
MEREKA SANGAT SERASI
❤❤❤❤❤❤
"Mas, Mas, lihat itu, lucu ya Mas. Warna-warni semua, bagus Mas". Suara riang Claudia saat melihat keramian di Simpang Lima.
"Kamu mau kita berhenti dulu? Mau main di sini dulu?" Tanya Galih saat mendengar suara riang Claudia.
"Gak Mas, lain kali aja. Sekarang boleh kita, emm..makan aja, laper". Ujar Claudia dengan sedikit malu.
"Hahahaha" tawa Galih, "kok bilang laper aja malu gitu?" Hahahaha, jujur aja lagi. Dah laper banget lagi ya, masih bisa tahan? Bentar lagi kita sampe". Jawab Galih atas pertanyaan Claudia tadi.
"Masih kok Mas", jawab Claudia pelan. "Maaf ya Mas, aku nokak ya". Claudia merasa sikapnya barusan sangat tidak pantas.
"Loh, yang bilang norak siapa? Gak boleh asal narik kesimpulan ya Claw. Udah, kamu santai aja. Sama Mas ini juga kok kayak sama siapa aja". Galih merasa kalau Claudia masih merasa malu.
Perjalanan mereka menuju restoran yang dijanjikan Galih pun berlanjut, dan di sepanjang perjalanan mereka asyik bercerita tentang berbagai hal, tentang masa kecil Claudia, hingga ke mantan pacar Claudia. Bahkan dari cerita Claudialah Galih tahu kalau ternyata Claudia baru satu kali pacaran. Tetapi itu bukan cinta pertamannya, Claudia sendiri tidak begitu yakin apa alasan dia akhirnya memutuskan untuk mau menjalin hubungan cinta masa SMA-nya dulu. Yang jelas dia tidak pernah merasa irama debaran cepat di jantungnya saat bersama sang pacar. Bahkan saat pacarnya minta break dulu dengan alasan supaya mereka bisa saling intropeksi pun Claudia mengiyakan saja. Hingga akhirnya mereka tidak saling komunikasi dalam waktu yang lama dan kisah mereka selesai tanpa ada kata putus, hebatnya Claudia sama sekali tidak merasa sedih.
"Jadi apa alasan setuju buat pacaran waktu itu?" Tanya Galih kemudian, Galih sedikit penasaran ternyata.
"Ya, apa ya Mas, aku juga bingung sih", jawab Claudia sambil mengaruk kepalanya. Padahal dia tidak merasa gatal pada bagian tersebut. "Mungkin Mas, mungkin tapi ya Mas. Itu karena cowok itu semangat mengejar aku, dia selalu berusaha buat menyakinkan aku. Lama-lama aku luluh juga Mas". Ujar Claudia dengan prediksinya sendiri.
"Luluh tanpa merasakan cinta?" Galih tetap ingin tahu.
"Emm mungkin, iya Mas". Jawab Claudia kemudian.
Itu gak masuk kategori menerima karena kasihankan Claw? Galih.
Kira-kira aku jahat banget gak sih pada saat itu? Claudia.
-------------------------
Acara makan malam pun selesai, Galih senang saat Claudia menikmati menu mie kopyok dan sate kudusnya dengan lahap. Terlihat Claudia menikmati suap demi suap yang dihantarkan jari lentiknya ke arah mulut, sepertinya Claudia buka tipe wanita pemilih makanan, jadi dengan kuliner khas Semarang pun Claudia bisa melahapnya sampai bersih.
Kenyang dengan makan malam mereka, Galih pun mengarahkan mobilnya untuk pulang ke rumah. Senyum bahagia tertoreh di wajah Claudia.
__ADS_1
"Mas, makasih ya buat hari ini. Sudah mau ngantar aku bimbel, jemput aku, bawa aku main, ajak makan menu khas Semarang, makasih ya Mas sudah buat aku seneng. Rasanya kesedihan di tinggal Bunda pulang dadakkan bisa sedikit terobati". Ucap tulus Claudia.
"Sama-sama, Mas seneng kalau bisa buat Claw seneng. Dan Mas akan sedih kalau lihat Claw sedih". Ujar Galih sambil menatap Claudia.
"Mas memang orang baik, Mas tampan, bijaksana dan baik. Aku suka sama Mas". Ujar Claudia dengan santainya.
"Suka?" Tanya Galih penasaran
"Iya Mas suka, suka seperti sama oppah Korea". Jawab Claudia dengan polosnya.
"Hah", Galih tidak percaya kalau rasa suka yang di maksud Claudia sama dengan rasa suka terhadap artis Korea, seperti rasa suka fans dan idolanya.
Aku pikir suka yang sesungguhnya Claw.
"Kenapa Mas ada yang salah?" Tanya Claudia heran karena jelas terdengar nada suara tidak percaya dari Galih barusan.
