
AKU KENAPA
❤❤❤❤❤❤
Dengan penuh keputusasaan Gilang mengacak-acak rambutnya sendiri di dalam kamarnya. Di bawah pencahayaan temaram dari lampu di sudut tempat tidurnya, tampak jelas bagaimana Gilang tidak merasa tenang dengan suasana hatinya saat ini. Walaupun beberapa saat tadi Gilang telah berlama-lama menguyur kepalanya dengan air dingin di kamar mandi, dengan tujuan agar dia bisa melupakan Claudia yang berada dalam pelukan sang kakak. Tetapi realitanya justru saat ini saat ia terduduk di tepi ranjangnya, ingatannya malah membawa dia kembali ke situasi di bandara pagi tadi.
Sekuat tenaga Gilang berusaha melupakan bagaimana kakak kandungnya bisa dengan leluasa memeluk dan menenangkan Claudia di bandara saat melepas kepulangan Bunda Amelia. Gilang bisa melihat bagaimana nyamannya Claudia dalam pelukan sang kakak, bagaimana sang kakak sangat bisa memberikan ketenangan bagi Claudia, dan bagaimana Claudia terlihat sangat pas berdiam di dada Galih, kakaknya sendiri.
Bagaimana bisa Claudia membiarkan Mas Galih memeluknya tadi? Kenapa tidak ada perlawanan sama sekali, kenapa Claudia hanya diam dan malah menyurukkan kepalanya di dada Mas Galih? Kenapa semua itu bisa terjadi? Ya Tuhan, kenapa Claudia terlihat begitu nyaman dengan cara Mas Galih mengelus rambut indahnya? Kenapa Claw, kenapa? Kenapa kamu tidak berlari ke arah ku ha? Kenapa kamu malah menepis tanganku tadi? Kamu marah sama aku, iya Claw? Kenapa. Begitu banyak pertanyaan berputar-putar di kepala Gilang, tanpa disadarinya sekarang Gilang telah memijat pelipisnya sendiri, Gilang mulai merasa pusing dengan kenyataan yang ada.
__ADS_1
Kenapa bukan aku yang bisa menenangkan mu? Dan tadi, kenapa kamu malah mengizinkan Mas Galih menjemput mu ha? Kenapa kamu malah pergi bersama Mas Galih sampai jam segini? Claw, seharusnya aku yang menjemputmu dan kamu mau main ke mana ha, bilang aku! Aku bisa membawa mu kemana pun kamu mau, aku bisa Claw. Tapi kenyataannya apa, kamu lebih memilih menghabiskan hari bersama Mas Galih. Kenapa kamu gak berpikir perasaan aku Claw. Gilang mengusap kasar wajahnya, dia mulai frustasi sendiri dengan semua pertanyaan yang telah memenuhi isi kepalanya.
Gilang sangat ingat bagaimana dia melajukan mobi sportnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera keluar bandara karena emosinya yang telah tersulut, tanpa sebab jelas Gilang merasa tidak terima, tidak suka dan marah mendapati sang kakak memeluk Claudia saat Claudia menangis di bandara karena begitu berat berpisah dari sang Bunda. Parahnya lagi Gilang mendapat penolakan dari Claudia saat dia berusaha menyentuh tangan Claudia, jelas sekali Claudia menepis tangannya dan memberi tatapan marah padanya.
Emosi yang telah memuncak membuat Gilang memilih berlalu dari hadapan keluarga dan Claudia tanpa pamit, dengan tidak sabarnya Gilang mengarahkan mobil kesayangannya menjauh dari bandara. Dia sendiri tidak tahu pasti harus kemana, yang jelas dia tidak mungkin bisa ke kantor apa lagi ke kampus di tengah suasanan hati yang tidak baik. Akhirnya Gilang memilih mengendarai kendaraanya menuju rumah Novi, kekasih hatinya yang mungkin bisa membuat hatinya yang sedang marah menjadi berubah bergairah. Itulah yang di harap Gilang saat ini, agar suasana hatinya bisa kembali senang, maka dia memutuskan untuk melampiaskan semuanya dan mengubahnya menjadi bersenang-senang dan Novi paling tahu cara bersenang-senang dengannya.
Amarah yang sesaat tadi telah di ubah Novi menjadi gairah dan berakhir suka cita, sekarang kembali hadir di hati Gilang. Tanpa menunggu lama, Gilang segera memutar mobilnya menjauh dari parkiran bimbel Claudia. Entah sang Kakak sempat melihatnya atau tidak, yang jelas dia harus segera menjauh. Gilang akhirnya memilih duduk di kafe tempat biasa dia nongkrong dengan teman-temannya untuk menghabiskan waktu. Dengan harapan saat dia pulang ke rumah nanti, dia sudah bisa mengontrol dirinya agar tidak terlihat jelas oleh siapa pun di rumah seperti apa suasanan hatinya yang sebenarnya.
__ADS_1
Tetapi, lagi-lagi saat tepat pukul delapan dia sudah memasuki kediaman mewah keluarganya, yang didapatinya adalah informasi dari Mamanya, kalau sang kakak sedang membawa Claudia pergi ke pasar malam untuk menghibur Claudia agar tidak terlalu bersedih tentang kepulangan Bunda Amelia. Mungkin Claudia bisa mengurangi kesedihaanya saat bersama Galih, tetapi bagaimana dengan Gilang. Pemandangan Claudia dalam pelukan sang kakak tadi pagi saja masih singgah diingatannya. Mendapati mobil sang kakak terparkir di lokasi bimbel Claudia seakan belum sirna dari isi kepalannya, dan sekarang Gilang di beritahu kalau Claudia pergi bersama sang kakak ke pasar malam hanya berdua, kebenaran ini membuat Gilang pusing tujuh keliling.
Kembali, tanpa di sadari Gilang, ia mengusap wajahnya dengan kasar hingga akhirnya memijat pelipisnya sendiri untuk meredakan pusing yang sedari tadi dia rasakan.
Sebenarnya aku ini kenapa? Apa yang salah dengan ku saat mendapati Claudia bersama yang lain, bersama laki-laki lain? Bahkan saat bersama Mas Galih pun aku merasa tidak terima. Aku ini kenapa?
Merasa tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri, Gilang pun memilih merebahkan diri di ranjang empuknya. Sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru, Gilang mencoba mengingat apa kesalahan yang telah di buatnya pada Claudia sehingga dia merasa Claudia seakan tidak merasa senang pada dirinya.
__ADS_1