
PASAR MALAM
❤❤❤❤❤❤
Jangan di tanya bagaimana cara Galih mengendalikan emosinya setelah mendengar cerita Ari teman baru Claudia tadi. Dia sangat tahu siapa tokoh utama yang telah menelantarkan Claudia hingg dua jam, pasti Gilang pelakunya. Apa yang ada dalam pikiran anak itu? Kenapa dia menjadi begitu teledor, andai sesuatu hal yang buruk menimpa Claudia, bagaimana cara dia bertanggung jawab pada Bunda Amelia, pada Papa dan Mama. Ya Tuhan, pasti Claudia sangat ketakutan kemaren. Sendirian menunggu di tempat baru selama dua jam, astaga Gilang, dua jam. Begitu banyak peluang kejahatan terjadi pada Claudia di rentan waktu dua jam itu.
Tetapi Galih berusaha mengendalikan diri, walaupun tahu Claudia telah berbohong saat ia tanya semalam kenapa terlambat pulang, tetapi semua pasti ada alasanya. Galih mencoba menghargai alasan Claudia tidak ingin jujur menceritakan apa yang telah terjadi saat dia di tanya. Sudahlah, masalah Gilang nanti saja aku urus di rumah. Sekarang yang penting membawa Claudia bersenang-senang dulu agar tidak terlalu larut bersedih karena kepulangan Bunda Amelia.
"Jadi sudah diputuskan belum mau kemana kita". Tanya Galih kepada Claudia.
"Boleh keduanya Mas, hahaha?" Tanya Claudia sambil tetawa.
"Tentu saja boleh, tapi Mas takut kita pulang agak malam. Papa sama Mama pasti gak suka kalau Mas bawa kamu pulang malam. Jadi gini aja, malam ini kamu pilih opsi apa dan sisanya yang tidak ke pilih kita jadikan rute perjalanan kita besok, gimana?" Jelas Galih.
__ADS_1
"Boleh Mas, ide yang cemerlang", puji Claudia pada Galih. "Bagaimana kalau malam ini kita ke pasar malam aja Mas, sudah lama Claw gak main di wahana pasar malam. Di sini pasar malamnya sama gak ya Mas seperti di Bengkulu? Trus, nontonya besok saja?". Tanya Claudia dengan pilihannya.
"Okeh, tentu saja boleh". Galih kemudian membawa mereka menuju lapangan serba guna tempat lokasi pasar malam diselengarakan. "Nanti kita coba semua wahana dan permainan di sana, biar kamu tahu apa ada yang beda dengan pasar malam di kota kelahiranmu".
Mata coklat Claudia bersinar penuh kebahagiaan, rasanya senang tidak terkira. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih Pada Galih karena membawanya ke lokasi pasar malam.
"Mau main apa?" Tanya Galih saat sesaat kemudian.
"Okeh ayo kita ke sana, akan Mas dapatkan boneka itu buat kamu". Ajak Galih dengan semangat.
Setelah dua kali gagal, pada kesempatan ke tiga Galih berhasil menembak sasaran dengan tepat. Alhasil boneka beruang warna cream berhasil dihadiahkannya untuk Claudia. Betapa senangnya Claudia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan boneka tersebut, Galih yakin kalau di beli di toko boneka harganya pasti tidak mahal. Tetapi cara Claudia merengek untuk memiliki boneka tersebut bahkan ekspresi matanya yang bersinar bahagia saat dihadiahkan boneka membuat hati Galih merasa bangga. Hanya dengan hal sesederhanan itu bisa membuat dia bahagia. Kamu memang masih sangat polos banget Claw.
__ADS_1
Selanjutnya Galih membawa Claudia menikmati wahana permainan ala masyarakat biasa, kincir angin, buayan kapal, tong setan dan komedi putar. Galih dapat melihat, hanya dengan membawa Claudia berada di arenan hiburan rakyat yang murah meriah itu, tawa bahagia Claudia tidak pernah berhenti. Sepertinya rasa sedih di tinggal pulang Bunda Amelia sedikit terobati.
Hari sudah menunjukkan jam delapan kurang, semua permainan telah mereka jajal. Galih memutuskan membawa Claudia pulang, tetapi sebelumnya dia ingin membawa Claudia menikmati kuliner khas Semarang terlebih dahulu. Saat akan keluar dari gerbang pasar malam, tanpa sengaja sejumlah anak-anak kecil berlarian ke arah mereka. Ternyata anak-anak tersebut berusaha mengejar badut lucu yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Mungkin karena anak-anak tersebut berlari sambil saling dorong saat melewati Claudia, membuat Claudia hilang keseimbangan. Cepat Galih menarik Claudia dan memeluknya, hampir saja Claudia terjatuh andai Galih tidak segesit itu.
Satu menit, dua menit, tidak ada yang melepas pelukan tersebut. Claudia terlalu bangga bisa di peluk manusia setengah dewa yang tampan dan baik tiada tara. Sedang Galih, diam tidak mengerti, yang jelas jantungnya berdebar cepat dengan adegan ini. Sulit untuk dijelaskan bagi akal sehatnya.
Mudah-mudahan gak sampe ketelinga Claudia debaran jantungku. Galih.
Udah tampan, baik, bijaksana dan sangat melindungi aku, Mas sebenarnya anak Papa Hartanto apa anak dewa sih. Claudia.
Dan entah siapa yang memulai, pelukan tersebut selesa. Sekarang berganti Galih yang memegang erat tangan Claudia. Seakan dia ingin memastikan Claudia selalu aman disisinya.
__ADS_1