Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 28


__ADS_3

Setelah selesai dengan pekerjaannya Pram kembali ke barak, ia mandi dan makan sebelum lanjut jaga.


Pram ingat tadi sebelum ke kompi ia mengirim pesan pada Atikah. Pram mengecek HP-nya setelah selesai sholat.


Ah ternyata sudah dibalas. Singkat sekali balasanmu Tikah. Batin Pram


"Tidak apa-apa Dek, mungkin Adek kangen sama Mas, jadi Mas kasih tahu no Mas 😁" Pram menjawab pesan itu dengan bercanda.


Pram tersenyum sendiri dengan isi pesan yang dikirimnya itu. Mungkin Atikah yang formal bisa dia luluhkan dengan gurauan.


"Dek besok sore Mas jemput, tolong share lok rumahmu ya!" Kirim Pram pada Atikah.


••••


Atikah merasa Pram tidak sekaku yang dia bayangkan. Pesannya penuh dengan candaan yang membuat dia tersenyum-senyum sendiri. Tapi Atikah masih belum membuka hati sepenuhnya.


Atikah merasa masih perlu mengenal lebih jauh lagi pria yang membuatnya tertarik ini. Dia akan mencari tahu apakah benar Pram tidak sedang berpacaran dengan siapapun.


Atikah tidak membalas pesan Pram tadi. Ia tak ingin terbawa perasaan lebih jauh. Menurutnya kalau Pram serius akan menjemputnya Pram pasti akan menghubunginya esok hari.


Atikah menyimpan HP-nya di atas meja kamar dan bergegas mandi karena waktu sudah sore.


••••


Malam menjelang Atikah dan keluarga makan besar bersama. Orang tua Atikah merasakan rona bahagia pada putri semata wayangnya tersebut.


"Nak, kamu malam ini cantik sekali dengan senyuman seperti itu." Celetuk mamah Atikah.


"Emang selama ini Tikah ga cantik mah?" Tanya Atikah setelah menelan makanan dalam mulutnya.


"Kamu tuh Tikah kenapa sih selalu sensi gitu ama mamah?" Jawab mamah Atikah.


"Hehehe ya habisnya mamah bilang malam ini Tikah cantik berarti malam sebelumnya Atikah ga cantik dong?" Jawab Tikah membela diri.


"Sudah-sudah! Jangan ribut saat makan. Anak papah memang cantik mirip papahnya." Lerai papah Atikah melihat anak dan istrinya ribut.


Merekapun melanjutkan makan malam tanpa suara.


••••


Keesokan harinya setelah turun piket Pram segera menuju barak untuk istirahat. Badannya lelah sekali. Sebelum tidur Pram terlebih dahulu mandi dan sarapan.

__ADS_1


Selesai sarapan Pram tidur untuk mengganti semalaman ia terjaga. Pram sudah lelap dalam mimpinya.


Sebelum Adzan Dzuhur Pram sudah bangun dengan badan segar. Ia melihat jam yang menunjukkan jam dua belas kurang sedikit.


Pram segera bangun merapihkan tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk bersiap ke masjid.


Pram telah selesai dengan sholat dan makannya. Pram mengingat hari ini berjanji akan menjemput Atikah di rumahnya. Pram mengambil HP-nya dan mencari kontak Atikah. Setelah ketemu dipanggilnya nomor tersebut.


"Hallo assalamualaikum..." Sapa suara diujung telepon.


"Waalaikumusalam... Lagi apa Dek?" Tanya Pram pada pemilik suara.


"Masih di kampus Mas, ada apa? Tumben telepon."


"Tidak apa-apa, cuma mau ingetin kalau nanti sore Mas akan jemput, jangan lupa share lokasi rumah kamu ya!" Pinta Pram.


"Oh iya Mas, nanti Tikah share kalau sudah pulang." Jawab Atikah.


"Ya sudah hati-hati."


"Hati-hati buat apa mas?" Tanya Atikah karena Pram bilang hati-hati.


"Hati-hati untuk hari ini, di kampus dan saat pulang nanti... Mas tutup ya."


