KUPILIH DIRIMU

KUPILIH DIRIMU
Episode 1


__ADS_3

KENAPA AKU TIDAK BOLEH MEMILIH


❤❤❤❤❤❤


"Claudia Mahdalena Wicaksono, kamu hanya bisa memilih diantara dua pilihan yang bunda buat. Kalau kamu keberatan ya sudah. Tidak usah kuliah, kamu tinggal bunda carikan calon suami dan menikah. Gampangkan". Terdengar nada suara kesal Bunda memenuhi langit-langit kamar Claudia.


 


"Bunda..kedua pilihan yang bunda ajukan sama beratnya buat Clow, bundakan tahu Clow pengen kuliah itu keluar dari sini dan itu adalah di Bandung bun". Renggek Claudia sekali lagi pada bundanya. Sebenarnya nada suara kesal bundanya tadi sudah bisa membuat ciut nyali Claudia, tetapi demi impiannya bisa kuliah di Bandung seperti ke tiga sahabatnya, maka dia pun mencoba sekali lagi merayu sang bunda.


 


"Claw, sekali lagi bantah bunda maka keputusan bunda tidak dapat di ganggu lagi. Kamu bunda nikahkan lagi sama anak teman bunda. Ngak usah kuliah-kuliah segala". Akhirnya bunda pun benar-benar marah. Bunda pergi meninggalkan kamar Claudia dengan memendam rasa marah pada anak gadis kesayangannya itu.


 


"Bunda jahat, aku ngak sayang bunda". Ucap lirih Claudia atas keputusan bundanya.


 


Bunda terkejut mendengar Claudia mengakatan dia jahat, bahkan mengatakan tidak sayang padanya. Dari mulai kecil hingga sekarang Claudia adalah gadis manis dengan tutur bahasa santu . Tetapi kali ini, kenapa sampai hati anak gadis kesayangnya mengeluarkan kata-kata itu. Bunda berjalan meninggalkan kamar Claudia, sedih. Perasaan itu tengah mengisi hati bunda.


 


Claudia pun  terdiam, dia menunduk menatap jari-jarinya dengan ketidakberdayaan. Ada rasa benci yang mendalam, Bunda tidak adil, itu yang dirasaknya hati kecilnya. Kenapa Mas Bram dulu bisa bebas melenggang memilih universitas yang diinginkannya. Mau lanjut kuliah kemana? Ke pulau Jawa atau bahkan keluar negeri sana, bunda tidak pernah melarang apa lagi menentang. Trus, kenapa giliran dia sekarang dilarang. Padahal Claudia hanya berharap bisa kuliah di Bandung, sama seperti Sinta, Tanto dan Rama, para sahabat karibnya. Bukan keluar negeri loh maunya aku tuh bun, hanya Bandung. Ucap lirih hati Claudia di sela isak tangisnya.


 


Tetapi percuma, semenjak sang Ayah telah tiada bunda berubah menjadi sosok ibu yang tidak bisa di tentang perkataannya oleh Claudia, kata-kata bunda adalah ultimatum baginya. Dan sekarang Claudia pun harus setuju dengan dua ultimatum bunda. Mau lanjut kuliah boleh saja, di Bengkulu yang artinya dia akan melanjutkan kuliah di dekat bunda ya. Atau di Semarang kalau memang mau kuliah keluar, tidak ada pilihan lain hanya dua opsi tersebut. Yang jadi masalah Claudia tidak ingin kuliah di Bengkulu, dia ingin mandiri, ingin melanjutkan kuliah ke luar dari kota yang telah ia tinggali sedari lahir, seperti impiannya bersama tiga sahabatnya selama ini. Mereka sudah kompak memutuskan lanjut kuliah ke Bandung dan dia sendiri akan memilih jurusan desain grafis seperti cita-citanya.


