
Sesampainya mereka di rumah sakit, Suzy memutuskan untuk berjalan tanpa kruk yang tentu saja dengan bantuan Myungsoo pastinya "kau yakin bisa berjalan seperti ini?" Tanya Myungsoo dengan nada khawatir yang sangat kentara sembari memapah Suzy berjalan
"Tidak apa-apa untuk sebentar, lagi pula ibu akan khawatir aku tidak pernah menjenguknya namun datang-datang malah berjalan menggunakan kruk" Myungsoo mengangguk setuju namun tetap saja Suzy harus menggunakan kruk selama dua hari kedepan terlebih dahulu
"Tidak bisakah menunggu sampai kau bisa berjalan tanpa kruk terlebih dahulu baru ke ibu?"
"Aku sudah lama tidak melihat ibu, beliau pasti khawatir" Myungsoo menghela nafas lalu dengan terpaksa ia kembali membantu Suzy menuju ruangan ibunya
Disana sang ibu sedang terlelap, wajah damainya membuat Suzy ingin menangis, rasa rindu serta bersalah mengiris hati Suzy
"Kau duduk disini" tanpa membantah Suzy duduk diatas kursi yang baru saja Myungsoo ambilkan sedangkan pria itu berdiri disamping Suzy
Dibelainya rambut ibunya dengan lembut namun seolah tidak bisa mendapat gangguan sekecil apapun kelopak mata ibunya pun terbuka menampilkan wajah syock namun juga bahagia, dan saat matanya mendapati sosok Kim Myungsoo disamping anaknya beliau tersenyum ramah "pulang sejak kapan Su? Bagaimana pekerjaannya? Lancar?" Suzy yang ditanyai-pun langsung gelagapan, pulang? pekerjaan? Apa maksudnya?
Ditengah keterkejutan dan kediaman Suzy , Myungsoo pun menimpali "Suzy baru saja pulang bu, sudah Myungsoo bilang agar kesini besok saja karena Soo tau ia pasti lelah namun ia ngeyel katanya merindukan ibu" jawab Myungsoo sembari mengacak rambut Suzy gemas sedangkan si gadis hanya tersenyum kaku
Ibu Suzy tersenyum lalu ikut mengusap kepala Suzy "jika lelah pulang saja dulu kerumah Su, Myungsoo sudah bilang ke ibu jika kamu ada perjalanan dinas ke Jepang untuk beberapa hari" Suzy menatap Myungsoo menanyakan kebenaran itu yang dijawab dengan anggukan tipis oleh Myungsoo
"Maafkan Suzy bu tidak pamit dulu" ibu Suzy terkekeh pelan lalu menggeleng
"Tidak apa-apa itukan karena dadakan dan urgent, lagipula selama kamu tidak kerumah sakit Myungsoo setiap hari kesini loh menemani ibu" Kata ibu Suzy dengan senyum menggoda yang tentu saja membuat Suzy terkejut
Hah? Kim Myungsoo? Menemani ibunya? Kebohongan macam apa ini?
Myungsoo terkekeh "itu karena Soo sudah menganggap ibu seperti ibuku sendiri bu" Satu hal yang baru Suzy sadari jika mereka terlihat lebih akrab dari pertama kali mereka bertemu dan lagi... sejak kapan panggilan Soo itu? Ada berapa banyak hal lagi yang telah ia lewatkan sejak beberapa minggu ia dikurung? Apa mungkin ibu kota sudah berpindah dari seoul? Tidak mungkin sejauh itu kan?
__ADS_1
*****
Suzy yang akhirnya keluar dari ruangan ibunya langsung menggunakan kruknya kembali karena ia sudah mulai merasakan rasa nyeri pada kakinya
"Kenapa tidak memberitahuku jika kau tiap hari kesini?" Myungsoo menggedikkan bahunya lalu berujar "untuk apa? Kau hanya perlu fokus pada kesembuhanmu" heol selalu dengan alasan itu, paling tidak jika ia tau Myungsoo setiap hari ke rumah sakit kan minimal ia bisa menanyakan keadaan ibunya, ia merasa berdosa telah menelantarkan ibunya untung saja masih ada Myungsoo yang menggantikannya beberapa hari ini
"Sekarang mau kemana?" Suzy mengernyitkan dahinya, sepertinya kakinya sudah tidak kuat lagi jika harus berjalan lebih lama lagi "pulang kerumah saja deh , kakiku lelah"
"Kan aku sudah bilang pakai kursi...."
