
Suzy mengeliat diatas ranjangnya lalu tangannya bergerak mengusap ranjang kosong disampingnya, dan saat ia tak menemukan suatu hal apapun iapun membuka matanya dengan segera menampilkan pemandangan kamar kecilnya dengan beberapa barang murah yang menghiasinya
Suzy menghela nafas berat saat sadar dimana ia berada sekarang "ada apa dengan dirimu Bae Suzy" sepertinya ia sudah terlalu terbiasa tidur dengan sesosok pria yang selalu memeluknya dan beberapa kali saat ia terbangun ia akan mendapati pria itu juga ada diatas ranjang yang sama dengan ranjang yang ia gunakan, dan beberapa kali ia akan disuguhi oleh pemandangan seonggok makhluk indah ciptaan Tuhan yang sedang berdiri bersiap dengan anggunnya didepan matanya
Namun saat ini bukanlah pemandangan itu yang terlihat, membuatnya harus segera membiasakan dirinya untuk kembali pada hidupnya yang dulu.
*******
Seperti biasa hari-hari Suzy sudah kembali normal seperti biasanya, kruk yang ia kenakan juga sudah ia lepas sejak tadi malam , hari ini Suzy berangkat ke kantor diantarkan oleh Hyuna yang kebetulan bertemu dengannya lagipula Dylan ada jadwal operasi mendadak hari ini sehingga ia absen untuk mengantarkan gadis ini
Sesaatnya dikantor ia mengerjakan tugasnya selayaknya seorang karyawan lainnya, tugas yang memang biasa ia kerjakan dan saat hari sudah semakin malam iapun pulang setelah mampir ke rumah sakit seperti biasa
Setiap hari rute seperti itu yang selalu Suzy jalani, beberpa kali Dylan masih mengantar jemputnya namun terkadang pria itu juga tidak bisa mengantar atau menjemputnya karena jadwalnya yang bentrok membuatnya terpaksa harus naik busway untuk pulang
Hari ini Suzy pulang lebih malam dari biasanya karena ia yang harus lembur, namun kali ini ia tidaklah sendiri karena ia ditemani oleh beberapa temannya dengan beberapa dari mereka adalah seorang wanita, jujur saja kejadian beberapa minggu lalu itu masih membekas dikepalanya apalagi saat ia berada dikantor, rasa takutnya sering kali muncul saat suasananya sepi atau ia yang kebetulan seorang diri
Suzy melangkah gontai memasuki rumahnya, ia segera membersihkan tubuhnya sebelum ia bersiap keatas ranjangnya
Diraihnya ponselnya sekedar untuk melihat nama kontak yang sering kali membuatnya kesal
Dari riwayat panggilan yang ada diponselnya, pria itu terakhir kali menghubunginya pada malam itu, malam dimana tanpa sengaja ia bertemu Dylan dan berakhir ia habiskan dengan bertelfon ria dengan pria bermarga Kim itu, jika dihitung lagi ini sudah hampir seminggu sejak malam itu dan pria itu seperti hilang ditelan bumi , tidak sama sekali menghubunginya seperti yang ia janjikan padanya
"Ia tidak apa-apakan?" Entah apa yang ada dalam kepala Suzy , namun gadis itu merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya
Suzy menghela nafasnya berat sebelum akhirnya ia meletakkan ponselnya dengan berat hati diatas meja nakas sebelum akhirnya ia bersiap untuk tidur
Beberapa kali ia menoleh kearah ponselnya berada lalu ia mengalihkan pandangannya saat ia tidak menemukan tanda-tanda jika ponselnya akan menyala diiringi oleh helaan nafas berat yang keluar dari mulutnya
*******
Kriiiing
Suzy yang baru bangun dari tidurnya sesegera mungkin meraih ponsel miliknya saat ponsel itu berdering menandakan jika ada panggilan masuk
Dengan penuh harap ia meraih benda persegi panjang itu namun harapannya sirna saat matanya melihat nama si penelpon yang tertera dilayarnya
"Hallo kak" Suara pria tersambung dari sebrang sana merespon sambutan Suzy
'Sudah bangun Su?' Suzy mengangguk lalu menjawab "ya... baru saja akan bersiap, ada apa?" Tanyanya heran kenapa pria ini menelponnya pagi-pagi buta seperti ini? Bahkan matahari masih sayup-sayup terlihat
'Hari ini aku jemput lebih awal ya, sekalian sarapan berdua' Suzy terkekeh pelan sebelum akhirnya ia mengiyakan ajakan pria itu
