
KELUARGA HARTANTO PERMANA
❤❤❤❤❤❤
Langit biru mulai memperlihatkan keindahannya, suara burung berkicau indah bernyanyi bersama di halaman rumah keluarga Hartanto Permana yang asri. Udara pagi yang segar membuat suasana hari ini akan berjalan dengan lancar bagi semua penduduk Kota Semarang. Di sebuah kawasan perumahan elit, sebuah keluarga tengah asyik dengan aktivitas masing-masing. Seorang lelaki paruh baya tengah berusaha memasang dasi di lehenya, lelaki itu adalah Hartanto Permana pemilik Permana Group yang cabangnya ada di empat kota besar di Indonesia. Sedangkan sang isteri Rachel, tengah menata meja makan untuk sarapan pagi ini yang di bantu oleh bi Surti, asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun ikut keluarga mereka. Di lantai dua, Galih Satria Permana sedang merapikan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor. Galih adalah anak pertama keluarga Permana dan sekarang dia menjadi wakil direktur di perusahaan milik sang ayah. Sementara si anak kedua, Gilang Erlangga Permana masih berusaha mengumpulkan nyawanya setelah hampir tujuh menit yang lalu sang Mama mengedor kamarnya untuk membuatnya bangun.
Sambil menenteng jas kerjanya, Hartanto Permana berjalan menuju meja makan. Dari jauh si isteri melihat suami yang sangat dicintainya sudah rapi dan berjalan mendekat kearahnya. Masih terlihat jelas pesona ketampanan sang suami tercinta walupun sekarang usianya sudah hampir kepala lima. Rachel tersenyum saat suaminya mencium pipi kanannya.
"Kenapa Mama liatin Papa seperti itu? Jangan bilang Mama mendadak naksi sama Papa yah, bisa gawat nanti". Goda sang suami sambil memeluk istri tercintanya. Rachel pun tertawa geli mendengar candaan sang suami. Begitulah mereka, walaupun sudah 30 tahun berumah tangga, tetapi tetap saja ada candaan-candaan ringan pengisi keseharian mereka. Sehingga merek selalu bisa mempertahankan kemesraan dalam pernikahan ini.
"Pagi Ma, Pa". Sapa Galih sambil menarik kursi di meja makan untuknya.
"Loh, kok cuma nyapa nak? Sun sayang buat Mama mana?"? Tanya mama yang tidak memdapat ciuman sayang dari Galih di pipinya seperti biasa.
"Males ah, masak iya Papa sama Mama masih berpelukan seperti itu. Trus aku nyosor cium pipi Mama? Bisa di hajar Papa, akunya Ma". Jawab Galih asal-asalan.
Papa dan Mamanya beradu pandang sambil senyum-senyum, "ngiri, gituh?" Tanya Papa yang merangkul mesra pinggang sang istri dan mengajaknya duduk berdampingan.
"Pa, Ma, apa enggak bosen? Tiap hari selalu mesra-mesraan?" Sebenarnya Galih merasa salut dengan kemesraan orang tuannya. Diusia yang tidak muda lagi, tetapi cinta mereka tetap terjaga, mereka selalu melengkapi antara satu dan lainnya. Sejujurnya ke dua orang tuanya itu memang sukses membuat dia iri. Secara Galih masih jomblo loh walaupun usianya sudah masuk 28 tahun.
"Sayang, setiap dekit aja Mama ngak bosen bermesraan sama Papamu apa lagi setiap hari. Papamu ituh sudah ganteng, romantis, baik...."
__ADS_1
"Maaaaaaa...sudah deh ngak usah di lebih-lebihkan". Galih langsung memotong suara Mamanya.
Papa dan Mama hanya tertawa melihat tingkah si anak sulung mereka pagi ini. Mereka tahu benar kalau Galih bukan tipe pria romantis, jadi dia akan sulit mengeksperesikan isi hatinya sendiri, sehingga hal-hal yang berbau romantis hanya akan membuat di jengah.
"Ma, Pa, lagi membicarakan apa?" Tanya Gilang saat mendekati meja makan setelah mencium pipi Mamanya terlebih dahulu.
"Biasa nak, Mas mu ngiri lihat Papa sama Mama mesra-mesraan". Ujar Papa.
"Yah, gampang Mas, cari pacar dong. Trus, nikahi tuh, trus Mas bisa tuh peraktekkan adegan dewasa bareng ma istri Mas, hahahahah". Ledek Gilang pada saudaranya.
Raut wajah Galih berubah, sendoknya di jatuhkan secara sengaja di piring makannya Dia mulai malas kalau arah pembicaraan sudah mengarah ke kehidupan pribadinya, apa lagi kalau yang menyinggung itu adalah adikny sendiri, si playboy yang suka gonta ganti perempuan.
Melihat suasana di meja makan sudah mulai tidak enak, Mama langsung menganti topik pembicaraan.
"Wah, mau juga Claudia merubah keinginannya lanjut kuliah di sini Ma? Bukanya terakhir dia tetap berkeras ke Bandung seperti teman-temannya?" Tanya sang suami.
"Iya Pa, akhirnya Claudia bisa menerima penjelasan Bundanya dan dia pun sudah siap untuk menjadi mahasiswa di kota kita ini Pa". Jelas sang istri.
