
Setelah orang tua Atikah pulang, Pram duduk kembali di samping Atikah yang sudah tertidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter.
Pram menggenggam tangan Atikah kembali dan diletakkan di pipinya, Pram tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya masih menerawang memikirkan bagaimana Atikah bisa kecelakaan.
Malam sudah sangat larut akhirnya Pram tertidur juga di kursi dengan kepala berbantal tangannya yang masih menggenggam tangan Atikah.
Saat subuh Atikah bangun, ia tersenyum melihat Pram yang tertidur begitu pulas.
"Mas bangun, sudah subuh sholat dulu yuk!" Atikah membangunkan Pram berlahan.
Pram mengerjapkan matanya, ia tersenyum melihat Atikah yang sudah lebih cerah sedang memandanginya.
"Selamat pagi Dek, yuk sholat dulu." Pram menggeliat karena posisi tidurnya lumayan membuat badan pegal.
Ia bangkit dan menuntun Atikah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Ati-ati dek," ucapnya seraya memapah atikah berjalan, tangan kirinya membawa tiang selang infus.
Pram menunggu Atikah di depan pintu kamar mandi, setelah Atikah selesai Atikah berjalan sendiri.
"Makasih Mas," Atikah kembali berbaring di ranjangnya dan Pram mengambilkan mukena sebelum ia ke kamar mandi untuk berwudhu.
Mereka sholat berjamaah dengan Atikah berbaring di tempat tidur karena kepalanya masih pusing jika berdiri lama.
Selesai sholat Pram duduk kembali di samping Atikah.
"Kenapa mas nginep disini? Mas capek kalau pagi-pagi harus balik kerja." Tanya Atikah.
"Mas mau ijin Dek, tapi hp mas ketinggalan juga di barak. Boleh pinjem hp Adek dulu? Mas mau menghubungi hp mas sendiri siapa tahu di angkat."
Atikah meraih HP-nya di atas nakas samping ranjangnya, lalu menyerahkan pada Pram.
"Ini mas," Pram mengambil hp Atikah dan menghubungi nomornya sendiri, muncul dilayar namanya.
Seletah terhubung dan di angkat oleh Andre, Pram memberi tahu bahwa dia ada di rumah sakit dan meminta ijin untuk diijinkan pada dankinya bahwa hari ini ia ijin tidak ikut kegiatan.
Pram telah mematikan sambungan teleponnya, ia mengernyitkan dahinya melihat hp Atikah.
"Kenapa mas, kok liat HP Tikah begitu sih?" Tanya Atikah.
"Kenapa nomor mas di simpen cuma dengan nama? Ga ada istimewanya sekali." Ujar Pram cemberut.
__ADS_1
"Hehehe memangnya mas mau dinamai apa?" Atikah balik nanya.
"Ya apalah gitu yang sosweet kan mas ini calon suami Adek." Pram mengembalikan HP Atikah dan berharap gadis itu mengubah namanya.
Ternyata Atikah hanya meletakkan HP-nya diatas nakas kembali.
"Dek kok di taruh lagi sih HP-nya?" Pram mendelik.
"Lah emangnya kenapa mas? Kan mas udah selesai makainya? Masih ada yang mau dihubungi?" Tanya Atikah bingung.
"Hmmm Adek tuh ya, maksud mas ganti nama mas di hp Adek." Jawab Pram ketus.
"Ya ampun mas, kirain apa. Emang mau dinamai apa sih?" Jawab Atikah malu.
"Terserah Adek, yang penting jangan nama aja gitu." Pram membiarkan Atikah berpikir akan menamai dirinya apa di dalam kontak HP-nya.
Atikah membalik-balikkan matanya berpikir panggilan apa yang pantas untuk mewakili perasaannya dan menggambarkan sosok Pram bagi dirinya.
Atikah mengetikkan sesuatu di kontaknya dan mengembalikan HP-nya ke atas nakas Kembali.
"Loh kok dibalikin sih dek, sini mas pengen liat dulu dong!" Pram kesal dengan Atikah.
