
WAKTUNYA FOKUS
❤❤❤❤❤❤
Kepulangan Galih dan Claudia ternyata sudah di tunggu oleh Papa Hartanto dan Mama Rachel, tidak di ketahui oleh Galih dan Claudia berapa lama persisnya ke dua orang tua tersebut telah menunggu mereka pulang, tetapi dapat di lihat dengan jelas dari raut wajah paruh baya pasutri itu, ada hal penting yang ingin mereka sampaikan.
"Pa, Ma, ada apa?" Sapa Galih pada ke dua orang tuanya. "Kata Bibi, Papa dan Mama menunggu kami". Tanya Galih kemudian.
"Oo, kalian sudah pulang ternyata". Papa langsung melihat ke arah Galih dan Claudia yang baru masuk di ruang keluarga.
"Pa, Ma". Claudia pun ikut menyapa Papa Hartanto dan Mama Rachel.
"Sini Clau, duduk dekat Mama". Pinta Mama pada Claudia.
Claudia pun berjalan menuju sofa yang tadi di tunjuk oleh Mama Rachel. Sedang Galih memilih duduk di dekat sang Papa.
"Galih sepertinya kita harus bagi tugas", Papa mulai berbicara setelah Galih duduk persis di sebelahnya.
"Ada apa Pa? Apa ada sesuatu yang sangat mendesak?" Tanya Galih kemudian.
"Galih, apa kamu mengikuti perkembangan kasus virus corona yang sedang marak sekarang ini? Kamu tahu dampaknya bagi perusahaan kita. Sekarang Kota Wuhan di isolasi, jalur kerata, udara, darat dan laut semua di tutup. Kota itu sudah seperti kota mati. Dan pemerintah China pun masih menutup akses penerbangan ke negara mereka, sementara kita belum satu tahun membuka cabang di sana. Nak, terbayang oleh mu bagaimana nasib keluarga para pekerja kita di perusahaan itu? Nasib pekerja kita orang Indonesia yang ada di sana? Papa benar-benar kawatir pada mereka. Bagaimana mereka melalui hari untuk bertahan, dan bagaimana nasih keluarga mereka di sini hidup dalam ketakutan akan keluarga mereka di sana?" Cerita Papa panjang lebar.
__ADS_1
"Iya Pa, aku ngerti maksud Papa. Dampak tentang kasus virus ini memeng luar biasa, bahkan kabarnya sekarang sudah dua belas negara yang terjangkit. Aku sebenarnya sempat berpikir juga Pa, bagaimana dengan nasib perusahaan kita di sana. Tadi pagi aku sempat video call dengan Pak Travis, menurut beliau kegiatan di perusahaan kita bisa dikatakan lumpuh. Para pegawai pabrik yang sebagian besar penduduk asli lebih menuruti anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah kecuali sangat darurat". Galih memberi informasi pada sang Papa.
"Oo, kamu sudah menghubungi Travis rupanya?" Tanya Papa.
"Iya Pagi sekali setelah aku sampai kantor". Jelas Galih.
"Itulah sebabnya tadi Papa bilang, saat ini kita harus bagi tugas. Gilang sudah Papa tugasnya memastikan humas kita mendapat data lengkap tentang keluarga pekerja kita asal Indonesia yang ada di sini. Papa mau data lengkap keluarga mereka, kita harus support mereka Galih. Terbayangkan nak bagaimana sekarang perasaan mereka, jadi selama kasus ini belum mendapat kejelasan, kita harus mensupport keluarga pekerja kita baik moril atau pun materil". Perintah Papa.
"Dan kamu, Papa minta untuk memantau cabang di Bandung dan Surabaya dalam kurun waktu satu sampai dua minggu ini, Gilang dia akan Papa minta fokus pada perusahaan kita di sini sambil menghibungi dan memastikan semua keluarga perkerja kita di China telah mendapatkan dukungan terbaik dari perusahaan kita. Sedang Papa sendiri akan ditemani Mama untuk memantau perusahaan kita di Jakarta. Papa benar-benar harus melihat seberapa stabil kondisi perusahaan kita di tiap-tiap cabang". Kembali Papa memberi perintah.
"Baiklah Pa, aku jamin bisa menyelesaikan semua tugas yang Papa bebankan pada ku. Papa dan Mama nggak usah kawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita". Jawab Galih menyanggupi permintaan Papa.