"Syukurlah kalau begituh ma, Papa sangat senang, jadi kita punya anak perempuan besok nih Ma". Senyum bahagia sepasang suami istri itu membayangkan kehadiran Claudia di dalam keluarga mereka.
"Jadi besok itu Galih tolong bantuin Claudia ya untuk persiapan dia kuliah di sini. Harapan Mama sih dia bisa kuliah di universitas kamu dulu sayang. Kamu nanti bantuin dia cari tempat bimbel ya, walaupun dia cuma ikut bimbel kurang dua minggu, mama rasa ngak masalah. Karena kamu kan bisa bantuin dia belajar di rumah juga". Permintaan Mama ke Gilang.
__ADS_1
"Ma, kok aku sih. Nanti aku dikirain babysister lagi. Mas Galih aja Ma, aku kan mau ngurus persiapan wisuda. Di tambah lagi sekarang aku kan lagi sibuk dengam proyek yang di percayakan Papa. Ya ma". Mohon Gilang. Gilang benar-benar malas untuk mengurus keperluan Claudia itu. Bisa-bisa waktunya untuk bersenang-senang dengan Novi dan para wanita lainnya akan berkurang gara-gara menjadi pengasuh Claudia. Pasti sangat merepotkan pikirnya.
"Mana mungkin Mas mu Gi, Mas mu kan bakal sibuk sama Papa memantau perusahaan kita di Bandung dan Medan. Kalau tentang proyek di Surabaya, kamu kan bisa sambilan. Lagi pula kamu ke Surabayanya dua minggu lagikan dan di Surabayanya juga cuma dua hari, berarti kamu berangkat itu setelah selesai bantu persiapan kuliah Claudia". Papa menjelaskan pada Gilang.
Gilang masih menunjukkan ekspresi menolak, seperinya dia lagi berpikir kata-kata apa yang pas buat nolak. Jelas dia tidak berani buat jujur bilang kalau dia takut nanti acara bersenang-senangnya dengan pacar barunya terganggu dengan keberadaan Claudia. Bisa habis dia di marahi Papa dan Mamanya.
"Pa, Ma, kalau memang Gilang gak mau biar aku coba cari-cari waktu buat bantuain Claudia. Mungkin di sela-sela kesibukakanku masih bisa di cari waktu luang. Daripada mengharap bantuan gak jelas dari Gilang, bisa batal anak orang masuk kuliah Pa". Galih sudah yakin kalau adiknya itu pasti menolak, dan tentang alasan mau fokus ke persiapan wisuda dan kegiatan perusahaan di Surabaya itu pasti bohong saja, Galih sangat bisa membaca isi kepala adik laki-lakinya itu. Semua ini pasti berhubungan dengan hobi si Galih yang suka hangout ngak jelas sama banyak wanita.
"Haaaaa, aku setuju sama ide mas Galih, tolong ya Mas di bantuin Claudianya besok. Mana tahu Mas malah jodoh sama Claudia. Kan bugus tuh akhirnya Mas bakal kehilangan status jomblowan abadi,hahaha". Suara tawa Gilang ngeledek Masnya sendiri.
"Kamu yang bener kalau gomong", Mama tidak suka dengan candaan Gilang barusan. "Dan jangan bantah Papa sama Mama, Mama tahu kamu tuh boong Gi dengan alasan sibuk kerjaanlah, sibuk urus wisudalah. Padahal kamu itu sebenarnya mau jalan sama si Novi centil itukan. Gilang, berapa kali harus Mama bilang. Mama ngak suka sama Novi itu, kecentilan udah kayak ulat daun, belum lagi matrenya luar biasa. Kamu itu mau aja Gi di porotin wanita aneh itu". Suara kesal Mama.
"Mama kok jadi membahas Novi, Ma. Novikan gak ada hubungan sama kuliahnya Claudia. Aku tuh Ma memang lagi sibuk aja Ma". Akhirnya penolakan Gilang berbuah kekesalan Mamanya sendiri.
"Sudah, sudah..Gilang kamu dengar kata Mamamu, kamu harus bantu persiapan kuliah Claudia. Jangan sampai tuh anak kesulitan di sini. Dia baru di sini, jadi kamu harus meluangkan waktu buat dia. Galih akan fokus sama Papa, kecuali memang ada waktu luang kami nanti itu lain perkara. Kamu harus baik sama Claudia jangan kebanyakan pacaran ngak jelas, urusi semua keperluan Claudia dan temani dia. Ingat itu". Papa menyudahi perbicangan pagi ini.
Mama sangat senang dengan keputusan suaminya itu, tetapi Gilang sangat meradang, kezel banget dia sampai-sampai sarapannya tidak dihabiskan. Alasanya karena kehilangan nafsu makan. Sedang Galih hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya, Besok kalau anaknya sudah sampe sini apa iya kamu bisa nolak. Sok mau coba jodohin aku sama Claudia, jangan-jangan besok kamu yang gemis cinta dia, kualat kamu nanti Gi. Kata hati kecil Galih sambil memandang adiknya.
Akhirnya pembahasan tentang Claudia selesai. Walapun berat hati, Gilang pun sangat terpaksa menyetujui perintah Papanya. Setidaknya dia tidak perlu dua puluh empat jam bersama Claudia, jadi dia tetap bisa berduaan sama Novi atau pun wanita lainnya mungkin yang penting bisa bersenag-senang.
__ADS_1