
SABARRRR
❤❤❤❤❤❤
Terdengar suara mobil memasuki parkiran rumah besar keluarga Hartanto. Gilang berusaha memanjangkan telinganya agar bisa mendengar dengan jelas suara orang yang baru saja menutup pintu salah satu mobil, pasti itu dia. Setelah Bibi dan Pak Adi pergi meninggalkan Gilang sendiri, Gilang pun memilih duduk di ruang tamu. Dia memang sengaja menunggu Claudia pulang.
Gilang berusaha keras mendengarkan percakapan Claudia dan si pengantar di teras luar, hatinya memanas. Ingin sekali rasanya bagi Gilang untuk berlali keluar, membuka pintu mobil di sisi pengemudi, menarik kerah si pengemudi mobil dan memukulnya tampa ampun. Gilang tersenyum membayangkan imajinasinya itu, tetapi sesaat kemudian nyali Gilang menciut. Andai imajinasinya itu di wujudkannya, maka dapat dipastikan Claudia akan sangat marah padanya. Kemarahan Claudia sama dengan pupusnya harapan bagi Gilang untuk memilikinya. Tidak, Gilang tidak boleh melakukan itu.
Sabar, sabarrrrrr, buka pintu, senyum, sambut dengan baik. Gilang berusaha menasehati dirinya sendiri. Dan setelah aku bisa memiliki kamu, maka saat itu kamu tidak akan pernah lepas dari pelukan ku.
Sekali lagi Gilang berusaha mendengar isi percakapan antara Claudia dan teman lelakiya, hingga akhirnya Gilang yakin saat ini si pengantar telah pergi dari teras rumahnya. Gilang berdiri, membuka pintu depan sambil berusaha tersenyum. Senyum palsu yang di buat-buat, hanya untuk menyakinkan Claudia.
"Ma, Mas, ehhh, Mas udah pulang ya". Claudia tidak menyangka yang akan membukakan pintu rumah adalah Gilang.
__ADS_1
"Dari mana?" Tanya Gilang sambil terus berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahnya.
"Aku dari toko buku tadi Mas, habis itu pergi makan dan setelah itu baru di antar temen pulang". Claudia mencoba menjelaskan.
"Kenapa ke toko bukunya gak sama Pak Adi aja?" Gilang masih mengintropeksi Claudia, tetapi tetap dengan sikap yang di buat setenang mungkin.
"Kebetulan teman aku juga mau ke toko buku yang sama, jadi kami bareng Mas. Sekalian dia pengen traktir aku". Claudia jujur bercerita kepada Gilang.
Mas Gilang bikin serem deh, senyumnya di buat-buat trus pertanyaannya udah kayak polisi menyelidiki kasus besar aja. Mana sepi banget lagi, Bibi mana ya? Kok gak bukaain pintu. Kenapa malah Mas Gilang, aduh kok jadi horor ya, rada merinding gituh. Senyum Mas Gilang nakutin.
"Teman cowok Mas, teman aku di bimbel, namanya Ari. Kami baru kenal, tapi anaknya asik banget. Dia juga bertanggung jawab, dia jagain aku dengan baik. Mas ingat waktu Mas amnesia jemput aku di hari pertama aku bimbel? Nah, Ari yang temani aku Mas. Anaknya baik deh Mas, kapan-kapan aku kenalin sama Mas. Trus tadi itu aku pikir Mas belum pulang, jadi setelah mengantarkan aku, Ari langsung pamit. Segan katanya Mas, kalau lama-lama". Claudia memberi penjelasan panjang pada Gilang.
__ADS_1
Deg, deg, deg, tiba-tiba jantung Gilang berdebar cepat. Dia terkejut, hatinya menjadi ciut. Ingatan dimana dia telah menelantarkan Claudia sendiri selama dua jam di hari pertaman bimbelnya terbayang kembali, Gilang terpojok. Dia merasa malu sendiri, ali-alih ingin menceramahi Claudia ini malah dia diingatkan dengan kesalahannya dulu. Paranhya lelaki yang dicemburui Gilang justru mendapat predikat baik di mata Claudia. Gilang terdiam, mencoba menyusun kalimat bijak untuk menasehati Claudia.
"Besok-besok kalau mau kemana-mana di antar Pak Adi ya, kan udah janji sama Papa, kalau selama Mas sibuk saat ini, kamu akan pergi kemana-mana sama Pak Adi. Mas gak masalah kamu mau main kemana, tapi tolong bilang Mas dulu. Mas kan jadi kawatir kalau nanti kamu kenapa-napa, sukur-sukur teman mu tadi ternyata orang baik. Kalau enggak gimana? Kamu itu tanggung jawab Mas, jadi jangan buat Mas kawatir lagi!" Gilang membelai puncak kepala Claudia.
Mendapati perlakuan tersebut Claudia malah merasa tidak nyaman. Menurut Claudia sikap yang Gilang tunjukkan bukanlah sikap yang sebenarnya ingin ditunjukkannya. Claudia merasa Gilang terpaksa ramah dan lembut padanya, alhasil Claudia merasa bersalah. Mungkin sebenarnya Gilang merasa terbebani dengan tanggung jawab menjaga dia selama Papa, Mama dan Mas Galih tidak ada. Mungkin sebenarnya Gilang marah karena Claudia tidak izin dulu pergi setelah bimbel, karena itu Gilang bersikap demikian padanya malam ini.
Demi mempercepat adegan yang di rasa Claudia tidak nyaman itu, dia pun memilih segera untuk meminta maaf pada Gilang dan pamit masuk ke kamarnya.
"Maafin aku ya Mas, sudah menyusahkan Mas. Aku janji besok-besok gak akan gituh lagi, sekarang aku izin ke kamar dulu ya Mas, aku mau istirahat. Mas juga istirahat, besokkan pagi Mas udah harus berangkat kerja".
__ADS_1