 


Sayang seribu sayang, Claudia hanya bisa kuliah ke luar dari Bengkulu hanya dengan memilih Kota Semarang, hanya Semarang. Perkara jurusan, bunda memberi kebebasan penuh padanya untuk memilih. Lantas apa gunanya bagi Claudia bebas memilih jurusan tetapi tidak bebas memilih universitas. Claudia pun menangis di tempat tidurnya, bunda ngak adil bunda jahat. Hatinya selalu mengulangi kata-kata itu.


 


**********************************


"Bi, coba tolong di panggil Cloudia supaya turun. Kita makan sama-sama lagi". Suara bunda meminta agar bi Darmi memanggil anak gadis kesayangannya turun.


Bi Darmi pun mengiyakan dan berjalan ke arah lantai dua menuju kamar Claudia. "Neng, neng Claudia", suara bi Darmi di depan kamar Claudia. Tetapi yang di panggil hanya diam tanpa suara.


 


Tok, tok, tok


 "Neng, neng Clow..ayo dong kita makan, itu bunda dah nunggu enengnya buat makan". Kembali si bibi mencoba memanggil Claudia. Tetapi yang di panggil tetap diam tidak ada sahutan dari dalam kamar.


 


Bi Darmi akhirnya memutuskan untuk turun kembali ke meja makan menemui majikannya setelah dua kali mencoba memanggil Claudia dan dia pun gagal. Mungkin si eneng lagi di kamar mandi mangkanya ngak denger bibi manggil. Pikir positif bi Darmi atas diamnya Claudia di dalam kamar.


 


"Maaf nyonya, mungkin neng Claudia lagi di kamar mandi. Soalnya sudah bibi panggil dua kali, trus bibi ketuk pintu kamarnya tetapi tidak ada sahutan. Mungkin sepuluh menit lagi bibi coba panggil ulang ya nyonya". Bi Darmi menjelaskan kegagalannya membawa Claudia turun untuk makan malam bersama nyonyanya.


 


Ahh, pasti tuh anak ngambek mangkannya ngak mau turun makan. Aku yakin dia sengaja ngak mau jawab supaya pura-pura ngak dengar. Hahhh, manjanya anak itu. Padahal apa yang aku sampaikan semua untuk kebaikan dia, kenapa Claudia ngak bisa ngerti sih. Bunda sedih di dalam hatinya mendapati anak gadis kesayangannya merajuk.


" Ya sudah bi ngak papah, biar aja. Ngak usah di panggil lagi. Nanti kalau dia lapar pasti dia bakal turunj juga". Bunda menyerah dengan sikap keras kepala Claudia.


 


Bunda duduk sendiri di meja makan sambil memainkan sendoknya di atas piring, sepertinya bunda larut dalam lamunannya sendiri sehingga saat Bramantio Wicaksono sianak sulungnya pulang , bunda tidak menyadarinya. Bram merasa heran dengan tingkah bundanya, tidak seperti biasa. Apa gerangan yang menganggu pikiran bunda sampai bunda melamun di depan makanan. Biasanya bunda paling marah kalau makanan dijadikan mainan, tapi ini bunda malah cuma ngaduk-ngaduk makanan sambil bengong dan di mana Claudia, kenapa dia enggak turun makan ke bawah. Bram sangat penasaran dengan tingkah bundanya.


 


"Bunda, Bram sudah pulang". Bram menyapa bundanya sambil duduk disebelah kursi si bunda


 

__ADS_1


"Ohh, sudah pulang nak? Sudah makan? Ayo, makan bareng bunda yuk". Ajak bunda kepada Bram untuk menutupi keterkejutannya karena suara Bram tadi menyadarkannya dari lamunan.


 


"Belum bunda, aku memang sengaja ngak makan di luar supaya bisa makan malem bareng bunda dan Claudia".


Jawab Bram.


 


"Kalau gituh bersih-bersih dulu Bram. Nanti, setelah itu baru makan bareng kita ya". Bunda menyuruh Bram agar mandi dulu.


 


"Siap bunda laksanakan", jawab Bram sambil bersikap seperti orang sedang memberi hormat.


