
TAKUT
❤❤❤❤❤❤
Tepat jam enam sore, tetapi tanda-tanda keberadaan batang hidung Gilang belum juga ada. Claudia benar-benar marah, satu jam sudah dia menunggu tetapi yang di tunggu tidak tahu rimbanya. Tadi bilangnya janji jemput, harus tunggu sampai dia datang, gak boleh kemana-mana, harus tunggu dia. Lah sekarang dia kemana? GILANGGGG, kamu jahat banget, tadi baik-baikin aku, pake adegan buat jantung aku berdebar nggak sesuai ritme. Sekarang kamu buat jantung aku melemah gara-gara ketakutan menunggu di sini. Aku benci kamu GILANG, aku sumpahin kamu kesedak sampe nangis. Di dalam hatinya, Claudia sangat marah pada Gilang, tetapi jujur rasa takutnya sekarang lebih besar di banding amarahnya.
Sebentar-sebentar Claudia melihat jam tangannya, tidak berapa lama kemudian dia pun melihat ke arah jalan raya memperhatikan lalu lalang kendaraan berharap Gilang datang secepatnya. Tetapi tetap saja yang diharapkan tidak jua sampai dihadapannya. Pelan tapi pasti, matahari telah kembali ke peraduan, gelap mulai memperlihatkan kekuasaannya pada Claudia. Rasanya dia ingin menangis, baru sehari di Semarang nasibnya sudah seperti ini. Apa dia bisa bertahan hingga tamat kuliah nanti berada di Semarang? Claudia mulai meragukan keputusan sang Bunda tentang kuliah di Semarang. Kata Bunda keluarga Papa Hartanto baik, baik apanya Bunda. Bunda masih di sini aja, anaknya sudah lupa sama janjinya jemput Clow, gimana kalau Bunda pulang besok. Bisa-bisa anaknya ngusir Clow. Cloudia larut dalam pikirannya sendiri. Dan kembali dia mengulang kebiasaan barunya, melihat jam tangannya dan kemudian bergantian memperhatikan jalan raya.
Ya Tuhan, tolong lindungi Clow, Clow niat datang ke kota ini baik loh Tuhan, Clow mau lanjut kuliah biar bisa membanggakan Bunda dan mendiang Ayah. Percayalah Tuhan. Cloudia mulai berdoa di dalam hatinya, dia berharap rasa takut yang sekarang menghinggapinya akan berkurang seiring dengan doanya tadi.
Sementara itu di sebuah rumah mewah di kawasan elit, Gilang baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Sambil bersiul, Gilang berjalan menuju pintu depan.
__ADS_1
"Kok sepi Bi?" Tanya Gilang pada si Bibi yang membukakan pintu untuknya.
"Tuan sama den Galih belum pulang den. Mungkin terlambat pulangnya, kalau nyonya sama Bunda Amelia mungkin sebentar lagi den, tadi kata nyonya mereka mau makan dulu di luar baru pulang". Bibi menjelaskan situasi di rumah malam ini pada Gilang.
"Ooo, ya udah Bi, aku ke kamar dulu ya. Capek". Ujar Gilang.
Langkah Gilang terhenti melihat si Bibi yang sibuk memperhatikan ke arah garasi. Bibi lihat apaan sih, kenapa pintu belum di tutup juga? Gilang heran dengan gelagat si Bibi.
"Kenapa Bi, nyari apa? Kok pintunya belum di tutup? Tanya Gilang kemudian.
__ADS_1
"Itu den nunggu non Claudia, kok lama ya den masuknya? Aden suruh apa dia sampe belum masuk juga?" Tanya Bibi heran pada Gilang.
"APA BI", suara teriakan histeris Galih. "Tu anak kemana Bi? Pergi kemana dia belum balik jam segini?" Gilang mulai emosi. "Ini sudah jam tujuh malam loh, keterlaluan dia". Gilang melihat ke jam dinding yang terpajang beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Loh den kok tanya si non kemana sama Bibi? Bukannya pagi tadi aden yang bawa non Claudia ke bimbel. Bukan seperti itu perintah tuan dan nyonya sama aden?" Sekarang giliran Bibi yang panik.
"ASTAGA, mati aku. Aku lupa, ya Tuhan. Aku lupa jemput Claudia". Gilang sangat menyesal bisa melupakan untuk menjemput Claudia. Dia mulai panik, hari sudah malam, Claudia sendirian di luar sana. Gilang mendadak merasa takut, jangan sampai tuh anak kenapa-napa, bisa di coret aku dari daftar keluarga sama Papa dan Mama kalau tuh anak hilang. Secepat kilat Gilang berlalu menuju mobilnya di garasi. Tanpa pamit pada Bibi, Gilang berusaha mengemudikan mobilnya secepat mungkin ke lokasi bimbel Claudia.
Bibi hanya terdiam tidak percaya pada apa yang telah dilakukan majikan mudanya itu pada Claudia. Aden, aden..bisa-bisanya lupa sama non Claudia, bisa-bisanya aden lupa jemput. Duh gusti di mana si non sekarang, semoga dia nggak kenapa-napa. Aduh, non-non baru sehari di sini kok sudah jadi seperti ini. Belum tahu daerah, belum punya teman lagi. Non-non, semoga non Claudia baik-baik saja gusti. Bibi mulai cemas membayangkan Claudia yang sendirian malam-malam begini diluaran sana. Dalam hatinya si Bibi terus berdoa, semoga Claudia baik-baik saja di sana, semoga.
__ADS_1