"Suzy" entah sejak kapan Dylan ada disana dan memotong perkataan Myungsoo tiba-tiba karena suara nyaringnya yang menggema di koridor rumah sakit yang kebetulan sedang sepi
Dylan datang mendekati mereka dengan wajah terkejut serta khawatir yang bercampur jadi satu, langkahnya terlihat sangat lebar sampai ia berdiri didepan Suzy serta Myungsoo yang membantu gadis itu berjalan "kenapa kakimu?" Suzy yang masih terkejut hanya diam tanpa merespon apapun pertanyaan Dylan sampai pria itu berdiri didepan gadis itu dengan wajah khawatir
"sejak kapan kau pulang Su?" melihat kediaman Suzy membuat Dylan memutuskan untuk kembali berbicara "aku tau dari ibumu jika kau sedang ada perjalanan dinas ke Jepang, jadi sejak kapan kau pulang?" kesadaran Suzypun akhirnya kembali pulih, iapun tersenyum canggung mendengar kebohongan Myungsoo yang semakin berlanjut
"sudah diperiksakan? jangan remehkan jatuh di kamar mandi Su, karena itu bisa berbahaya apalagi jika sudah kena tulang ekormu" Suzy kembali tertawa sumbang lalu dengan cepat ia mengangguk "tenang saja kak sebelumnya sudah aku periksakan" Dylanpun menatap Suzy dengan pandangan bersyukur
"kenapa tidak mengabariku jika ke Jepang? saat ku hubungipun ponselmu mati" kening Suzy berkerut, bukankah selama ini ponselnya ada padanya? mati bagaimana?
Suzy melirik menatap Myungsoo yang berjalan disebelahnya seolah mencari kejelasan dan pria itu hanya menatapnya dengan pandangan tidak bersalah namun Suzy tau ada maksud dari tatapan itu
"Ah... aku mengganti nomorku dengan nomor jepang selama aku disana, aku lupa tidak mengabarimu" jawab Suzy dengan senyum meringis menyembunyikan kebohongannya yang mulus, beruntung Dylan percaya akan kata-katanya
"Katanya mau pulang Su, ini sudah semakin malam loh" Dylan menatap Myungsoo tidak suka, ia tau keberadaan pria itu disini namun ia tidak menghiraukan lelaki itu, tidak tidak... ia hanya tidak suka akan kedekatan mereka berdua yang menurutnya tidak hanya sebatas bos dan bawahannya
__ADS_1
"Yasudah kak, Suzy pulang dulu ya, kakak masih ada jadwalkan?" Dylan menatap Suzy dengan senyum meringis, gadis itu hafal betul dengan jadwal jaganya, padahal ia masih ingin bersama gadis itu, menumpahkan rasa rindunya pada gadis itu
Dylan mengangguk pelan "perlu kupesankan taksi?" Belum sempat Suzy menjawab Myungsoo langsung menimpali, ia meraih bahu Suzy lalu memeluknya dengan agresif membuat Suzy terjengkit saking kagetnya "sayangnya Suzy sudah memiliki supir pribadi mulai sekarang" Myungsoo tau jika Dylan kesal padanya sedari tadi dan semakin kesal karena ucapannya barusan, ia bahkan bisa merasakan aura peperangan dari diri Dylan, entahlah... Myungsoo tau jika lelaki itu juga menyimpan rasa pada Suzy, gadis yang harus menjadi miliknya.
Suzy melambaikan tangannya sekilas sampai Dylan hilang dari pandangan netranya, dan sesaat setelah itu ia menempis tangan Myungsoo "apa maksudmu?" Tanya Suzy dengan suara lantang membuat Myungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti
"Apa? Apanya?" Suzy memutar bola matanya kesal "kau apakan ponselku? Kemana nomorku?" Wajah Myungsoo seketika berubah mengerti ke mana arah bicara gadis ini
"Pria yang waktu itu adalah penguntitmu, ia bahkan tau jadwal kerja, rumah, dan apapun yang sedang, akan atau biasa kau lakukan, tidak menutup kemungkinan dia juga sudah menyadap ponselmu" Myungsoo berhenti sejenak melihat ekspresi bersalah dari wajah Suzy
"Aku membuang ponselmu dan menggantinya dengan yang baru" mata Suzy melotot terkejut, kenapa ia tidak sadar
"Tapi ini ponselku" katanya sembari menjinjing ponselnya membuat Myungsoo terkekeh "coba lebih teliti Suzy" Suzy mencoba meneliti ponselnya , ya.. ia sadar, ini memang sama dengan ponselnya namun ini bukanlah ponselnya, ponselnya tidak semulus ini, kenapa ia tidak menyadarinya?
"Aku membeli yang sama dengan ponselmu, karena jika kau tau aku membelikanmu ponsel baru kau pasti akan menolaknya tidak peduli itu demi kebaikanmu sekalipun"
"Lalu kenapa isinya sama?"
"Apa gunanya teknologi Suzy, ponselmu memang baru tapi semua data yang ada tetap data diponsel lamamu" hah.. Suzy bersyukur walaupun nomornya sudah raib paling tidak ia masih memiliki kontak beberapa temannya.
To Be Continued
I hope you enjoy with my story
Dont forget to leave a comment , like, and share if you like my story , thanks you and paipai
__ADS_1
Ci vediamo,
@IzzanaJoo