 


Bunda hanya tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya itu. Semenjak ayah mereka meninggal, Bram benar-benar berubah. Bram berubah menjadi tulang punggung keluarga mengantikan sosok ayah mereka, Bram berubah menjadi lelaki pekerja keras demi memastikan bunda dan adik kesayangannya selalu hidup berkecukupan tanpa kurang apa pun seperti saat ayah mereka masih hidup. Tetapi dia tidak pernah lupa hal-hal kecil yang bisa membuat kehangatan keluarga tetap bertahan, seperti makan bersama baik itu sarapan dan makan malam bersama. Atau pun hari ulang tahun bunda dan adiknya. Walaupun sibuk menjalankan perusahaan warisan sang ayah, Bram tetap berusaha menjaga suasana hangat seperti itu sama seperti saat ayah mereka masih ada. Keluarga nomor satu dan Bram tetap menjaga itu. Bunda bersyukur anak lelakinya selalu ada untuk dia dan Claudia.


 


Tanpa disadari setitik butiran hangat jatuh di sudut mata bunda. Bram yang baru saja akan melangkah menjauh untuk naik ke lantai dua, kekamarnya sontak menghentikan langkahnya. Benar dugaanya, ada yang menganggu pikiran sang bunda. Pasti ada hubungan dengan Claudia, aneh saja tumben tuh anak ngak makan malam bareng. Pikir Bram dalam hati. Bram berjalan kearah belakang kursi makan yang diduduki bunda, serta merta tanganya direntangkan untuk memeluk bunda dari belakang. Diciumnya puncak kepala bundanya sambil berujar "bunda mau cerita sama aku?"


 


Bunda pun kembali meneteskan butiran hangat berikutnya dari sudut mata sedihnya. Dipegangnya kuat kedua tangan anak lelakinya itu. "Maaf ya nak bunda ngak maksud buat kamu cemas. Bunda ngak papah kok". Seakan bunda bisa membaca rasa khawatir pada diri Bram atas butiran hangat yang jatuh dari matanya.


 


"Bunda ngak perlu minta maaf sama aku, bunda justru harus cerita sama aku. Bunda ngak boleh sedih, kalau bunda sedih aku nanti gimana? Siapa yang bakal memanjakan aku kalau bunda sedih. Aku dan Claudia amat sangat membutuhkan bunda. Jadi bunda cerita ya, bunda kenapa?" Bujuk Bram terhadap bundanya.


 


Hehhh, bunda menghela nafas berat sebelum mulai bercerita. "Adik mu Bram, dia marah sama bunda. Bunda keberatan memenuhi keinginannya tentang kuliah di Bandung. Sekarang dia mengurung diri di kamar ngak mau makan bareng bunda nak".


 


 


"Bunda jangan sedih", Sambil menghapusa air mata di pipi bunda, "Bram bakal bicara sama Claudia ya". Dan sebelum Bram naik ke lantai dua, sekali lagi dia mencium puncak kepala sang bunda tercinta. Bunda pun hanya mengangguk dengan usulan Bram barusan.


 


Sebelum Bram berbicara dengan adiknya, dia pun mandi dan bebersih dulu di kamarnya. Tidak lama Bram pun berjalan ke kamar yang berada persis di sebelah kamarnya.


 


Tok, tok, tok


"Claw ini mas, boleh mas masuk?" Tanya Bram dari pintu luar kamar Claudia.


 


"Masuk aja mas, pintunya ngak di kunci kok". Sahut Claudia dari arah dalam kamar.


 


"Hai, lagi ngapain? Mas pulang kok ngak di sambut? Malah asyik berkurung di kamar. Lagi ngeram ya?" Tanya Bram sambil menyunggikan senyumnya.


 


"Maaf mas, aku ngak denger mas pulang". Claudia hanya menjawab singkat pertanyaan Bram.