"Waalaikumusalam" tut...tut... Masih terdengar tutupan telepon Atikah.


Pram tersenyum. Dia belum tahu mau mengajak Atikah kemana dan mau apa. Menurutnya bertemu saja dulu.


••••


Pram sudah rapih dan siap dengan motornya. Setelah sekilas melihat share lok dari Atikah dia sedikit tahu daerah tempat tinggal gadis itu. Pelan-pelan dia melajukan motornya meninggalkan Batalyon.


Perjalanan ke rumah Atikah tidak terlalu jauh, hanya sekitar setengah jam Pram sudah di depan rumah Atikah.


Dia memencet bel rumah di kawasan perumahan yang cukup mewah itu.


Atikah keluar membukakan pintu.


"Eh Mas, sudah datang. Mau langsung keluar apa di rumah dulu mas?" Tanya Atikah setelah melihat Pram.


" Langsung keluar saja ya Dek, soalnya di rumah kamu tidak ada orang." Jawab Pram.

__ADS_1


"Oh gitu, ya sudah tunggu dulu mas duduk sini. Saya ambil hp dan nutup pintu dulu." Atikah menyuruh Pram duduk di kursi terasnya dan kembali masuk ke dalam mengambil hp dan menutup semua pintu.


"Dek, tidak apa-apa kalau kamu naik motor? Biasanya kan kamu kemana-mana bawa mobil." Tanya Pram setelah Atikah siap.


"Tidak apa-apa mas. Emangnya kenapa?" Tanya Atikah kembali.


"Yah kamu kan ga pernah naik motor. Takutnya tidak mau." Pram khawatir karena Atikah memang punya mobil untuk pergi kemana-mana.


"Hayuk berangkat." Ajak Atikah.


Ragu-ragu Pram menyerahkan helm pada Atikah.


"Kamu beneran ga apa-apa naik motor?" Tanyanya meyakinkan.


Atikah tersenyum.


"Tidak apa-apa Mas, sudah hayuk jalan." Jawab Atikah sambil naik ke atas motor gede Pram.


Setelah mereka meninggalkan komplek itu Pram masih belum tau mengajak Atikah kemana.


"Dek kita mau kemana ya?" Tanya Pram menoleh sebentar ke belakang.


"Lah belum tahu Mas, kirain jemput sudah tau mau kemana." Jawab Atikah di balik punggung Pram.


"Hehehe..." Pram hanya tertawa. Karena tadinya hanya berpikir keluar dwngan Atikah saja.


Pram melajukan motornya menuju taman wahana yang lumayan besar di kota.


"Dek kita main disini aja ya. Ga apa-apa kan kalau ibu dosen ini sekali-kali main di wahana seperti ini?" Tanya Pram ragu-ragu.


Atikah hanya tersenyum mengangguk. Mereka berjalan membeli tiket dan masuk ke dalam setelah mendapat gelang untuk tangan mereka.


" Mau naik apa Dek?" Tanya Pram melihat beberapa permainan di dalam wahana.


"Hehehe... Saya belum pernah main ketempat seperti ini Mas, jadi sedikit takut." Jawab Atikah sedikit malu.


"Ya sudah kita lihat-lihat dulu saja siapa tau nanti ada yang menarik" Pram dan Atikah berjalan mengelilingi wahana permainan tersebut.


••••


Sudah sebulan lebih sejak pertama kali Pram menjemput Atikah di rumahnya. Namun rasa sungkan pada diri Pram membuatnya tak bisa mendekati Atikah dengan baik.

__ADS_1


Kencan pertama mereka berjalan dengan tidak lancar karena lagi-lagi mereka bertemu dengan Sherly yang membuat Atikah salah paham dan Pram lun tidak bisa menjelaskan karena Atikah tidak bertanya.


Sekarang orang tua mereka yang gemas dengan kelakuan anak-anaknya. Tanpa pikir panjang lagi para orang tua bertemu dan menjodohkan mereka secara paksa. Karena upaya pendekatan yang mereka lakukan tidak berjalan sebagaimana mestinya.


__ADS_2