"Iya Pa, aku pasti akan berusaha". Galih kembali menyakinkan Papa.
"Nah, buat Claudia". Kemudia Papa mengalihkan padangannya ke arah Claudia. "Beberapa hari ke depan ini harus melakukan semua sendiri dula ya sayang, Papa dan Mama besok pagi langsung terbang ke Jakarta, kemudia Mas Galih mu juga harus ke Bandung dan Surabaya. Sedang Mas Gilang mu harus fokus pada perusahaan kita di sini. Jadi sementara ini Claw ke mana-mana sama Pak Adi dulu ya, dan Claw harus fokus ke bimbel. Kurang dua minggu lagi kamukan ujian masuk perguruan tinggi, jadi sebisa mungkin harus konsentrasi kepersiapan masuk perguruan tingginya, Papa minta kamu bisa sukses dengan pilihan mu".
"Trus, kalau bisa dari bimbel langsung pulang ya Claw. Bukan apa-apa, dengan situasi sekarang Mama sedikit kawatir kalau Claw kemana-mana, pokoknya kalau gak sama Gilang kamu gak boleh kemana-mana sendiri. Trus, ada apa-apa cepat hubungi Gilang, Mas mu itu memang sedikit sibuk tapi bukan berarti dia melupakan tanggung jawabnya sama kamu. Jadi jangan ragu untuk menghubungi dia. Ingat itu !" Perintah Mama pada Claudia.
"Iya Pa, Ma, aku bakal jaga diri baik-baik. Aku akan berusaha belajar sebaik mungkin demi bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku cita-citakan. Papa sama Mama jangan kawatir, aku akan berusaha sebaik mungkin dan aku akan berusaha mandiri agar gak terlalu merepotkan Mas Gilang. Apa lagi ada Pak Adi, Mama jangan kawatir ya". Pinta Claudia pada Papa dan Mama.
__ADS_1
"Benar kata Mama, Claw. Ada apa-apa cepat hubungi Gilang, atau Mas juga gak papa. Pokoknya jangan di simpan sendiri, mandiri itu bukan berarti semua resiko kamu hadapi sendiri, itu salah loh. Itu guna keluarga, kamu bisa berbagi suka duka sama kami semua". Jelas Galih.
"Iya Mas, aku ngerti. Mas jangan kawatir ya, Mas juga jaga diri. Trus jangan lama-lama di situ, pulangnya bawakan aku oleh-oleh ya Mas". Claudia mengajukan permintaan dengan wajah yang memelas.
"Hahaha" tawa Papa, Mama dan Galih berbarengan melihat tingkah Claudia.
"Kamu mau apa memangnya?" Tanya Galih.
"Mau Mas pulang cepat, sehat dan sampe sini aku di bawa main lagi". Jawab Claudia dengan semangat.
"Boleh, boleh. Tunggu Mas pulang ya". Galih tersenyum pada Claudia.
"Kamu ini", ujar Mama pad Claudia sambil membelai lembut rambutnya. "Main aja, padaha baru beberapa menit tadi Papa bilang supaya fokus belajar. Claw, Claw". Mama pun mencubit gemes hidung mancung Claudia.
"Heheheh". Claudia cengar cengir sendiri.
Selesai membahas tentang kondisi perusahaan keluarga besar Hartanto saat ini, mereka pun melanjutkan cerita bersama. Banyak hal yang mereka ceritakan satu sama lain, mulai dari virus corona yang di awal menjadi bahan pembicaraan, sepertinya virus ini memang topik menarik untuk di bahas. Sampai pada cita-cita Claudia kalau sudah lulus sarjana nanti. Tentu saja pembahasan tentang cita-cita Claudia membuat semua tertawa, bagaimana tidak masuk universitas saja belum tetapi pembahasannya sudah sampai pada point tamat kulian.
Tetapi bukan Claudia namanya kalau tetap tidak terpengaruh dengan tawa Papa, Mama dan Galih. Memang terkadang kepolosan itu sangat bermanfaat bagi Claudia, sehingga tanpa ragu dan malu dia terus bercerita tentang khayalannya yang sukses mendesain iklan terpopuler untuk produk wonderfull Semarang ke depan.
Papa, Mama dan Galih hanya menganggukan kepala dan mengiyakan semua cita-cita Claudia. Di dalam hati mereka berdoa, semoga mimpi Claudia suatu hari akan terwujud.
__ADS_1