
PENYESALAN
❤❤❤❤❤❤
Claudia memainkan handphonennya sambil bersandar di bagian kepala ranjangnya. Sebenarnya dia tidak sedang serius dengan benda kecil ditangannya itu, Claudia hanya ingin mencari sesuatu sebagai pengalih perhatiannya. Sejujurnya sedari tadi Claudia sibuk menghenyahkan pikirannya dari Gilang, hatinya sedang berdebat tentang sikap Gilang padanya tadi saat menyambutnya dirinya pulang.
Mas Gilang itu kenapa ya? Senyumnya nggak tulus banget, di buat-buat, mana jelas banget lagi di buat-buatnya. Dipaksakan, padahal antara sikap sama realita beda. Wajah mau marah, tapi sikap dilembut-lembutkan. Ihh, kok aku jadi ngeri, merinding ahh. Tapi kalau memang marah kenapa ya? Apa coba salah aku? Aneh deh Mas Gilang, trus kalau memang nggak suka kan bisa jujur aja, napa pura-pura baik, lembut, padahal gondok sama aku. Aduh aku jadi bingung sendiri, jadi pusing deh.
Pelan, Claudia memijat kepalanya. Sekali, dua kali, Claudia sibuk memijat kepalanya. Rasanya benar-benar gak nyaman. Dirinya mulai terjebak dalam pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya, tetapi semua pertanyaan itu tidak ada solusinya.
Haus, kepaksa ke bawah deh.
Claudia beranjak dari peraduan empuknya, berjalan turun ke arah dapur mengambil segelas air putih. Satu tegukan, lanjut tegukan kedua. Segerrrrr.
Lanjut tegukan ketiga dan tiba-tiba datang Bibi dari arah samping Claudia dan menyapanya.
"Belum tidur non?" Suara Bibi menyapa Claudia.
"Uhuk, uhuk, uhukkkk", Claudia terbatuk-batuk karena kaget mendengar suara Bibi.
__ADS_1
"Maaf non, aduhhhh...maaf, maaf". Bibi mengelus lembut punggung Claudia. "Bibi enggak maksud buat non kaget". Bibi merasa bersalah melihat Claudia terbatuk-batuk.
"Enggak papah kok Bi, aku aja yang gak nyadar ada Bibi di dekat aku". Ujar Claudia sambil berusaha mengatur nafas untuk meredakan batuknya.
Claudia memilih duduk di kursi makan, sambil berusaha mengatur nafasnya kembali. Sekarang batuknya sudah reda hanya meninggalkan sediki rasa pedih ditengorokannya. Claudia tidak habis pikir bagaimana Bibi bisa berdiri disampingnya tadi tanpa bersuara, tanpa terdengar suara langkanya. Tahu-tahu sudah sukses membuat dia terkejut luar biasa.
"Udah nggak papah non?" Tanya Bibi sambil mengelus rambut Claudia.
"Udah Bi, aku gak papah lagi kok". Jawab Claudia kemudian.
"Bibi tadi sengaja mau lihat si non ke atas, apakah sudah pulang atau belom?" Cerita Bibi pada Claudia.
"Loh kenapa Bi?" Claudia merasa heran.
"Itu non, Bibi takut kalau non belum balik juga, nanti si aden malah benar-benar gamuk". Ujar Bibi sambil bergidik ngeri.
"Hahhh", spontan Claudia membuka mulutnya tidak percaya
__ADS_1
"Mingkem non, mingkem". Bibi mengingatkan Claudia agar menutup mulutnya.
"Hehehehe, habis kaget sih bi", ujar Claudia sambil cengar-cengir. "Bi, Mas Gilang kenapa sih?"
"Si aden tadi itu kawatir non. Aden pulang, non belum sampe rumah, trus non juga nggak ada izin ma aden bakal pergi cari buku setelah bimbel. Aden takut non kenapa-napa, soalnya non kan masih baru di sini. Gituh non", bibi memberi penjelasan pada Claudia.
"Tapi bi, aku kan pergi sama temen". Claudia berusaha membela diri.
"Yah non, yang namanya kawatir memang bisa toh di pilah-pilah sama siapanya. Lah si aden jugakan belum kenal sama temennya non. Non harap memaklumi ya, soalnya aden itu di beri amanah buat menjaga non. Jadi wajar saja kalau aden rada kawatir". Bibi mencoba membuat Claudia mengerti.
"Iya sih, aku memang salah bi. Tapi tadi aku udah minta maaf bi sama Mas Gilang, besok aku minta maaf lagi deh bi". Claudia merasa bersalah saat ini. "Bi, maafin Claw ya. Bibi jadi kena marah deh sama Mas Gilang tadi. Aku janji bi besok-besok gak bakal seperti tadi lagi".
"Bibi gak masalah non, bibi ngerti kok. Aden tadi mungkin lagi capek, jadi gampang kebawa pikiran". Ucap bibi lembut pada Claudia. "Sekarang non tidur lagi, udah malam".
Claudia menganggukan kepalanya dan segera beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke kamar tidurnya. Dan tanpa disadari Claudia, segala aktivitasnya di meja makan bersama Bibi diperhatikan dengan seksama oleh Gilang. Gilang diam mendengar dengan seksama, memperhatikan gerak-gerik Claudia, melihat segala perubahan emosinya, rasanya Gilang ingin menyentuh Claudia dan memberitahukan seberapa besar rasa cemburunya tadi.
__ADS_1