KUPILIH DIRIMU

KUPILIH DIRIMU
Episode 11


__ADS_3

MENUNGGU


❤❤❤❤❤❤


Jam sudah menunjukkan waktu berakhirnya bimbel pada sore ini, semua sudah berkemas dan satu persatu berangsur-angsur meninggalkan ruang kelas. Claudia pun melangkah keluar kelas menuju teras depan gedung bimbelnya, sesuai janji Gilang padanya tadi pagi dia akan dijemput oleh Gilang  setelah jam pelajaran usai.


Teman-teman baru pada kelas Claudia berpamitan padanya saat mereka berselisih di depan teras gedung bimbel. Claudia pun melambaikan tangan pada teman-teman barunya saat mereka beranjak pergi dengan kendaraan masing-masing atau dengan jemputan masing-masing. Claudia melihat jam tangannya, jam lima lewat dua puluh menit. Batinnya membaca angka pada jarum pendek dan panjang jam tangan bertali putih dipergelangan tangannya. Dua puluh menit terlambat, apa macet ya, sampe Mas Gilang telat jemputnya. Claudia pun memilih duduk pada salah satu kursi yang tertata rapi di teras gedung.


 


"Eh, kok belum pulang? Kamu Claudiakan?" Tanya Ari Wijaya, salah satu teman baru Claudia di kelas bimbelnya tadi. Ari sangat terkejut melihat Claudia duduk sendiri di teras gedung, padahal semua teman-teman mereka sudah pulang dan gedung bimbel pun sudah di kunci. Kenapa nih cewek masih di sini? Nunggu siapa dia? pikir Ari saat melihat Claudia sendiri tadi.


 


"Iya aku Claudia, kamu Ari Wijayakan? Tanya Claudia balik. "Aku lagi nunggu jemputan, sepertinya telat". Jelas Claudia.


 


"Ooooo...nunggu jemputan", suara O yang panjang terdengar jelas keluar dari mulut Ari. "Iya aku Ari", Ari mengiyakan pertanyaan Claudia. "Kamu nunggu di jemput siapa?" tanya Ari kemudian.


 


"Jemputan dari anak Ibu kost", jawab Claudia asal. Sebenarnya Claudia mulai kesal dengan terlambatnya Gilang menjemputnya. Jadi dia pun menjawab pertanyaan Ari dengan asal, males banget rasanya memikirkan Gilang, rasanya dia pengen maki-maki tuh orang sampai puas.


 


"Hah, anak Ibu kost? Hebat dong tempat kost kamu, ada layanan jemput anak kost segala?" Tanya Ari tidak percaya.


"Ya, iya anak Ibuk kost aku". Jawab Claudia santai.


 


"Jam berapa kamu janji di jemput? Ini sudah mulai gelap loh?" Tanya Ari kemudian.


 


"Katanya tadi jam lima, tapi nggak tahu kenapa sampe sekarang masih belum datang juga, huuuuhhhh". Suara nafas berat Claudia karena menahan kesal akibat ulah Gilang yang terlambat jemputnya.

__ADS_1


 


"Emmm, udah coba hubungi?" Ari menatap Claudia.


 


Claudia mengelengkan kepalanya, "nggak bisa menghubungi, handphone aku abis baterai". Jawab Claudia sedih.


 


"Ini handphone aku, pake aja, kamu telepon gih anak Ibu kost kamu. Ini dah mulai gelap, kamu nggak mungkinkan nunggu di sini terus". Ari memberikan teleponnya pada Claudia.


 


"Makasih Ari, gak usah aja deh. Aku gak hafal nomor telepon tuh orang". Claudia baru mendapat nomor telepon Gilang pagi tadi saat mereka mau berangkat ke tempat bimbel ini. Jadi jangan salahkan Claudia kalau dia belum hafal angka-angka yang menjadi nomor telepon Gilang. Bisa saja sih dia menggunakan handphone Ari untuk menelepon Bundanya, kan bisa minta tolong Bunda supaya bilang ke Mama Rachel agar mengirim sopir untuk menjemputnya. Tetapi Claudia ingat pesan Bundanya pagi tadi, agar Claudia jangan merepotkan keluarga Papa Hartanto dan dia harus belajar mandiri. Ahh, gimana ini? Claudia mulai ragu.


