
BERCERITA (1)
❤❤❤❤❤❤
Sedang apa ya mereka sekarang? Apakah mereka juga ikut bimbel seperti aku? Kira-kira mereka kostnya dekatan nggak ya? Sekarang pikiran Claudia beralih ke Sinta, Tanto dan Rama, ketiga sahabatnya yang sekarang mungkin juga tengah mengikuti bimbel seperti dirinya di Kota Bandung. Pupus sudah harapan Nia bisa merajut asa di Kota Bandung, bisa merasakan menjadi mahasiswa di Kota kembang itu. Kenyataan yang ada sekarang Claudia ada di Kota Semarang, Kota yang dipilihkan sang Bunda jika dia ingin melanjutkan kuliah keluar dari Kota kelahirannya Bengkulu.
Sudahlah, dimana pun itu semoga aku dan ketiga sahabatku bisa menjadi orang sukses, semoga suatu saat nanti kami bisa bertemu kembali dan bercanda bersama lagi. Semoga ya Tuhan, sekarang inilah yang terbaik bagi ku. Dan aku akan taklukkan ujian masuk pergiruan tinggi nanti.
"Melamun apaan mba? Jangan yang jorok-joroknya, hahahaha". Suara tawa Ari sukses membuyarkan suara hati Claudia barusan.
"Emm, kasih tau gak ya? Lagian kepo banget si Mas". Claudia menjawab candaan Ari.
"Mikir apa?" Tanya Ari serius.
"Aku jadi ingat tiga sahabatku. Sinta, Tanto dan Rama, mereka sahabat terbaik ku". Kenang Claudia sambil tersenyum.
"Dimana mereka sekarang? Kenapa aku enggak pernah lihat mereka? Dan apa hubungan mereka dengan Bapak yang nganterin kamu tadi. Ehh tunggu, yang tadi bukan Bapak kost mu kan?" Tanya Ari dengan penasarannya.
"Ceritanya panjang Ri, gimana kalau sekarang waktunya kamu traktir aku". Jawab Claudia sambil menepuk-nepuk bahu Ari.
"Okeh, kita jalan sekarang ketempat biasa aku ngafe. Nanti sampe situ jangan amnesia ya, kamu janji loh mau bercerita lengkap tentang si Bapak dan ketiga sahabatmu". Ari mengingatkan Claudia.
__ADS_1
"Lengkap tidaknya cerita tergantung kenyang tidaknya perut ku loh yaaa, hahaha". Canda Claudia sambil melangkah terlebih dahulu meninggalkan Ari yang tertawa mendengar kata-katanya barusan.
"Claw tunggu dong. Kalau kamu gak tunggu aku, siapa yang bakal traktir kamu?" Teriak Ari pada Claudia.
Claudia berhenti, menoleh ke arah Ari, "mangkanya tuan jalannya cepat dikit napa? Aku dah laper, lihat kelingkingku sampe kurus gini". Ujar Claudia sambil memperlihatkan kedua jari kelingking di tangan kanan dan kirinya.
"Nggak usah drama, orang isi tangan mu kelingking semua kok". Ujar Ari tanpa rasa berdosa.
"Jelek mu". Jawab Claudia kesal sambil memukul keras bahu Ari.
"Aduh non sakit banget, kamu cita-citanya jadi tukang pukulnya?" Tanya Ari sambil mengelus punggungnya tempat Claudia memukulnya tadi. Sebenarnya pukulan Claudia di bahunya tadi sama sekali tidak sakit, gimana mau sakit orang Claudia memukulnya tidak bertenaga, tetapi dasar Ari. Dia senang sekali mengerjai Claudia.
"Usak? Apaan tuh?". Ari tidak mengerti bahasan Claudia.
"Ya kamu itu, usak. Rusakkkkk, sak, sak, sak". Jawab Claudia dengan semangat.
"Ehh, mba. Kalau gomong tuh yang lengkap. Jangan di kurangi hurufnya". Ujar Ari sambil geleng-geleng kepala.
"Suka, suka aku Mas". Jawab Claudia sambil memukul-mukul bahu kanan Ari.
__ADS_1
Ari menarik tangan Claudia, menuntunnya keluar dari toko buku terkenal tersebut agar mereka segera sampai keparkiran. Setelah itu, sambil terus saling berbicara, bercerita berbagai hal, Ari melajukan kendaraannya menuju kafe yang dijanjikan olehnya kepada Claudia.
"Wah, kesini lagi". Terdengar suara Claudia setelah mereka sampai di kafe tempat Ari akan mentraktirnya.
"Lagi? Kapan kamu kesini? Sama siapa?" Ari penasaran terhadap Claudia.
"Iya, Mas Gilang pernah bawa aku kesini". Jawab Claudia sambil menatap Ari yang kebingungan.
"Hahaha, santai Mas. Nanti aku ceritakan. Sekarang kita pesan makanan ya". Pinta Claudia sambil mengedip-ngedipkan matanya. Berusaha membuat tampilan mukanya sangat imut.
"Ihhh, ngeri aku lihat muka mu di buat sok imut gituh. Biasa aja deh, nanti kebawa mimpi buruk aku jadinya". Ujar Ari sambil memberikan tatapan ngeri pada Claudia.
"Ariiii, kamu memang usakkkk, hahahahaah". Terdengar suara tawa Claudia, sepertinya dia sangat bahagia.
Tanpa disadari oleh Claudia ada sepasang mata abu-abu yang tengah memperhatikannya. Awalnya sang pemilik mata abu-abu itu beserta seorang lelaki dibelakangnya akan meninggalkan kafe tempat Claudia dan Ari tengah asyik berbicara. Tetapi tiba-tiba sang pemilik mata abu-abu mendengar suara tawa wanita yang tidak asing baginya. Claudia. Serta merta si mata abu-abu menghentikan langkahnya dan mencari asal suara. Betapa terkejutnya sang pemilik mata abu-abu mendapati bahwa benar memang suara yang di kenalnya itu adalah Claudia. Claudia yang tengah duduk bersama seorang lelaki yang usianya sebaya dengannya sambil tertawa.
Kemana Pak Adi? Di suruh jaga Claudia malah gak becus, ini anak lagi ngapain coba ke sini sama laki-laki gak jelas. Ketawa-ketawa lagi. Siapa tuh cowok, pengen ku tonjok rasanya.
Betapa geramnya si pemilik mata abu-abu melihat Claudia tertawa lepas di depannya bersama seorang laki-laki. Tanpa disadarinya, kini tangan si mata abu-abu telah terkepal sempurna. Sepertinya ada gejolak emosi di dalam dadanya.
__ADS_1