
Ke esokan harinya, Renaldi masuk kantor seperti biasanya lagi semua staf karyawan terlihat senang karena, bosnya sudah kembali lagi karena, selama dia libur panjang kanntor yang menghandel andika sepupunya yang baru kembali dari amerika, Ayah Renaldi sengaja memberikan sahamnya yang diamerika pada Andika supaya dia juga bisa berbisnis seperti Renaldi.
"Thanks, brother" kata Renaldi menepuk bahu Dika
"okey, jadi gimana liburanmu apa begitu menyenangkan? ataukah sebaliknya?" tanya Renaldi seperti menyindir kakak sepupunya itu.
"Apaan sih" jawab Renaldi lalu duduk dikursinya
Andika sudah mengetahui hubungan Renaldi dan Merry sejak lama, namun dia enggan untuk bicara pada Omnya karena takut akan membuat ayah Renaldi marah besar, akhirnya mau tidak mau dia menyimpan semuanya, "Lusa aku mau ke Kota ***** ada hal penting yang harus aku selesaikan" kata Andika
"Ada meeeting atau bertemu klien dik?" tanya Renaldi
"Aku ada pengajuan kontrak ke perusahan Adi sucipto, yang dimiliki Pak *Abraham**Sucipto* yaaa sebuah permintaan untuk bekerjasama lah supaya perusahanku di Amerika melaju pesat, untuk proses ekapor-importnya" jawab Dika kemudian berlalu membereskan berkas-berkasnya.
"Baguslah, kalau kamu sudah mengerti bisnis" kata Renaldi meledek sambil terkekeh
Andika tidak menggubris kata-kata Renaldi, diapun berlalu pergi meninggalkannya karena, jika Andika menjawab pasti akan timbul perkelahian seperti waktu dulu gara-gara rebutan botol jadi lebam semua wajah mereka.
Setelah Andika pergi, Renaldi mengecek emailnya banyak pesan masuk dari dewan direksi, staff item dan pesan dari Melda paling atas sendiri Renaldi melotot melihat tulisan Imelda sancahya diapun membuka pesannya membaca isinya dengan seksama, wajahnya tiba-tiba berubah lesu hatinya kemudian seperti teriris perih sekali, sampai tangannya menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
__ADS_1
diapun memanggil marisa "Dimana minumanku!!! teriaknya didalam telepon kantor, 'Kenapa aku jadi begini, bukankah seharusnya aku senang karena Melda sudah tahu dengan semua ini dan aku tidak perlu menjelaskan pada dirinya tapi, kenapa aku seperti kehilangan dirinya?' Renaldi begitu bingung dengan suasana hatinya saat ini.
'Tok tok tok tok'
"Masuk" kata Renaldi
"Maaf pak tadi saya lupa menyiapkan minuman dimeja Pak re" Kata Marisa staf OB itu sambil menunduk
Renaldi hannya mengangguk, diapun pergi keluar "Tunggu sebentar" cegah Renaldi saat Marisa mau membuka pintu akan keluar
"Iya, Pak" jawabnya sambil menunduk
"Kapan terakhir kali Melda masuk kantor?" Tanya Renaldi pada Risa
"Baiklah, kamu boleh keluar" Jawab Renaldi begitu dingin
Renaldi menggaruk-garuk janggutnya yang tidaj gatal itu, memutar kursinya menghadap jendela, dia berfikir ini semua hal yang wajahr karena bagaimanapun bangkai jika ditutupi pasti akan tercium juga. Akhirnya, dia melupakan Melda dan ingin hidup bersama Merry.
Tiba-tiba Renaldi sadar kalau dia belum menyakana bagaimana kabar Merry siang ini pada Ridwan, lalu dia mengambil ponselnya dan menghubunginya. Belum ada jawaban, mungkin ridwan masih bertugas batin Renaldi
__ADS_1
Saat Renaldi mencari foto Merry yang dia simpan dilaci, dia melihat sebuah kotak kecil seperti kotak cincin yang pernah ia berikan pada Melda, diapun membukanya dan melihat isinya utuh cincin yang dia berikan pada Melda dikembalikan, "Okey, brarti kamu memang ingin yang terbaik untuk hidupmu Mel. Baguslah jika itu pilihanmu lagipula pernikahan kita hanyalah sebuah drama" Kata Renaldi sambil tersenyum pasi.
Disela-sela pekerjaannya, Renaldi terus menghubungi Ridwan untuk memastikan keadaan Merry akhirnya, panggilan Renaldi dijawab oleh Ridwan.
"Bagaimana, Rid keadaan Merry" Tanya Renaldi antusias
"Sangat buruk dari sebelumnya Re, kita semua hanya bisa pasrah dengan penyakit yang sudah menggerogoti sistem sarafnya" kata Ridwan dari ujung sana
"Lakukan yang terbaik Rid!!!! Dia cintaku, jangan sampai dia pergi meninggalkanku" Teriak Renaldi dengan suara serak, air mata yang ingin dia tahan akhirnya berhasil jatuh juga
"Kamu yang sabar, Re ini sebuah ujian semua manusia akan mati dan untuk cintamu kamu jangan terlalu tertekan banyak kisah cinta tak harus memiliki kamu harus tetao melanjutkan hidupmu" bujuk Ridwan kepada Renaldi
Tanpa menyahut ucapab Ridwan, diapun mematikan panggilannya tiba-tiba 'Brakk' pintu ruangan Renaldi dibuka oleh seorang Pria kekar dengan lekukan wajah bericirikan pria Berumuran 50 tahunan
"Kau...kau masih berhubungan dengan Merry? Cuih" Teriaknya sambil berkacak pinggang terlihat begitu marah melihat anak semata wayangnya yang masih berhubungan dengan Merry
"Aku bisa jelaskan Ayah....."
"Cukup!!!! Saya sudah terlalu mengerti dengan semua sandiwara yang kamu lakukan terhadap saya. Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi" Kata pak Bram dengan wajah memerah menahan amarahnya
__ADS_1
"Saya ingin bicara denganmu, pulanglah" kata terakhirnya dan berlalu pergi dengan kemarahan yang belum padam
Renaldi semakin tidak karuan fikirannya kacau, masalah Merry saja sudah meledakkan otaknya sekarang ditambah lagi dengan kemarahan Ayahnya, bagaimanapun juga Renaldi tetap ingin menjadi pemilik Perusahaan itu dan dia harus bertahan demi saham yang akan didapatkannya.