini sebelum melangkah keluar rumah. Claudia telah berjanji akan berusaha sebaik mungkin, selama Papa, Mama, Galih dan Gilang sibuk dengan perusahaan mereka, maka dia yang saat ini sendiri akan berusaha sebaik mungkin berusaha sendiri dan mandiri. Sama seperti yang selama ini dibayangkannya, tinggal diperantauan akan berusaha sekuat tenaga tidak akan menyusahkan siapapun. Akan menjadi pribadi yang mandiri dan sukses membanggakan almarhum ayahnya.
__ADS_1