
GADIS BODOH
❤❤❤❤❤❤
Gilang memaksa mobilnya agar berlari secepat mungkin, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa menjemput Claudia? Ah, ini semua gara-gara Novi. Coba tadi gak pake lama belanja di Mall pasti aku gak akan lupa jemput Claudia. Lagian tuh anak kok bodoh amat, kan bisa pulang pake ojek online, ngapain coba masih belum sampai rumah, sudah dua jam lamanya? Apa iya dia nunggu aku. Dasar gadis bodoh. Gilang mulai berbicara sendiri di dalam mobilnya.
Mungkin karena cepatnya laju mobilnya tadi, kurang dari empat puluh menit Gilang sudah sampai diparkiran gedung bimbel. Gilang memperhatikan ke kanan dan kiri parkiran, kosong tidak ada tanda-tanda kendaraan parkir apa lagi manusia. Tangan Gilang mendadak menjadi dingin, pikirannya kalut. Kemana Claudia? Apa dia di culik? Cepat Gilang berjalan ke arah teras bimbel yang hanya diterangi satu lampu taman. Dari arahnya Gilang bisa melihat sosok manusia duduk sambil merebahkan badan di kedua pahanya. Gilang berjalan sambil berteriak, "CLAW, CLAUDIA". Suara panik Gilang memanggil.
Mendengar namanya di panggil Claudia menegangkan badannya dari posisi tadi. Sesaat ada rasa syukur tak terhingga, ternyata ada juga yang datang mencarinya.
"Astaga Claw, kamu ngapain di sini? Bukannya pulang, ini malah duduk sendirian dalam gelap. Ini tuh dah malam, anak gadis sudah malam bukannya di rumah ini malah duduk di sini. Kamu tuh manja benget ya, gak bisa pulang sendiri apa. Menyusahkan saja". Panjang lebar Gilang mengkotbahi Claudia.
__ADS_1
Claudia yang baru saja merasa lega atas kedatangan Gilang, mendadak menjadi murung. Butiran hangat yang sedari tadi ditahannya jangan sampai jatuh membasahi pipinya, akhirnya jatuh juga satu persatu. Claudia tidak percaya, dia yang dilupakan oleh Gilang, kenapa sekarang malah Gilang dengan santai memarahinya. Seakan-akan di sini dia yang salah.
Sialan kamu Gilang, seharusnya yang marah itu aku. Kenapa pula sekarang ke balik, gara-gara kamu, aku hampir mati ketakutan di sini.
Claudia tidak bisa menahan emosinya lagi, di sela tangisnya dia pun mencurahkan emosi yang campur aduk di tahannya dari tadi. "Kamu Gilang Erlangga Permana dengar ya baik-baik. Aku mau pulang, sangat mau. Kamu pikir aku kurang kerjaan apa mau uji nyali di sini, sendirian malam seperti ini. Bukannya kamu tadi pagi yang bilang aku gak boleh kemana-mana harus tunggu sampe kamu datang. Dan kamu, Gilang, kamu brengsek. Ngapain kamu gak datang-datang sampai membuat aku menunggu selama dua jam, hah kenapa? Hikss, kamu bilang aku manja, dengar ya Gilang. Buka telinga kamu, aku sangat ingin pulang dari tadi. Tapi aku gak tau alamat rumah kamu itu, hikss, aku harus pulang kemana hah? Handphone aku abis baterai tahu kamu, aku harus tanya ke siapa alamat rumah kamu. Kalau pun handphone aku gak abis baterai, aku sudah lapor Bunda tentang kelakuan kamu ini. Biar kamu habis kena marah sama Papa Hartanto dan Mama Rachel. Aku benci kamu, hiksss, hikss.
"Kamu panggil aku apa?" Gilang baru sadar kalau Claudia hanya menyebut namanya saja tanpa embel-embel Mas didepannya, dan apa tadi, bilang aku brengsek?
__ADS_1
"G-I-L-A-N-G", Claudia sengaja menyebutkan nama Gilang dengan pelan dan tegas, "kenapa hah?"
"Ooo, kamu sudah berani ya. Berani panggil nama saja sama aku? Sudah merasa besar sekarang". Gilang kesal.
Kenapa juga dia yang kesal. Mau aku panggil apa juga bebas, sukur aku masih panggil nama. Coba kalau aku panggil dengan nama-nama penghuni kebun binatang, gimana?
"Kenapa, kamu gak suka? Terserah aku mau panggil kamu nama aja. Terserah aku, hikss, hikss". Lagi, air mata Claudia jatuh membasahi pipinya.
Kembali mendapati Claudia menangis membuat hati kecilnya merasa tak tega. Ingin sekali rasanya bagi Gilang menarik Claudia dalam pelukannya, menenangkannya. Dia benar-benar merasa bersalah, kalau di pikir-pikir kesalahannya ini sangatlah fatal. Gilang sangat bersyukur Claudia bisa ditemukannya dalam keadaan baik-baik saja. Seandainya Claudia kenapa-napa tadi, nyasar, hilang, atau dijahatin orang. Gilang mengeleng-gelangkan kepalanya, dia benar-benar bersyukur Claudia baik-baik saja.
__ADS_1