 


"Ya udah..kalau aku antar gimana?" Ari memberi solusi baru pada Claudia.


 


 


"Ayo", ajak Ari mengarahkan Claudia keparkiran. Ari memberikan helm cadangan pada Claudia dan dia pun menghidupkan motor sportnya.


 


Motor sudah dihidupkan, helm sudah diberikan pada Claudia, tetapi Claudia malah diam mematung berdiri di belakang motor. Kenapa lagi, kok diam. Ari heran memandangi Claudia dari kaca spion motornya. "Kenapa?" Tanya Ari kemudian.


 


"Aku gak tahu alamat kost ku". Jawab Claudia pelan.


"Hahhhhhh, APA, ya Tuhannnn, kamu gak tahu alamat kost kamu? Claudia, kamu jangan becanda deh. Ini tuh dah mau magrib". Ari benar-benar di buat terkejut dengan jawaban Claudia tadi. Walaupun Claudia menjawab dengan suara pelan, telinga Ari bisa mendengar dengan baik jawaban Claudia yang sukses membuat dia merasa tidak percaya.


 

__ADS_1


"Ya maaf, aku memang gak tahu alamatnya. Aku baru di sini, baru kemaren sampe di Semarang. Pagi ini langsung bimbel, dijanjikan pulang di jemput. Mana ke pikir buat tanya alamat, lagi pula aku mana nyangka bakal dapat kejutan seperti ini, pake acara telat di jemput". Suara Claudia tambah pelan.


 


Ari mengusap prustasi wajahnya, nih cewek kasihan amat sih. Mau di antar gak tahu alamat, mau di tinggal kasihan. Aduh aku harus gimana? Mau diselamatkan bawa pulang, emmm..apa dia mau ya?


 


"Jadi sekarang gimana? Aku gak bisa temenin kamu buat nunggu, aku ada janjian jam setengah tujuh nanti". Sekerang Ari sudah tidak punya solusi lagi untuk Claudia.


 


"Kamu lanjut aja", jawab Claudia sambil mengembalikan helm cadangan yang tadi diberikan Ari padanya. "Aku nunggu aja lagi. Mana tahu bentar lagi jemputan ku datang".


 


" jujur aku ragu tinggalin kamu sendiri di sini. Kalau kamu cowok sih masa bodo, tapi ini kamu cewek mana baru lagi di sini. Kamu belum kenal daerah dengan baik, tapi aku benar-benar harus pergi. Aku sudah terlanjur janji". Ari bingung harus bagaimana sekarang.


 


"Udah kamu jalan aja, nanti kamu malah terlambat. Ini sudah hampir jam enam loh. Aku nggak papah, percaya deh. Bentar lagi jemputan ku pasti datang". Claudia mencoba menyakinkan Ari. Sebenarnya Claudia juga tidak tahu harus bagaimana sekarang selain pasrah menunggu Gilang datang menjemputnya. Kalau di tanya perasaannya saat ini, Claudia mulai di serang sedikit rasa takut. Apa yang di bilang Ari barusan memang benar, sendiri menunggu di teras gedung, tempat baru daerah baru, rasanya sangat tidak berdaya. Tetapi apa ada pilihan lain, tidak mungkinkan dia melarang Ari pergi dan duduk diam di sampingnya sampai Gilang datang.


 


"Kamu yakin?" Ari merasa ragu meninggalkan Claudia.


 


Claudia mengangguk sambil memperlihatkan senyum terbaiknya.


 


"Emm, gini aja. Kamu baik-baik tunggu jemputan di sini. Aku pergi sebentar, maaf aku benar-benar gak bisa temani kamu. Tapi aku cuma bentar kok, jam tujuh aku bakal balik ke sini. Andai saat aku balik  ke sini kamu belum di jemput juga, mau gak mau kamu ikut aku pulang. Kita cash handphone kamu di rumah ku, hubungi keluarga kost mu dan tunggu mereka jemput kamu di rumah aku sampe datang". Untuk saat ini hanya itu yang bisa dilakukan Ari, dia benar-benar harus pergi. Ari sudah janji pada Mamanya akan menjemput adiknya dari les baletnya jam setengah tujuh ini.


 


Claudia mengiyakan semua perkataan Ari. Dia pun kembali duduk di kursi teras gedung bimbelnya sambil memperhatikan motor sport Ari berlalu dari pandangan matanya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2