
Risma mengingat semua kejadian-kejadian itu, dia tak sanggup menahan air matanya yang membendung dipelupuk mata. Akhirnya, air mata itu dia tumpahkan juga.
Dia tak kuasa menahan luapan tangisnya, sehingga membuat perutnya menjadi sakit Agis yang melihat Risma tengah kesakitan langsung memanggil dokter.
."Dokter.....dokter....dokter!!!" Teriak Agis sehingga membuat para pasien didalam ruangan menengok kepadanya.
Suster yang lewat ruangan Risma langaung menuju ke arah Agis, Risma yang merintih kesakitan tiba-tiba kembali tak sadarkan diri.
Dokter yang baru datang langsung memeriksa keadaan Risma, Agis menunggu diluar sembari dokter memeriksa Risma didalam.
Agia tak kuasa melihat Risma yang sebegiru kesakitan, di meninju tembok yang ada didepannya. Menahan teriakannya sampai wajahnya memerah, dan tubuhnya bergetar.
"Pak, yang sabar... " Kata Dokter
"Kenapa dengan istri saya, Dok" Tanya Agis dengan amarahnya.
"Istri bapak tidak sadarkan diri, suster telah memindahkan diruangan UGD berdo'a saja semoga istri bapak dapat melewati masa kritisnya" Dokter itu menepuk pundak Agis.
Agis berjalan terseyok saat menuju ruang UGD untuk, melihat keadaan istrinya dari kaca yang ada dipintu ruangan.
__ADS_1
'Aku berjanji Ris, setelah ini akan kubahagiakan kau dan anak kita' Batin Agis,
dia kembali duduk diruang tunggu.
Terlihat dari kejauhan Orang tua Risma datang membawa sebuah tas yang berisi pakaian ganti dan selimut untuk agis.
"Bersihkanlah tubuhmu, Gis" Kata Ayah risma seraya memberikan baju ganti pada Agis
"Ya pah," Agis mengambil pakaiannya dan pergi ke toilet.
Papah dan mamah Risma bergantian menunggu Risma diluar ruangan, ibu Risma tampak tak senang dengan musibah yang tengah dihadapi anaknya dia, mondar mandir seperti orang kebingungan.
"Mah, duduk!! kayak Ayam yang dihujung kematian saja kamu" Teriak pak prapto
Ayahnya hanya diam mendengar jawaban Istrinya, dia menyadari bahwa selama ini orang tuaya bisa hidup nyaman dan makan yang terjamin, adalah dari pemberian Agis.
Kemudian ayah risma pergi, dia tak berpamitan pada istrinya, Entah pergi kemana dirinya. "Dasar laki-laki tua gak bisa diuntung, diajak bicara malah nyelonong pergi" Gumam ibu risma
Tak lama kemudia Agis keluar dari kamar mandi, kembali duduk diruang tunggu dengan tangan menopang dagu.
__ADS_1
"Gis, kamu yang sabar ya" Kata ibu risma menepuk bahunya
Seketika Agis menatap tajam mata mertuanya itu, dia sempat berfikir ingin menceraikan istrinya gara-gara wanita matre itu.
*********************************************
Renaldi, menjemput Melda kerumah bersama dengan Mery Sempat ada keraguan dihati Mery, apakah dia sanggup membawakan skenario untuk jadi sepupu Renaldi.
Karena, selama ini kalau dia berdekatan dengan Renaldi rasa manjanya tiba-tiba muncul begitu saja.
"Re, apa aku bisa jadi sepupu palsumu?" Tanya Merry yang sedang bergelayut manja ditangan Renaldi yang tengah menyetir mobil
"Kenapa tidak, bukankah kau aktor terbaik" Jawab Re santai
"Hahahah... kamu bisa aja" Tawa Merry
Tak begitu lama Renaldi, sudah sampai dipelataran rumah Melda tampak Melda dan Ibunya sedang menunggu kedatangan Renaldi. " Buk Re sudah datang, melda berangkat dulu ya" Pamit melda seklaigus mencium punggung tangan ibunya.
" Hati hati ya Nak" Jawabnya seraya melambaikan tangan kepada putri sulungnya tersebut.
__ADS_1
Melda langaung masuk begitu saja, dia sempat melirik ke jok bagian belakang tapi, tak menghiraukan siapa wanita itu.
Ditengah perjalanan tak ada satupun yang berbicara, atau memeperkenalkan Mery pada Melda dan sebaliknya. Renaldi seakan tak ingin mengenalkan Merry pada Melda atau calon istrinya itu.