
BERCERITA (2)
❤❤❤❤❤❤
Si pemilik mata abu-abu benar-benar sudah terpancing emosi, hingga tanpa disadarinya sekarang badannya telah berbalik dan siap melangkah menuju Claudia yang sedang asyik bercerita bersama teman lelakinya.
Tetapi baru saja kaki si mata abu-abu hendak melangkah, suara lelaki yang tadi berjalan dibelakangnya sontak membuat dia berhenti. "Mas mau kemana? Apa ada barang yang tinggal? Biar saya yang ambilkan".
"Ooh, tidak, tidak", jawab si mata abu-abu cepat.
"Kalau begitu silahkan Mas". Ujar si laki-laki pendamping mata abu-abu, sambil membukakan pintu kafe untuknya.
"Nando, kamu lihat wanita yang duduk di meja itu", ujar si pemilik mata abu-abu pada Nando, lelaki yang sedari tadi mengikutinya. "Iya Mas, ada apa memangnya Mas?" Tanya Nando kemudian.
"Cari tau semua tentang lelaki yang bersama wanita itu, detail!" Sejurus kemudian, mata abu-abu memberi perintah pada Nando.
Siapakah wanita itu ya? Perasaan itu buka Novi deh pacar si bos. Wanita itu lebih cantik walaupun tampilan makeupnya sangat sederhana. Lantas kala bukan Novi kenapa si bos pengen aku selidiki lelaki yang sedang bersamanya? Tapi kayaknya si wanita sama si laki-laki itu seumur deh, masih muda banget. Mereka siapanya Mas Gilangnya?
__ADS_1
Nando, sekretaris Gilang bingung mendapati perintah dari Gilang barusan. Ya, si pemilik mata abu-abu tidak lain dan tidak bukan adalah Gilang. Entah faktor kebetulan dari mana, saar Gilang akan meninggalkan kafe bersama Nando sekretarisnya, setelah mereka selesai bertemu client. Malah akhirnya mendapati suguhan yang luar biasa, betapa terkejutnya Gilang mendapati Claudia ternyata ada di kafe tersebut sedang tertawa lepas bersama seorang lelaki. Gilang marah atau lebih tepatnya cemburu. Cemburu untuk alasan apa dia sendiri tidak tahu, yang jelas dia tidak suka melihat Claudia bersama laki-laki lain, dia tidak rela dan mereka begitu dekat, begitu akrab.
"Maaf Mas, boleh tau apa dasarnya kita menyenlidiki lelaki tersebut? Sepertinya lelaki itu masih remaja sama seperti gadis cantik yang tengah bercerita bersamanya itu". Sepertinya Nando memang di buat penasaran dengan perintah atasannya itu.
"Kamu cukup menjalankan perintah saya, dengar?" Gilang mulai sulit mengontrol emosinya.
"Ba,baik Mas". Hanya itu yang bisa Nando katakan. Dia sedikit terkejut mendapati sang majikan seperti sedang menahan amarah yang besar saat ini.
Lihat saja nanti Claw, saat kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya. Aku akan memberikan mu seribu satu aturan yanhg akan mengikatmu seumur hidupmu. Sehingga tidak akan pernah ada satu orang pun lelaki yang bisa sedekat itu pada mu, kecuali aku. Hanya aku saja Claw.
"Dosakan ngejek aku". Ucap Ari sambil mengelus lembut punggung Claudia.
Astaga, lama-lama bisa hilang kontrol diri ku melihat lelaki itu begitu leluas menyentuh Claudia.
Gilang.
__ADS_1
"Mas Gilang, mobil sudah terparkir diluar. Kita berangkat sekarang?" Nando mengajak Gilang pergi.
"Hemmm", jawab Gilang seenaknya sambil terus mengepalkan tinjunya. Marah, dan sekarang dia semakin marah.
Nando membukakan pintu untuk Gilang dan merek pun pergi meninggalkan kafe, meninggalkan Claudia yang masih terbatuk-batuk dan masih terus di elus punggungnya oleh Ari.
"Aduh, pedih banget tengorokan ku". Ujar Claudia sambil menghapus air matanya. Sepertinya akibat batuk yang mendadak tadi, Claudia sampai meneteskan air mata.
"Aku tahu kamu laper, tapi biasa aja makannya. Enggak bakalan ada yang mintak nasi goreng seefood mu kok, habisin deh tu sendiri, tapi pelan-pelan aja". Canda Ari pada Claudia.
"Ihh, kamu tuh Ri. Temen lagi kesakitan malah dibecandain juga. Nggak takut kena kutuk kamu?" Ujar Claudia seenaknya.
"Hahahahah, di kutuk lolos masuk universitas yang aku impikan? Mau dong" jawab Ari sambil menyatukan kedua tangannya, bersikap seperti orang memohon.
"Hahahahaha, ngayal trusss". Claudia kembali di buat tertawa oleh sikap Ari barusan.
__ADS_1