
MAS GALIH YANG GANTENG
❤❤❤❤❤❤
Setelah merasa istirahat yang cukup, akhirnya Claudia beranjak dari peraduan barunya. Selanjutnya Claudia menyusun barang-barang bawaannya di tempat-tempat yang di rasa patut di dalam kamar itu. Selesai. Guman bangga Claudia memandangi susunan rapi baju, sepatu dan barang-barang lainnya yang telah selesai di susunnya rapi.
Selanjutnya Claudia memasuki kamar mandi, lanjut menikmati air hangat yang di rasa sangat pas untuk memulihkan kondisinya setelah perjalanan jauh tadi. Sangat segar dan terasa menyenangkan setelah itu, wajah cerah kembali menghiasi wajah cantiknya. Sesaat Claudia memandangi dirinya di cermin, rambut hitam yang basah itu sudah disisir rapi dan hasil dari pemandangan di kaca itu, memang memperlihatkan wajah cantiknya. Meski polos tanpa makeup sekalipun.
Claudia melangkah mendekati pintu kamarnya, di bukanya pintu itu dan di langkahkan kakinya keluar kamar. Saat hendak menutup pintu kamarnya, tiba-tiba pintu kamar di sebelah kamar Gilang terbuka.
Ehhhh, gantengnya, mimpi apa nyata ya? Itu serius orangkan? Duh..kok ada mahluk Tuhan yang seganteng ini ya. Tuhan memang maha *kuasa, begituh sempurna*hasil pahatannya pada diri lelaki itu. Claudia.
"Hei, lap tuh iler, jorok banget sih. Kamu lagi mikir apaan? Gak tau malu". Suara berat Gilang sukses membuat pujian-pujian yang tengah di suarakan hati Claudia terhadap lelaki ganteng di depannya melayang.
Secara naluri, Claudia langsung mengerakkan tangannya mengelap ke arah mulut dan dagunya. Tingkah polos Claudia membuat Gilang dan si lelaki ganteng tertawa, memang suara tawa si ganteng tidak sekuat Gilang. Terlihat jelas oleh Claudia kalau Gilang sangat bahagia berhasil mengerjainya.
Claudia kesal, wajahnya memerah menahan marah. Andai, andai saja si ganteng tidak ada di antara dia dan Gilang saat ini, pasti sudah dengan lancar dia mengeluarkan isi kebun binatang untuk memaki Gilang. Sabar, sabar, sabar Claw. Gak boleh terlihat mengerikan di depan ganteng. Ntar cari waktu ya Claw buat balas mahluk ajaib bernama Gilang itu. Claudia berusaha menenangkan diri sendiri.
"Sudah Gi, kamu tuh ya. Bisa gak jangan ganggu orang sebentar aja". Suara berat nam seksi Galih sukses keluar untuk memarahi Gilang. Ya, si ganteng yang sangat dikagumi Claudia itu adalah Galih, anak pertama Papa Hartanto dan Mama Rachel. Saat Claudia keluar kamanya, secara kebetulan Galih juga keluar dari kamarnya.
"Kamu Claudia kan, anak Bunda Amelia dan mendiang Om Harun Wicaksono?" Tanya Galih pada Claudia, "kamu cantik sekali". Puji Galih yang serta merta membuat Claudia bersemu malu.
__ADS_1
Cepat Claudia menenangkan hatinya, pujian Galih barusan membuat dia merasa ada masalah pada wajahnya, mendadak terasa anget-anget gimana gituh. "Iya benar, saya Claudia Mas. Mas, Mas Galihnya, sodara kandung manusia ajaib itu", sambil menunjuk Gilang yang sedang santai senderan di tembok kamarnya. "Apa Mas yakin sodaraan sama dia? Apa gak salah Mas? Pertanyaan Claudia dengan ekspresi polosnya.
"Apa maksud kamu?" Gilang merasa tidak senang dengan pertanyaan Claudia. Seumur-umur tidak pernah ada yang mengajukan pertanyaan bodoh tersebut. Sekilas orang memandang dua saudara itu, semua pasti bisa langsung menebak kalau mereka adalah sodara kandung. Secara mereka mirip banget kok, hanya beda di tinggi dan warna bola mata saja. Galih sedikit lebih rendah beberapa centi dari adiknya dan warna bola mata Galih hitam pakat, sedang Gilang bola matanya berwarna abu-abu mirip sama warna mata si Mama Rachel. Selebihnya tentu mereka sama pada tingkat ketampanannya. Rambut hitam tebal, alis mata rapi yang berwarna hitam, mata sedikit sipit, bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung, bibir sedikit berisi yang sangat seksi, serta dagu belah yang menyempurnakan lukisan indah Tuhan pada wajah mereka. Badan berotot dengan perut yang sespeck di balut kulit eksotik seperti warna tembaga, tidak putih tidak hitam, tetapi seperti warna tembaga. Cerah mengoda seakan meminta di belai setiap inci dari tubuh indah itu untuk membuktikan kalau mereka memang nyata, dua mahluk tuhan yang sangat sempurna.
Tahu kalau Gilang merasa tidak suka dengan pertanyaannya tadi, Claudia merasa sangat senang di dalam hatinya. sukur, kezel kan loh. Tawa Claudia di dalam hatinya.
