
TERTAWA LEPAS
❤❤❤❤❤❤
Claudia memilih kembali pergi bersama Galih, memang pagi tadi Galih sengaja membawa mobil sendiri agar Papa, Mama dan Bunda Amelia bisa berangkat ke bandara bersama-sama dalam satu mobil. Mungkin sebelum berpisah, masih ada hal-hal yang ingin para orang tua itu bahas, dikarenakan waktu jumpa mereka yang relatif sangat singkat. Saat menutup pintu untuk Claudia dan berjalan ke arah pintu kemudia, Galih sempat mencari keberadaan mobil sang adik. Tetapi setelah melihat ke segala sisi parkiran, Galih tidak menemukan mobil Gilang di sana. Kenapa kamu mendadak pergi Gi?
"Claw yakin mau masuk bimbel hari ini?" Tanya Galih sebelum memutar kemudi untuk keluar dari parkiran.
"Iya Mas, aku harus masuk hari ini. Aku gak boleh ketinggalan materi Mas, aku harus sukses masuk ke universitas favorit supaya bisa buat Bunda bangga". Ujar Claudia dengan yakinnya.
"Gadis pintar". Terdengar suara Galih sambil mengacak lembut rambut Claudia.
"Mas, Mas Galih apa-apa sih, jangan ngacak rambut ku Mas".
Akhirnya Galih dan Claudia tertawa bersama, Galih tertawa mendengar suara protes Claudia padanya dan Claudia tertawa dengan keusilan Galih mengacak rambutnya.
__ADS_1
Akhirnya setelah menempuh perjalanan cukup lama, Claudia sudah berada tepat di depan gedung bimbelnya. Saat akan membuka pintu mobil, terdengar suara Galih memangil namanya.
"Claw, nanti Mau mas jemput jam berapa?"
"Gak usah Mas, nanti Mas repot jadinya. Biar Claw pulang di jemput Pak Adi aja". Jawab Claudia yang lebih memilih di jemput sopir ketimbang membuat Galih repot.
"Gak repot kok, Mas malah seneng loh bisa jemput kamu". Galih berusaha menyakinkan Claudia.
"Ya udah, nanti jam lima Mas jemput ya. Sekarang belajar dengan baik dan kalau ada apa-apa cepat telepon Mas ya". Perintah Galih yang langsung disanggupi Claudia.
"Daaaa Mas". Ujar Claudia saat melepas Galih pergi dari hadapannya.
Claudia melangkah menuju ruang kelasnya dengan bahagia, rasanya dia mampu melayang ke langit ke tujuh sekarang. Saking senang dengan khalayannya sendiri sampai-sampai Claudia tidak mendengar Ari, teman sekelas yang baru di kenalnya kemaren memanggil.
__ADS_1
Pelan Ari menepuk bahu Claudia dari belakang, merasa ada yang menyentuh bahunya Claudia segera berbalik dan mendapati Ari telah berdiri di belakangnya.
"Aku pikir gak akan bisa melihat kamu hari ini". Suara Ari yang terdengar bersyukur. "Sama siap jadinya kamu pulang kemaren? Aku balik lagi ke sini jam setengaj delapan kurang, tepi kamu sudah nggak ada. Aku sempat kawatir, takut kamu kena culik. Tapi sukurlah kamu gak papa, malah cenggar-cenggir gak jelas".
"Maaf ya semalam aku buat kamu cemas". Ujar Claudia sambil tersenyum. "Akhirnya aku di jemput juga kemaren, mungkin waktu kamu balik sini, aku dah menuju arah pulang, maaf ya aku sudah merepotkan kamu". Jelas Claudia.
"Hahahaha". Terdengar suars tawa pelan Ari, "santai aja lagi, sama sekali gak buat repot kok. Aku lega kamu gak papa. Jujur, malam aku pengem telepon kamu buat mastiin kamu pulang dengam selamat. Tapi setelah di ingat lagi, gimana caranya buat menghubungi kamu. Aku kan gak punya nomor telepon kamu, hahahaha". Ari merasa konyol sendiri.
Claudia pun di buat tertawa oleh cerita Ari barusan, di ingat kalau mereka belum bertukar nomor telepon kemaren. Jadi ya wajar saja kalau Ari tidak tahu cara menghubunginya.
Saat telah duduk di bangku masing-masing, Claudia dan ari pun saling bertukar nomor telepon. Dan setelah itu mereka serius mengikuti materi ajar yang mereka dapat hari ini. Terkadang sesekali terdengar suara Claudia dan teman-teman seruanganya saling melempar pertanyaan untuk meminta pemahaman lebih dari sang pengajar di kelas mereka.
__ADS_1