
Pram sampai di depan rumah sederhana di pinggir kota. Ia benar-benar janjian dengan dua orang berbeda hari ini.
Sudahlah tanggung, aku tidak bermaksud mempermainkan mereka hanya ingin sedikit bermain agar tidak jenuh.
Pram memarkir motornya di bawah pohon mangga di depan rumah itu, terlihat seorang gadis mendekat dan menyapa Pram.
"Bang sudah datang?" Sapa gadis itu.
"Iya, sudah nunggu ya? Ga sabar mau ketemu Abang ya?" Jawab Pram dengan PD nya.
" Ga kok. Kebetulan aja lagi diluar." Jawab gadis itu beralasan padahal memang sudah menunggu dari tadi.
"Mau panas-panasan disini?" Tanya Pram karena gadis itu tidak mengajak Pram masuk.
"Hehehe ayo masuk bang!" ajak gadis itu menuju ke dalam rumahnya.
"Di rumah Lia ada siapa?" Tanya Pram.
"Ga ada orang bang, bapak sama ibu masih belum pulang mereka membuka toko di pasar, adek lagi sekolah madrasah, kenapa emangnya bang?" Tanya gadis yang ternyata bernama Lia itu.
"Oh kalau begitu kita di luar aja." Pram duduk di bawah pohon mangga dekat motornya yang memang ada kursi panjang disitu.
"Oh gitu ya udah Lia ambilin minum dulu. Abang ngopi atau teh?" Tanya Lia
"Air putih dingin."
" Yah kita ga punya air dingin bang gimana dong? Mau dibeliin di warung depan dulu?" Tanya Lia.
"Gapapa air anget putih aja, ga usah repot-repot." Pram meminta air putih, dia suka air putih dingin kalau tidak ada mending air anget, sebenarnya bagus air hangat putih tapi karena cuaca panas kalau siang Pram lebih sering minum air putih dingin. Pram jarang minum yang berasa karena tau kebanyakan gula tidak baik bagi tubuhnya.
"Ok deh tunggu ya bang!" Lia Masuk dalam rumahnya mengambil air putih panas dan beberapa kue didalam kulkas, Lia keluar dengan 2 gelas air putih dan sepiring beberapa macam kue di atasnya.
" Nih bang dimakan, kue bikinan Lia sendiri lo." Lia menunjuk kue kacang di atas piring.
"Emang bisa?" Pram menyomot satu kue kacang dan mengecap rasanya
__ADS_1
"Ehm enak. Pinter juga Lia bikin kue, paling juga bikinan ibu Lia." Jawab Pram sambil menyomot satu kue lagi.
"Ih ga percaya ya udah. Lia pinter masak tau!" Jawab Lia sambil manyun.
Mereka baru pertama kali ketemu tapi Pram sekarang sangat lihai menaklukkan perhatian cewek.
Drrrtt...drrrrtt
Hp Pram bergetar ada pesan masuk. Diliriknya pesan tersebut ternyata dari Linda menanyakan Pram sudah sampai asrama lagi belum, Pram memasukkan HP-nya kembali kedalam kantong tanpa membalas pesan dari Linda.
Lia dan Pram ngobrol kesana kemari dengan akrabnya tanpa terasa waktu sudah sore. Pram pamit pulang karena dia ingat belum sholat Ashar.
"Lia abang pamit dulu ya, nanti kapan-kapan Abang jemput kamu, kita jalan-jalan." Pamit Pram sambil berjanji akan mengajak Lia jalan, Pram sebenarnya sudah janji dari telepon kemarin mau mengajak Lia jalan tapi karena waktu sudah sore Pram hanya main ke rumah Lia saja.
"Iya bang, ati-ati ya. Nanti kapan-kapan main lagi kesini." Lia menatap Pram seolah belum rela Pram pulang.
"Ok... nanti Abang main lagi, ya sudah Abang pamit ya... Bye" Pram langsung naik motornya dan pergi meninggalkan rumah Lia.
Lia menatap kepergian Pram setelah menjadi titik hitam lalu menghilang Lia masuk kembali ke dalam rumahnya sambil membawa gelas kosong dan piring bekas tempat kue tadi.