"Kamu kenapa ngak makan bareng bunda di bawah. Kasihan loh bunda sendiri aja, untung mas cepat pulang kalau enggak mungkin kerjaan bunda hanya memainkan sendok di piring nasinya sambil nangis sampai tengah malem". Bram mulai mengajak Claudia bicara serius.


 


"Apa mas, bunda nangis". Ada rasa penyesalan di dalam hatinya. Semenjak ayah mereka meninggal, Claudia telah berjanji di pusara ayahnya. Dia akan menjadi anak yang patuh, akan menjaga bunda dengan baik, tidak akan menyusahkan bunda apa lagi sampai membuat bunda menangis. Astaga apa sudah ku lakukan,  timbul perasaan menyesal di dalam hatinya.


 

__ADS_1


"Iya bunda nangis tuh di meja makan. Bisa kamu ceritakan sama mas penyebabnya", tanya Bram pada Claudia.


"Maafin aku mas, mungkin pertengkaran aku sama bunda sore tadi penyebabnya. Mas, bunda ngak adil. Aku dil larang kuliah jauh-jauh dari bunda. Aku ngak boleh kuliah keluar, di sini aja. Trus setelah aku bujuk-bujuk bunda pun luluh juga. Aku dibolehkan lanjut kuliah keluar, tapi..tapi di Semarang mas. Padahal aku maunya ke Bandung mas seperti Sinta, Tanto dan Rama. Kami dah janji mas, akan sama-sama lanjut kuliah di Bandung. Tapi bunda larang, kata Bunda kalau ngak mau kuliah di Semarang ya udah lanjut kuliah di sini saja deket sama bunda. Aku ngak mau mas, aku ngak mau kuliah di sini. Masak iya dari lahir sampe dah besar gini aku di sini aja mas. Aku kan juga pengen belajar mandiri, belajar dewas dan menimba ilmu di universitas yang aku impikan". Penjelesan lebar dari Claudia kepada Bram.


 


"Trus, masih ada yang belum mas dengar?", tanya Bram kemudian.


Claudia tertunduk lesu, ragu untuk melanjutkan. Kemudian ditatapnya mata kakak laki-lakinya itu dengan penuh rasa bersalah. "Mas, aku..aku tadi, bilang, bilang kalau bunda jahat sama aku, akuu, akuuu bilang kalau aku ngak sayang sama bunda mas". Suara parau dan terbata-bata Claudia terdengar oleh Bram. Bram mengeleng tidak percaya, seorang Claudia si anak manja sanggup berbicara seperti itu pada bunda mereka.


 


"Mas, maafin aku, hiksss", akhirnya tangis Claudia pecah.


Bram duduk di kasur disebelah adiknya, memeluk Claudia untuk menenangkanya. Claudia salah dan setidaknya sekarang dia sudah menyesal atas sikapnya pada bunda tadi. "Kamu tahu apa kesalahan mu?", tanya Bram pada adiknya. Claudia pun menganggukan kepalanya.


 


"Apa kamu pernah tanya pada bunda kenapa bunda hanya memberi mu pilihan lanjut kuliah di sini atau kalau mau lanjut kuliah di luar hanya boleh di universitas yang berada di Kota Semarang?" Tanya Bram pada Claudia. Dan Bram merasa gelenggan kepala adiknya.


 


"Claw..setelah ayah meninggal, kamu pasti tahu seperti apa beratnya perjuangan bunda untuk mencoba menjadi figur bunda dan sekaligus menjadi figur ayah buat kamu. Bunda selalu saja ingin kamu tidak merasaka kekurang sempurnaan hidup dalam sebuah keluarga. Bunda sangat menyayangi mu lebih dari apa pun, semua yang bunda lakukan untuk mu selalu ada alasan di balik semuanya. Yaitu bunda takut kamu akan merasa berbeda dengan teman-teman mu yang keluarganya utuh, lengkap karena memiliki ayah. Mas terlalu sibuk di perusahaan ayah, hanya bundalah yang selalu bersama mu. Kenapa Claw, kenapa kamu ngak bisa mengerti sikap bunda? Selalu ada alasan di setiap cara bunda memperlakukan mu kan selama ini? Kenapa malah kamu bilang bunda jahat?" Bram mencoba mengingatkan adiknya betapa sayangnya sang bunda padanya. Jarak usia Bram dan Claudia sepuluh tahun, jarak umur yang lumayan jauh.


