
PULANG
❤❤❤❤❤❤
Gilang menarik tangan Claudia, perdebatan antara dia dan Claudia harus diakhiri. Mereka harus segera sampai ke rumah, bisa jadi ke dua orang tuanya, kakak tertuanya dan Bunda Amelia sudah sampai di rumah. Gilang harus segera sampai, jangan sampai di terlalu lambat sampai di rumah, bisa tambah marah keluarganya dan Bunda Amelia padanya. Gilang yakin kalau orang tuanya sudah sampai di rumah pasti Bibi sudah mengadukan dirinya pada keluarga dan Bunda Amelia.
Merasa tanganya di tarik Gilang, Claudia langsung berusaha melepaskannya. Dia benar-benar masih marah pada Gilang, ngapain pegang-pegang tangan aku. Batinnya kesal.
"Lepas, aku bisa jalan sendiri". Ucap kesal Claudia pada Gilang.
Gilang, walaupun tahu masih ada rasa tidak senang dalam nada suara Claudia barusan, tetapi tidak berniat melepaskan tangannya dari jari-jari Claudia. Gilang diam dan tetap membawa Claudia menuju parkiran, masuk ke dalam mobilnya.
Claudia sudah merasa lelah. Badan dan pikirannya sama lelahnya, lelah menunggu, lelah ketakutan dan lelah marah pada Gilang. Akhirnya dia memilih diam saja mendapati Gilang tidak bergeming untuk melepaskan tangannya.
Kemudian, mobil sudah diarahkan Gilang keluar dari parkiran bimbel, sekarang mereka sudah berbelok arah masuk ke jalan raya menuju ke rumah. Tiba-tiba terdengar bunyi, kruk, kruk, krukkkkkkk.
Astaga perut, kok kamu nggak sabaran sih tahan sampe ke rumah, padahal bentar lagi sampe lo. Kenapa juga bunyi sekarang. Claudia merasa malu sendiri dengan suara perutnya.
"Kamu laper?". Tanya Gilang sambil tersenyum mendengar suara protes dari dalam perut Claudia.
Merasa sudah tanggung malu, Claudia akhirnya menjawab pertanyaan Gilang dengan kesal. "Jelas aja laper, ini sudah lewat jam makan malam dan untuk kamu ketahui selama dua jam aku nunggu kamu, pihak bimbel nggak ada nyediain snack ma minum". Tanpa disadari Claudia bibirnya terlihat mencebek ke depan.
Gilang yang memperhatikan Claudia mencebek jadi tertawa sendiri di dalam hatinya, hahahahahaha..aku jadi gemes lihat kamu gituh, kamu tambah cantik.
__ADS_1
Gilang memberhentikan mobilnya di depan sebuah kafe, Claudia masih bingung di mana mereka sekarang. Jujur Claudia berharap Gilang segera membawanya pulang. Dia lapar, ingin makan kemudian dia ingin berendam dalam air hangat, dia benar-benar lelah. Pengalaman yang di dapat Claudia seharian ini benar-benar membuat dia lelah, ingin sekali rasanya segera merebahkan diri di ranjang barunya.
"Ngapain berhenti, aku mau pulang". Claudia bertanya dengan kesal.
"Turun". Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Gilang. Gilang pun diam menunggu Claudia turun.
Ya Tuhan, mau apa lagi nih orang? Kenapa suka benar di membuat emosi ku naik, belum sebulan di sini bisa kena penyakit darah tinggi aku karena dia.
Terpaksa, Claudia pun turun juga dari mobil. Dan lagi, Gilang mengenggam jemarinya menuntutnya supaya mengikuti langkah Gilang. Gilang membukakan pintu kafe dan masuklah mereka berdua ke dalam. Gilang memilih satu meja yang sedikit terpisah dari beberapa meja lainnya.
Tak lama datanglah pramusaji ke meja mereka. "Silahkan Mba, Mas mau pesan apa?" Tanya si pelayan dengan ramah.
"Aku nasi goreng seefood aja, minum greentea lathea", ujar Gilang pada si pelayan.
"Mba nya pesan apa?" Tanya pelayan pada Claudia.
"Pulang". Ujar Claudia sambil menunduk menatap tepian meja.
Pelayan menatap tidak percaya, matanya berkedip dua kali untuk memastikan suara Claudia barusan. Gilang bisa melihat dengan jelas kebingungan si pelayan antara telinganya yang salah dengar atau memang Claudia yang asal jawab. Kemudian Gilang cepat memilihkan pesanan makanan untuk Claudia kepada si pelayan yang masih takjub dengan pendengarannya barusan.
"Sama, maksudnya pesanannya sama dengan saya Mba". Suara Gilang sukses membuat si pelayan mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, makanan yang di pesan pun datang. Gilang langsung menyuruh Claudia makan dan dirinya pun makan dengan lahapnya.
Sesaat Gilang pun menghentikan aktivitas makannya, Gilang heran melihat Claudia yang masih setia dengan posisi awal mereka duduk tadi. Diam dan hanya menatap pinggir meja.
"Ayo makan, tapi tadi bilangnya laper". Gilang sekali lagi menyuruh Claudia makan.
Claudia mengeleng, kemudian "pulang". Ujar Claudia sambil menatap kesal pada Gilang.
"Habiskan makanan mu, setelah itu kita pulang". Perintah Gilang. Tetapi yang didapati Gilang tetap kediaman Claudia sambil menatap pinggir meja kembali. "Kalau kamu nggak habiskan makanannya, kita gak akan pulang. Kita di sini sampai besok. Mau?" Sepertinya Gilang mulai kehabisan kesabaran menghadapi aksi diam Claudia.
"Bodo". Jawab santai Claudia.
"Okeh, kamu yang paksa aku yah". Kemudian Gilang menarik kursinya ke sebelah Claudi. Sekarang posisi duduk mereka sudah bersebelahan tidak hadap-hadapan lagi. Kemudian "buka mulut kamu, aaaak sayang". Ujar Gilang dengan suara yang sengaja dikeraskan. Alhasil, semua tamu pengunjung kafe melihat ke arah mereka.
Claudia bisa mendengar silih berganti para pengunjung itu berguman sambil menertawakan dia, mereka menganggap tingkah Gilang yang ingin menyuapinya benar-benar norak. "Pasangan baru jadian tuh kayaknya, sibuk banget mesra-mesraan. Makan aja pake disuapin". Begituh suara pengunjung kafe disekitar mereka menertawakan aksi Gilang pada Claudia.
GILANG, nggak puas-puasnya kamu buat aku marah. Serius kamu mau buat aku kena penyakit darah tinggi. Upat kesal Claudia dalam hatinya.
"Kamu pikir aku bayi apa, pake disuapin segala. Awassss, kamu jauh sana. Aku bisa makan sendiri". Perintah kesal Claudia pada Gilang.
Gilang tersenyum melihat wajah Claudia yang jelas-jelas sedang menahan kesal padanya. Dia pun memilih melanjutkan makannya di posisi awal, duduk di depan Claudia.
Dalam diam Claudia menyuapi nasi goreng ke bibir mungilnya, enak. Ternyata nasi goreng itu enak, Claudia pun makan dengan lahapnya. Ternyata nasi goreng seefood itu bisa mengalihkan kekesalannya pada Gilang, Claudia terus menikmati suapan demi suapan nasi goreng yang diantarkan tangannya ke dalam mulutnya.
__ADS_1