Ia membuka pesan dari Linda tadi tidak berniat membalas malah menelepon Linda.
"Halo assalamualaikum bang?" Sapa Linda diujung telepon
"Waalaikumussalam, Linda lagi apa? Abang ganggu ga?" Tanya Pram basa-basi.
"Engga bang, masih nyantai aja lagi baca buku." Jawab Linda
" Maaf ya tadi Abang ga balas pesannya abang masih sibuk. Ini baru beres kegiatan." Kilah Pram beralasan.
"Oh gapapa bang, Linda cuma mastiin aja kalau Abang sudah sampai dengan selamat" kata Linda lembut.
" Makasih Lin perhatiannya, Abang tutup dulu ya." Pram pamit mematikan teleponnya
"Ia bang, assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumussalam, bye" tuut Pram menutup teleponnya dan meletakkan HP-nya diatas meja kembali. Pram membayangkan Linda yang sangat sopan pakaiannya juga lemah lembut tingkahnya membuat Pram tergoyah mengakhiri permainannya dengan gadis-gadis lain tapi menurut Pram ini belum waktunya.
Pram tidak boleh terlalu cepat jatuh cinta. Pram harus bisa menahan hatinya. Resiko kalau dia jatuh cinta lagi adalah patah hati lagi.
Pram keluar dari barak menuju tempat Gym di dalam Batalyon. Di Batalyon Pram semua alat olahraga lengkap. Ada tempat futsal, kolam renang, lapangan volley, lapangan bola, dan juga lapangan lain. Jadi jika ada anggota yang ingin olahraga tidak perlu menyewa tempat di luar Batalyon.
Di tempat Gym Pram bertemu dengan Dika. Dika mendekati Pram.
"Mas mau ng Gym?" sapa Dika menepuk bahu Pram.
"Iya Dik, masak disini mau futsal?" Pram merasa basa-basi Dika susah basi.
"hahaha iya mas. Eh mas kemarin Sherly menelepon saya lo!" Dika duduk di depan Pram ingin berbicara serius.
"Terua kenapa katanya dia mantan kamu ya ga papa dong telepon kamu? kenapa memberitahu aku?" Jawab Pram cuek. Dia sudah bisa melupakan Sherly dan tidak ingin mendengar nama itu lagi.
"Sorry mas, saya baru tahu karena Sherly tidak pernah jujur awalnya. Dia bilang dia masih belum punya pacar." jelas Dika menjelaskan maksud Sherly meneleponnya.
"Kenapa minta maaf?" jawab Pram bingung.
"Iya Sherly kemarin menceritakan semua. Bahwa sebenarnya dulu ketika Sherly kesini ketemu sama saya pertama kali itu ternyata nungguin kamu. Aku benar-benar ga tau kalau ternyata Sherly itu pacar kamu." Dika menyesal karena telah merasa mengkhianati temannya. Padahal saat itu Dika hanya ingin main-main saja.
Pram hanya tersenyum.
"Dika Dika... justru saya yang terima kasih. Karena kamu saya jadi tahu Sherly itu cewek seperti apa." jawab Pram sambil menepuk bahu Dika
"Sudah saya putus dengan Sherly bukan hanya karena itu, saya merasa Sherly makin kesini makin kehilangan jati dirinya. Dia sudah minta yang tidak bisa saya penuhi." jawab Pram mantab. Pram sudah bisa melupakan Sherly.
Pram hanya belum bisa melupakan kekecewaan Pram pada perempuan bukan pada orang-orangnya tapi pada pengkhianatanny.
"Ya sudah mas, aku tidak mau kamu salah paham. Saya benar-benar tidak tahu." Dika tersenyum.
" Udah jangan cerewet kamu pegangin saya dulu" Pram bersiap untuk sit up dan meminta Dika untuk menahan kakinya.
Pram memang tidak berniat untuk marah pada Dika, yang salah saat itu adalah Sherly. Dan yang paling jelas memang.
__ADS_1
"Sherly bukan Jodoh Pram."