 


Saat ayah mereka meninggal lima tahun yang lalu, Bram baru saja menamatkan pendidikan sarjana di Singapura. Setelah memperoleh gelar sarjana di bidang ekonomi bisnis, dia pun kembali ke Indonesia tepatnya ke Kota Bengkulu, pulang ke keluarganya untuk mengambil alih tugas sebagai kepala rumah tangga dan bertanggung jawab atas perusahaan yang di miliki ayahnya. Bram sibuk, sangat sibuk sehingga masa-masa pemulihan adiknya dari duka di tinggal sosok ayah hanya sang bunda sebagai penenangnya. Saat itu Claudia baru duduk di bangku kelas delapan SMP, bunda selalu ada untuk Claudia.


 


Ya, itulah bunda..bunda terbaik yang mereka miliki. Tetapi pola pikir ke kanak-kanakan adiknya saat ini telah membuat sang bunda bersedih.


 


"Mas, mas, hikss, ma..ma,aafin aku, hikss". Suara Claudia terputus di sela tangisnya. "Jangan minta maaf sama mas, tapi sama bunda. Bunda sangat sedih Claw". Jelas Bram.


 


"Iya mas, aku mau minta maaf sama bunda". Claudia menatap mata Bram.


Bram melepaskan pelukannya dari sang adik dan menyeka air matanya. Hidung mancung si adik sudah memerah karen menangis.


 


"Ayo, kita temui bunda di bawah", ajak Bram sambil memegang tangan Claudia.


Saat Bram dan Claudia sampai di meja makan, Claudia langsung berlari memanggil bunda mereka.


 


"Bunda, bundaaaaa..maafin Claw bun, hiksss, maafin Claw ya bun, hiksssss". Suara tangis Claudia pecah dalam pelukan bunda.


Bunda memeluk dan mencium ubun-ubun kepala anak gadis kesayangannya sambil berujar, "iya sayang bunda sudah maafin Claw kok. Udah, jangan nangis lagi".


 


"Bunda sedih gara-gara Claw kan? Bunda, maafin Claw, hikss", air mata Claudia tetap tak mau berhenti berjatuhan.


"Sudah, sudah sayang", bunda pun ikut menangis melihat sang putri bersedih. Tidak sampai hati rasanya bagi bunda melihat gadis kecilnya menangis, walaupun bunda tahu tangisan yang keluar itu adalah tangisan rasa bersalah, rasa penyesalan sang putri.


 


Akhirnya bunda dan Claudia berbaikan malam itu, bi Darmi yang melihat majikan besar dan majikan kecilnya saling berpelukan, saling memaafkan dalam keharuan tidak kuasa menahan air matanya. Bibi ikut larut terbawa suasana. Bram pun berjalan mendekati si bibi dan hendak memeluknya, "cini, cinihhh, Bram peyuk bibi, biar ngak cedih". Ucap Bram sambil tersenyum mengoda si bibi dengan suara yang diimut-imutkan.


 


Bi Darmi pun sontak kaget dan menjulurkan tangan kedepan bermaksud menghalangi  ulah jahil juragan mudanya itu. "Hahahaa, den, den, sudah jangan goda bibi. Nanti aden naksir sama bibi kan jadi berabe buat nolaknya". Jawab santuy si bibi sambil berlalu ke arah dapur.


 


Bunda dan Claudia tertawa terbahak-bahak melihat Bram yang mengaruk-ngaruk kepalanya walupun sebenarnya dia merasa tidak gatal sama sekali pada bagian kepalanya itu. Kemudian dia pun menuntun bunda dsn adiknya menuju meja makan, sebenarnya Bram sudah merasa sangat lapar sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2