
EMOSI
❤❤❤❤❤❤
Ternyata malam ini Gilang pulang lebih cepat dari malam sebelumnya. Waktu baru menunjukkan pukul delapan lebih lima puluh menit saat dia telah sampai di depan pintu rumahnya.
Baru saja Bibi membukakan pintu untuk Gilang, Gilang langsung memberondong Bibi dengan banyak pertanyaan tentang Claudia.
"Claudi sudah pulang Bi? Tadi kenapa Pak Adi gak jemput Claudia? Apa alasan dia bisa keluyuran bebas setelah bimbel? Apa gak ada yang kasih tau dia supaya selesai bimbel itu langsung pulang. Bukan main ke sana sini bareng sembarang orang?" Gilang bertanya penuh emosi pada Bibi.
Lah, kok si aden tau ya kalau si non habis bimbel nggak langsung pulang?
"Aduh den, ada apa ya? Kenapa aden jadi marah-marah? Aden sudah makan? Bibi siapin makan ya?" Bibi malah balik bertanya pada Gilang.
"Ahhhhhh". Ujar Gilang kesal. Dia pun bergegas melangkah masuk kedalam rumah, meninggalkan si bibi yang tidak tahu apa penyebab tuan mudanya itu menjadi marah.
Non Claudia salah apa ya? Trus kenapa Pak Adi juga kena getahnya? Ada apa toh sebenarnya? Bibi tidak mengerti dengan sikap Gilang tersebut.
__ADS_1
Sementata Gilang sudah duduk di kursi meja makan sambil memegang gelas berisi air putih dingin yang baru di ambilnya dari lemari pendingin.
"Pak Adi, Pak?" Panggil Gilang pada sopir keluarga mereka itu.
Dengan setengah berlari, Pak Adi berusaha secepat mungkin mendatangi Gilang yang memanggilnya. "Iya den, ada apa? Ada yang bisa Bapak bantu?" Tanya Pak Adi ramah.
"Pak, mana Claudia?" Tanya Gilang tanpa menunda-nunda.
"Si non belum pulang den". Jawab Pak Adi lancar.
"Si non tadi pamit den, tadi katanya setelah pulang bimbel mau ke toko buku dulu. Mau beli buku". Jawab bibi cepat untuk menjelaskan situasi sebenarnya.
"Bibi biarkan dia ke toko buku tanpa ditemani Pak Adi? Bibi berani sekali? Kenapa nggak ada yang bilang dulu sama aku. Bibi dan Pak Adi tau kan, Claudia itu tanggung jawab aku. Kalau ada apa-apa gimana cara aku jelaskan pada Papa dan Mama? Hah, gimana?" Gilang mengusap kasar mukanya, dia kesal, dia marah. Kenangan akan Claudia bersama lelaki lain di kafe tadi masih terbayang jelas. Akhirnya bibi dan Pak Adilah tempat Gilang menyalurkan kekesalannya, mereka yang kena getahnya.
"Maaf den, bibi lancang mengizinkan non Claudia pergi tanpa tanya dulu sama aden. Den, tadi si non telepon ke rumah, bibi yang angkat. Kata si non, dia perginya sama temannya gak sendiri. Jadi bibi yang awalnya ragu jadi yakin den, apa lagi non bilang bakal jaga diri dan pulang cepat". Bibi merasa sangat menyesal saat ini.
__ADS_1
Wolallah non, kok jadi gini. Pulanglah lagi non, bibi takut bentar lagi den Gilang gamuk inih.
"Maafkan Bapak juga den, Bapak teledor jaga non Claudia. Maaf ya den, besok nggak akan Bapak ulang lagi". Pak Adi pun berjanji kedepan tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Ya Tuhan kenapa aku malah melampiaskan emosiku pada mereka. Gilang menegung air dingin yang sedari tadi hanya di tatapnya saja di atas meja makan. Gilang berharap dinginnya air tersebut dapat mendinginkan hatinya saat ini.
"Sudahlah Bi, Pak. Sekarang kalian istirahat saja lagi. Biar aku yang tunggu Claudia pulang". Gilang mencoba tenang saat ini. "Maafkan aku, Bi, Pak, tadi sempat emosi. Aku cuma takut ada apa-apa sama Cluadia. Tidak seharusnya aku marah pada Bibi dan Pak Adi". Gilang menutupi penyebab marahnya dengan berbohong pada Bibi dan Pak Adi.
"Aden udah makan? Bibi ambilkan makanan ya?" Bibi tidak sampai hati melihat majikan mudanya itu terlihat lelah sekali malam ini.
"Aku nggak lapar Bi, Bibi istirahat saja lagi. Nanti kalau aku lapar, aku bisa cari sendiri". Jawab Gilang lesu.
Non..pulanglah lagi, kasihan aden.
Bibi dan Pak Adi berlalu dari hadapan Gilang, meninggalkan Gilang yang hanya diam memandangi gelas minumnya yang telah kosong. Perasaannya campur aduk saat ini, sejujurnya emosi yang tadi di lampiaskannya pada Bibi dan Pak Adi belumlah tersalurkan semua. Dia masih kesal, rasanya Gilang sangat ingin menyeret Claudia pulang dan mengurungnya di kamar. Hatinya tidak terima melihat mendapati Claudia bersama lelaki lain dan parahnya Gilang merasa kalau Claudia sangat senang bersama lelaki tersebut, Claudia seakan menjadi diri sendiri, tertawa bahagia seperti tanpa beban.
Kenapa kamu tidak bisa sebahagia itu saat bersama aku? Kenapa justru bersama lelaki itu kamu begitu senang?
__ADS_1