Galih menjawab pertanyaan Claudia hanya dengan gerakan mengacak-acak rambut Claudia dan akhirnya sukses membuat Claudia berteriak protes.
-------------------------
"Terima kasih Bi". Ucap Galih pada Bibi yang telah menyambut dan membukakan pintu untuk dia dan Claudia.
"Sama-sama den". Jawab Bibi.
"Di mana Papa dan Mama, Bi?" Tanya Galih sambil mengandeng tangan Claudia masuk ke dalam rumah. Ternyata setelah kejadian Claudia nyaris jatuh di pasar malam tadi, saat mereka berjalan Galih selalu mengandeng tangan Claudia. Bahkan di dalam rumah keluarganya pun, Galih tidak melepaskan genggaman tangannya pada Claudia.
"Tuan dan Nyonya di ruang santai den". Jawab Bibi sambil memperhatikan tangan Galih dan Claudia saling bertautan.
Galih mengiyakan informasi dari Bibi dan mengarahkan Claudia agar mengikutinya ke ruang santai keluarga mereka.
"Malam Pa, Ma". Suara Galih menyapa ke dua orang tuanya.
__ADS_1
"Pa, Ma". Claudia pun ikut bersuara.
"Galih, Claudia. Jadi ke pasar malamnya?" Tanya Mama kemudian.
"Jadi dong Ma, ini baru balik. Kami gak pulang kemaleman kan Ma?" Tanya Galih kemudian.
"Gak kok nak, kalian gak pulang malem. Gak terlambat sama sekali, lagi pula keberadaan kalian jelas di mana. Jadi Mama sama Papa gak kawatir. Iyakan Pa?" Ujar Mama.
"Iya yang penting Galih bisa jaga Claudia dengam baik. Ingat itu!" Perintah Papa pada Galih. "Gimana pasar malam di sini Claw? Sama dengan di Bengkulu?" Tanya Papa pada Claudia.
"Pasar malamnya menyenangkan Pa, Ma. Rame banget, opsi mainannya banyak. Ini boneka yang aku pegang Mas Galih yang dapatin Pa". Ujar Claudia dengan bangganya.
"Oya..hebat kamu Galih". Mama berbicara sambil menatap pada Galih.
Sementata Galih hanya tersenyum biasa saja, beda dengan Claudia yang kemudian asyik bercerita kepada Papa Hartanto dan Mama Rachel tentang betapa luar biasanya seorang Galih baginya seharian ini.
"Ya udah, mandi lagi deh kaliannya. Terus istirahat". Perintah Mama pada Galih dan Claudia.
Masih dengan mengenggam tangan Claudia, Galih mengajaknya ke arah lantai dua tempat kamar mereka masing-masing berada. Sikap Galih yang jelas-jelas tidak melepaskan tautan tangannya dari jari-jari Claudia sejak awal masuk ke dalam rumah, tentu saja terlihat jelas oleh Papa dan Mamanya.
"Mereka sangat serasi ya Pa?" Puji Mama atas apa yang di lihatnya dari Galih dan Claudia.
"Ma, gak usah aneh-aneh". Papa berusaha mengingatkan sang istri.
"Aneh gimana Pa? Mama kan cuma bilang, Galih dan Claudia itu serasi".
"Ma, Claudia itu baru tamat SMA. Masih kecil, jalan hidupnya masih panjang. Jadi sudahlah, lupakan apa yang ada di pikiran Mama".
"Loh Papa ini kenapa sih, memang apa yang ada di pikiran Mama".
"Ma, Ma, sudahlah gak usah di bahas". Perintah Papa mengakhiri perdebatan suami istri tersebut.
Tentu saja Papa Hartanto tahu benar apa yang ada di pikiran istrinya, setelah melihat bagaimana cara Galih menjaga Claudia pasti si istri berpikir untuk mendekatkan anak pertaman mereka dengan Claudia. Sebenarnya Papa Hartanto tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia sangat terbuka terhadap siapapun wanita di kehidupan ke dua anak lelakinya. Tetapi Papa Hartanto masih ingat benar, bagaimana Gilang dengan mudahnya tersulut emosi saat melihat Galih memeluk Claudia di Bandara tadi pagi. Rasanya ada yang salah dengan anak ke dua mereka, tetapi Papa Hartanto tidak mungkin mencampuri urusan pribadi anaknya kecuali memang mereka jujur bercerita padanya. Selain itu, bagi Papa Hartanto masih terlalu cepat berbicara Claudia untuk salah satu dari anak mereka. Claudia masih sangat belia, masih terlalu polos, baru saja tamat SMA, masih banyak suka duka di kehidupan ini yang perlu di lihat dan dipelajarinya. Jalan hidup Claudia masih sangat panjang, jadi lebih baik biarkan Tuhan yang menunjukkan pada mereka apa yang paling baik untuk Galih, Gilang dan Claudia.
__ADS_1