"Hahaha", tawa pelan Galih. "Iya, ini adik aku", sambil nununjuk ke arah Gilang, "adik kandung dan adik semata wayang ku. Jadi kamu dah kenal sama Gilang, kamu yang sabar ya sam dia, dia memang suka usil".
"Iya Mas, gak cuma harus sabar tapi harus sangat sabar Mas". Claudia langsung meralat ucapan Galih barusan.
"Ayo ke bawah, sepertinya semua sudah menunggu kita". Galih mengajak Claudia turun.
Claudia mengangguk sambil mengikuti langkah Galih dan Gilang menyusul di belakang mereka. Sambil menuruni anak tangga Galih mengajukan pertanyaam pada Claudia. "Claudia sudah tau mau ambil jurusan apa?"
"Sudah Mas", jawab Claudia sambil memandang mata abu-abu itu. Duh gusti, ganteng banget sih mahluk yang ada di depan ku ini. "Claw pengen ambil jurusan seni rupa Mas". Jelas Claudia lengkap dengam senyum di bibir tipisnya.
"Wah, hebat mengambar dong kamu?". Galih kembali memuji Claudia.
"Hehehe, sekedar hobi Mas dan kedepannya pengen serius mendalami, ya biar bisa sukses dan buat bangga keluarga. Gitu loh Mas". Claudia merendah dihadapan Galih. Galih hanya manggut-manggut sambil tersenyum pada Claudia.
__ADS_1
Berbeda dengan Gilang yang berjalan di belakang mereka. Walaupun dia tidak dilibatkan dalam percakapan antara sodaranya dan claudia, tetapi dia sudah merekam beberapa informasi tentang Claudia di dalam pikirannya. *Cantik, masih rada polos dan gemar pada seni. Punya keahlian di bidang mengambar. Okeh, aku akan terus cari tahu lagi tentang kamu cantik. Emm, tentang pacar kok ngak di tanya juga ya sama Mas Gali*h tadi. Gilang merasa informasi penting itu belum di dapatnya.
Sampai di lantai satu, ternyata Papa, Mama dan Bunda memang sudah menunggu mereka. Claudia langsung berjalan ke arah Papa Hartanto dan menyalaminya. Papa Hartanto tidak percaya Claudia sudah besar, sudah dewasa. Keluarga Hartanto memang tidak pernah bertemu dengan Claudia, yang mereka kenal hanya Bramantio kakaknya Claudia. Saat mereka terakhir bertemu keluarga Claudia, Claudia belum lahir. Mereka tahu tentang Claudia hanya dari telepon saat ke dua keluarga ini bertukar kabar. Tetapi lihat wujud nyata dari seorang Claudia ya baru hari ini.
"Jadi anak gadis Papa sudah siap menjadi mahasiswa di sini? Gak bakal sedihkan jauh dari Bundanya nanti?". Tanya Papa Hartanto.
"Sudah Pa, jawab Claudia tenang sambil menatap Bundanya. "Mohon bantuan Papa juga supaya Claudia bisa jadi anak kuliahan yang mandiri nantinya". Ujar Claudia.
Papa Hartanto memandang kagum pada Claudia. Sepertinya Claudia sangat mirip dengan almarhum ayahnya, Harun pikir Papa Hartanto.
" Claw sudah kenal sama kedua Mas nya?" Sambil memandangi Galih dan Gilang bergantian.
"Sudah Pa, Mas Galih ganteng banget". Puji Claudia tanpa di sadarinya. Sesaat dia terdiam sendiri, waduh pake acara keceplosan lagi. ya Tuhan malunya. Claudia spontan menutup mulut dengan ke dua tangannya. Lagi mukanya bersemu merah.
Bunda mengeleng sambil tersenyum ke arah Claudia. Sifat Claudia masih sama, suka sulit mengerem kata-kata. Anak gadisnya itu masih polos, kadang terlalu spontan berujar tanpa melihat situasi tempat dia berada. Sedang Papa Hartanto dan Mama Rachel tertawa lucu melihat Claudia menunduk malu. Galih yang mendapat pujian dari Claudia cuma senyum-senyum sendiri, berbeda denga Gilang merasa dicuekin oleh Claudia. Sepertinya Claudia sama sekali tidak menyebut namanya tadi, hanya nama kakaknya saja. Gilang merasa kesal.
"Sudah Pa, kita makan dulu yuk, semua pasti sudah lapar. Ayo Mel, Claw kita makan dulu". Mama Rachel mengajak semua untuk makan malam bersama.
Begitulah malam tersebut berlalu di kediaman keluarga Hartanto. Mereka makan sambil berbicara ringan tentang berbagai hal. Tetapi terkadang pembicaraan lebih di dominasi oleh Papa, Mama dan Bunda Amelia, sepertinya para orang tua itu sedang bernostalgia tentang masa muda mereka dulu. Galih, Gilang dan Claudia hanya sesekali menimpali obrolan tersebut, pada cerita yang mereka tahu. Selebihnya mereka hanya ber-o ria saja atau pun tertawa bersama saat mendengar cerita lucu dari para orang tua mereka.
Hingga malam pun semakin larut, besok entah apa lagi yang akan mereka temui untuk mengisi hari mereka.
__ADS_1