
Ke esokan Harinya, tengah Agis sedang menikmati rokoknya. Ditemani secangkir kopi, yang dibuatkan Risma.
Fikirannya melayang kemanan-mana, dia sudah tidak lagi bekerja dikantor dia sekarang hanyalah seorang kuli dipembangunan yang dimiliki kontraktor.
Dia menyeduh kopinya, pagi itu Agis tak bekerja. Risma yang menjemur pakaian melihat kelakuan suaminya merasa miris.
Agis yang dia kenal dulu, yang lugu lembut dan suka bercanda telah hilang entah kemana. Yang ada hanya Agis yang Angkuh, tak punya hati ataupun sedikit kasihan kepada istrinya.
Risma, mengeluh dengan keadaan apalagi melihat dirinya sendiri yang tengah hamil besar. Untuj bekerjapun tidak mungkin, tapi dia butuh biaya untuk melahirkan anaknya.
Risma memutuskan untuk menjadi buruh cuci saja, daripada dia menunggu pemberian uang dari suaminya yang tak pasti ada.
Risma berkeliling kompleng dekat kos-kosannya, kakinya sudah capek sekali. Hawa panas membuat kepalanya semakin pusing. Diapun berteduh dibawah pohon
'Kenapa hidupku seperti ini, orang tuaku sudah tak perduli lagi padaku. Mereka hanya mau uangku saja' Batin Risma memikirkan nasibnya.
Memang benar orang tua Risma masih menghubungi mereka, tapu hanya untuk menanyakan kiriman uang saja. Orang tua Risma sudah bangkrut sejak 1bulan yang lalu, hutang-hutangnya banyak sehingga membuat Ayahnya harus berhenti bekerja.
__ADS_1
Rumah mewah yang dulu dia tempati, mobil mewah yang dulu orang tuanya tumpangi ke luar kota harus terpaksa dujual. Karena, membayar hutang ituoun belum cukup sampai-sampai motor kesayangan Risma juga dijual. Itu semua tak juga dapat melunasi hutang ayahnya kepada rentenir.
Risma dikagetkan oleh suara wanita yang sangat dia kenal.
"Kau kenapa Ris?" Tanya wanita itu
Risma memandangi kakinya sampai ujung wajahnya. Dia Melda
"Aku hanya beristurahat sejenak disini, lelah setelah seharian berkeliling komplek menawarkan jasa cuci" Jawab Risma pasrah
"Apa suamimu tak bekerja" Tanya Melda kemudian
"Entahlah, hari ini dia ingin beristirahat" Jawab Risma. Matanya tengah menerawang jauh entah apa yang dia fikirkan.
"Seharusnya, kamu istirahat dirumah bukan bekerja" Kata Melda.
Risma memandangi wajah sahabatnya tersebut, Melda semakin cantik wajahnya semakin ramping dan riasan wajah yang tipis membuatnya semakin anggun.
__ADS_1
Beda dengan Risma, rambutnya yang panjang tak pernah dia rawat seperti dulu. Wajahnya mungkin sudah lama tak merasakan lembutnya krim skincare dokter lagi.
"Tapi keadaan yang membuatku harus bekerja, aku tak enak dengan Mas Agis. Orang tuaku setiyap bulan selalu meminta kiriman uang darinya dia tak pernah mengeluhkan itu semua" jawab Risma menceritakan keadaannya.
Melda hanya mengangguk saja, dia mengerti bagaimana kesedihan sahabatnya tersebut.
dia tak berani melanjutkan pertanyaannya yang nantinya akan membuat Risma semakin sedih.
"Kau sendiri kenapa ada disini" Tanya Risma kepada Melda
"Kebetulan, Mas Re ada proyek diperumahan ini. Aku kesini untuk mengecek dan mendata apa yang perlu dicatat untuk diserahkan kepadanya" jawab Melda tenang
"Oh, Mas re? Maksudmu Pak renaldi?" Tanya Risma lagi menyelidik
"iya, kami akan menikah bulan depan kamu nanti datang ya" Jawab Melda sambil menunjukkan cincin yang tersemat dijari manisnya itu.
Risma tersenyum entah itu senyuman bahagia atau senyum tidak suka, tapi Melda berfikir bahwa Risma tetaplah jadi sahabatnya seperti dulu. Walaupun dia telah berhasil merebut kekasihnya atau Mantan kekasihnya dengan cara licik.
__ADS_1