Setelah panggilan terputus ia segera bangkit dan bersiap untuk keluar dengan Dylan sekaligus berangkat kerja
Setelah rutinitasnya sebagai wanita selesai dan kini ia sudah berubah menjadi gadis cantik dengan pakaian rapi khas wanita kantoran , ia berjalan dengan santai meraih sepatu pantovelnya dan memakainya sebelum ia keluar dari rumahnya, saat ponselnya kembali berdering ia menyempatkan diri untuk mengangkat telfon itu
"Ya kak" Kata Suzy merespon telfon yang tidak lain dari Dylan
__ADS_1
Ditekannya angka 1 saat pintu liftnya sudah tertutup, karena hari yang memang masih sangat pagi membuat lift serta apartmentnya terasa lebih sepi dari biasanya saat ia akan pergi kerja
'Aku sudah menunggumu diluar Su' Suzy mengangguk lalu menjawab "ya kak, aku sedang perjalanan turun, ini masih didalam lift" Suzy segera mengantongi ponselnya saat sambungan telfonnya sudah terputus
Ia bersenandung pelan menunggu liftnya sampai dilantai 1 , sesaat setelah sampai ia segera berjalan keluar, disana sudah ada mobil BMW putih yang terparkir tepat didepan gedung apartmentnya, mobil yang ia tau jelas siapa pemiliknya
Tanpa ragu lagi ia berjalan menuju mobil itu lalu mengetuk pelan kaca mobil itu membuat kacanya terbuka , memperlihatkan seorang pria yang sudah berdandan rapi serta sangat tampan didalam sana, pria itu tersenyum menyambut Suzy yang juga sedang tersenyum menatapnya
"Hai kak" sapa Suzy yang menurut pria itu sangat menggemaskan dimatanya
"Yuk masuk Su, keburu siang" Suzy berjalan menuju kursi satunya lalu duduk tepat disebelah Dylan yang duduk dikursi kemudi
"Sudah lama kak?" Dylan menggeleng , sembari menyalakan mesin ia merespon pertanyaan Suzy
"Aku baru sampai saat aku menelfonmu" Suzy mengangguk mengerti, ia memperhatikan penampilan Dylan yang sangat rapi "kakak dinas pagi?" Tanya Suzy yang dijawab anggukan oleh Dylan
"Nanti malam aku tidak bisa menjemputmu Su karena aku banyak jadwal hari ini" Suzy mengangguk mengerti
"Kakak sangat sibuk akhir-akhir ini" pernyataan Suzy diangguki oleh Dylan , karena pria itu akhir-akhir ini memang lebih sering kerja lembur dari biasanya
"Akhir-akhir ini banyak sekali orang sakit Su, ditambah lagi dengan wabah yang sekarang ini sedang merebak sehingga setiap harinya banyak orang yang memeriksakan dirinya walau hanya sakit flu sekalipun" lagi-lagi Suzy mengangguk mengerti, sejak sebulan terakhir ini Korea dan juga banyak negara lain sedang terserang wabah penyakit baru, wabah yang membuat banyak orang meninggal dinegara Tiongkok, sedangkan di negaranya sendiri setidaknya sudah ada 19 orang yang positif terkena virus tersebut bahkan WHO sudah mengeluarkan pernyataan darurat virus yang dinamakan NCov-19 atau biasa ia sebut dengan virus Covid 19 membuat sebagian orang di Korea atauu bahkan diseluruh dunia dirundung kepanikan
"Jangan lupa untuk selalu pakai masker saat keluar rumah Su, virus itu sudah bermutasi dengan sangat cepat, selalu jaga kesehatanmu kalau ada apa-apa bilang padaku, mengerti?" Suzy terkekeh lalu mengangguk patuh
"Aku selalu membawanya kak" kata Suzy sembari menjinjing dua buah masker yang ia simpan didalam tasnya, masker yang memang sudah menjadi standarisasi pemerintah Korea untuk mengantisipasi penyebaran virus ini
Siang itu Suzy yang sedang tidak melakukan apa-apa diminta tolong oleh salah satu temannya yang memang sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya
"Su bisa minta tolong antarkan ini keruangan bujangnim?" Suzy yang memang tidak sedang sibuk pun menganggukkan kepalanya lalu mengambil sekotak berkas menuju ruangan Minseok
Sesaat setelah ia keluar dari ruangan Minseok yang terletak dilantai yang sama dengan ruangannya dan tidak jauh juga dari ruangannya iapun kembali berjalan menuju tempat duduknya namun belum sempat ia sampai Jihyo berlari kearahnya dengan wajah panik
"Su... Su" katanya dengan nafas memburu
"Ada apa jihyo?" Tanya Suzy heran , keningnya berkerut mencetak 3 garis disana
"Ibumu..." deg... tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat, entah ada apa dengan ibunya namun rasa takut dan fikiran buruk memenuhi kepalanya
"Ada apa dengan ibu?" Tanyanya tanpa rasa sabar sedikitpun, Jihyo menatap Suzy kasihan lalu mengusap lengannya sabar
"Jangan terkejut, baru saja ada telfon dari rumah sakit katanya ibumu sedang kritis" suara Jihyo yang nyaring membuat teman-teman Suzy yang juga satu ruangan dengannya bisa mendengarnya bahkan sampai sekretaris Minseok yang kebetulan ada disana pun bisa mendengarnya
Suzy menutup mulutnya terkejut, matanya tiba-tiba memerah lalu berair dari ujungnya
"Pergilah Su, aku akan memintakan izin kepada bujangnim" Suzy menatap sekretaris Im dengan pandangan berterima kasih sangat , ia tak bisa membendung air matanya lagi, dengan mata yang sudah basah ia mengangguk dan dengan cepat ia membersihkan barang-barangnya dari mejanya
"Terima kasih Im bisseo, saya pergi dulu" sekretaris Im pun mengangguk lalu menepuk pelan punggung Suzy "hati-hati dijalan, semoga ibumu bisa segera melewati masa kritisnya" Suzy mengangguk berkali-kali sebelum akhirnya ia berlari samar-samar ia dengar Jihyo berteriak akan mengantarnya namun tak ia hiraukan , ia berlari dengan cepat menuju lift , lalu segera berlari keluar mencari taxi , beruntung dengan cepat ia bisa menemukan taxi
__ADS_1
"Menuju rumah sakit Seoul ya pak" tubuhnya bergerak gelisah, ia mengambil ponselnya menampilkan 10 panggilan tak terjawab dari Dylan
Tangan Suzy saling berpegangan dengan cemas, dalam hati ia berdoa agar ibunya tidak apa-apa, agar tidak ada hal buruk yang terjadi pada ibunya, beberapa minggu sejak ibunya dirawat dirumah sakit ibunya sudah tidak pernah pingsan seperti dulu sehingga ia sempat mengira jika ibunya sudah lebih baik dari dulu, ditambah dengan ibunya yang selalu ceria dan tersenyum, ia tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi sekarang, ia tidak mengira jika keadaan ibunya kembali drop sekarang ini
Sesaat mobil yang Suzy tumpangi sampai Suzy menekankan beberapa angka diponselnya sebagai bukti pembayaran sebelum akhirnya ia berlari dengan tergopoh-gopoh menuju ruangan ibunya namun belum ia sampai Dylan lebih dulu menghentikan langkahnya dengan suara beratnya
"Suzy" Suzy menatap Dylan yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan wajah sendu, dengan cepat ia menghampiri Dylan dan dengan memburu ia memberondong lelaki itu dengan banyak pertanyaan
"Bagaimana keadaan ibu kak? Apa ia baik-baik saja? Dimana ibu sekarang?" Dylan mengulurkan tangannya mengusap pundak Suzy "tenanglah Su, ayo ke ruanganku aku akan menjelaskannya padamu" Suzy menghela nafasnya berat, sudah lebih dari sebulan ia tidak mengunjungi ruangan pria ini sejak terakhir kali pria itu menginformasikan jika ibunya harus segera mencari donor jantung karena keadaan ibunya yang semakin memburuk, dimana sebuah kenyataan yang membuat hidupnya runtuh, membuatnya bingung tak karuan dan akhirnya hari ini..... ia harus kembali keruangan pria itu yang ia tau jika ia sudah memasuki ruangan pria itu ..... itu tandanya jika ada hal buruk yang akan pria itu katakan, walaupun mungkin tidak terlalu buruk tapi minimal itu adalah hal penting dan serius
"Duduklah" dengan gugup Suzy menarik kursi tepat didepan pria itu, wajahnya terlihat sangat cemas membuat Dylan tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini dari gadis yang sangat ia sayangi ini
Dylan menghela nafasnya sampai terdengar oleh Suzy membuat gadis itu semakin cemas
"Jadi tadi tiba-tiba detak jantung ibumu melemah , membuat kami tim dokter terpaksa harus memasangkan banyak alat untuk menunjang detak jantung ibumu agar lebih normal walaupun hasilnya tidak terlalu memuaskan namun detak jantung beliau sudah lebih baik tapi belum normal" air muka Suzy terlihat takut dan khawatir yang bercampur "lalu dokter?" Pembahasan yang serius membuat Suzy tanpa sadar memanggil Dylan dengan sebutan dokter, sebutan yang sangat jarang ia sematkan pada pria bermarga Xiong ini
"Jadi ibumu harus segera di operasi" tubuh Suzy menegak "bukankah aku sudah memberikan uang muka untuk mencari donor jantung untuk ibu? Jika kondisi ibu semakin buruk kenapa tidak dilakukan sekarang operasinya?" Dylan menggelengkan kepalanya
"Donor jantung itu susah didapatkan Suzy, selain ibumu masih banyak orang yang mengantre untuk mendapatkan donor jantung juga, sedangkan donor jantung tidak bisa didapatkan dari pasien yang sudah meninggal melainkan ke pasien yang sedang mengalami mati otak sehingga terpaksa harus di lepas semua alatnya dan itupun harus atas persetujuan keluarganya terlebih dahulu" lagi-lagi Suzy menghela nafasnya , ia tidak tau kenapa prosedur ini sangat rumit, kenapa harus serumit ini? Tidak kah yang membuat prosedur kasihan dengan pasien yang sangat membutuhkan donor organ seperti ibunya ini?
"Lalu bagaimana kak? Aku harus gimana? Apa yang harus aku lakukan?" Dylan bisa mendengar nada keputusasaan dari gadis itu, ditatapnya gadis itu dengan pandangan iba sebelum akhirnya pria itu bangkit dari duduknya menghampiri Suzy lalu duduk berjongkok didepan gadis itu
"Aku akan bantu mencarikan donor kerumah sakit lain yang ada di Korea mungkin kita bisa menemukannya" Suzy menatap pria yang kini sedang menggenggam tangannya sembari berjongkok didepannya "kalau kita tidak bisa menemukannya bagaimana?" Dylan kembali menghela nafas
"Kita harusnya bisa mencari keluar negeri..." Dylan terdiam sebentar lalu melanjutkan "aku akan terus membantumu Suzy" Suzy menatap Dylan ragu sama seperti saat pria itu mengatakan kalimat itu yang penuh dengan keraguan , Suzy tidak mau dan Suzy tidak terima jika umur ibunya tidak akan panjang namun Suzy juga tau jika Dylan hanya sedang memberikannya harapan agar ia tidak terlalu panik dan khawatir, hanya mendengar dari apa yang pria itu katakan Suzy tau sesulit apa mendapatkan donor itu, ditambah dengan kondisi ekonominya , apa kesempatannya untuk mendapatkan donor itu bisa dibilang hanya 1%?
********
Suzy menyusuri lorong dengan langkah gontai menuju ruang ICCU dimana kata Dylan disanalah ibunya berada
Setelah beberapa saat ia berjalan akhirnya ia sampai didepan ruang ICCU, ia berhenti tepat didepan ruangan yang dipenuhi oleh kaca buram dengan beberapa sisi yang transparan , ia mengintip dari kaca yang transparant disana memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang sedang terlelap dengan tenang, suara detak jantung teratur wanita itu terdengar nyaring dari benda berbentuk kubus yang ada didalam sana dengan banyak selang di sana-sini disekujur tubuh wanita itu
"Ibu" tangan Suzy terangkat menyentuh permukaan kaca yang mengarah kewajah wanita yang ia panggil ibu itu, dibelainya kaca itu pelan diikuti oleh tubuhnya yang bergetar
Ibunya kemarin masih bersenda gurau dengannya , bercanda tawa mengenang berbagai hal semasa kecilnya namun kini ibunya sudah terbaring lemah dengan sekujur tubuh yang dipenuhi oleh kabel, selang dan alat-alat kedokteran yang ia sendiri tidak tau itu apa dan untuk apa melihat pemandangan itu sukses meruntuhkan ketegarannya, pusat semangatnya, pusat hidupnya kini sedang diambang hidup dan mati sedangkan ia sendiri tidak tau harus melakukan apa lagi selain menunggu kabar baik dari Dylan serta rumah sakit
Tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya dari belakang lalu memanggilnya dengan suara lirih seperti suara tidak yakin "Su....."
To Be Continued
I hope you enjoy with my story
Dont forget to leave a comment , like, and share if you like my story , thanks you and paipai
Ci vediamo,
@IzzanaJoo
__ADS_1