"Udah ah mas jangan. Malu." Atikah tertunduk dan memiringkan badannya membelakangi Pram. Dia sadar sebelumnya belum pernah sedekat ini dengan calon suaminya ini.
Pram tersenyum ketika melihat kontak di HP-nya.
Ia lalu membuka aplikasi kamera dan memanggil Atikah.
"Dek..." Ketika Atikah menoleh pas pipi mereka beradu karena Pram membaringkan kepalanya disisi Atikah.
Crekk...
Terambil gambar mereka yang pipi Atikah memerah merona tanpa sapuan blush on.
"Mas,,, kok tiba-tiba ambil foto sih, Atikah kan lagi jelek begini. Udah ah hapus." Atikah cemberut sekaligus menahan malu.
" Bagus Dek, liat deh. Kamu itu mau gimana juga tetep cantik." Puji Pram.
Mereka asyik ngobrol berdua sampai lupa waktu. Tiba-tiba pintu diketuk dan pekerja rumah sakit datang untuk membersihkan kamar mereka.
Pram menyilahkan dengan ramah.
__ADS_1
Setelah selesai dibersihkan datang pekerja lain yang membawakan sarapan dan obat untuk Atikah.
"Permisi mbak, silahkan dimakan saya tinggal dulu." Pamit pekerja itu dengan santun.
Pram segera mengangkat meja penyangga makanan yg terlipat menyatu dengan ranjang.
"Adek mau makan sendiri atau mas suapi?" Tanya Pram setelah menyiapkan makanan Atikah.
"Mas ini masih pagi, Tikah belum lapar." Kilah Atikah.
"Ssttt tetep harus makan dan cepat sembuh, mas mau Adek cepet sembuh dan kita lanjutin pengajuan kita. Setelah semalam mas tidur disini mas makin ga sabar buat cepet-cepet nikah sama Adek." Rayu Pram dengan nada menggoda.
Jujur saja Pram semalaman tidak bisa tidur nyenyak memandangi wajah calon istrinya itu. Rasanya ia sudah tak sabar untuk memiliki gadis ini seutuhnya.
"Ahh mas ini, bikin Atikah malu terus." Atikah benar-benar merona. Ia dapat merasakan pipinya memanas karena kata-kata Pram dari tadi yang membuatnya malu.
"Beneran Dek, udah cepetan makan. Atau mau Mas suapi biar lebih enak makanannya?" Pram meraih sendok yang ada di piring.
"Udah ah mas, jangan godain Tikah terus... Sini Tikah makan sendiri." Atikah merebut sendok dari tangan Pram dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Mas juga cari sarapan sana. Tikah juga ga mau liat mas sakit gara-gara nungguin Tikah." Atikah mendorong tubuh Pram pelan.
"Mas mau makan sepiring berdua aja sama Adek, karena ini pasti ga bakal Adek abisin juga kan? Sayang mubadzir." Jawab Pram mantab.
"Ih kata siapa? Tikah makannya banyak tau Mas." Atikah menjawab sambil mengunyah membuat pipinya menggembul sehingga makn menggemaskan.
" Ya ampun Dek, udah deh jangan ngomong aja kalau lagi makan. Makin gemes tau ga sih mas itu." Pram memperhatikan Atikah memakan sarapannya membuat Atikah salah tingkah.
Mereka asyik sarapan sepiring berdua hingga tak sadar bahwa mamah Atikah sudah duduk di kursi tamu. Sampai mamah Atikah harus berdehem supaya mereka menyadari bahwa ada orang lain didalam kamar mereka.
"Ya ampun mamah kapan datang?" Pram bergegas menyalami calon mamah mertuanya itu.
" Ya kalian lagi asyik gitu mana denger mamah masuk?" Jawab mamah Atikah tersenyum melihat kelakuan anaknya.
"Pram sarapan dulu nih, mamah bawain sarapan dari rumah, ada nasi goreng sama goreng ayam." Mamah Atikah membukakan bungkusan di meja tempat makanan.
"Wah mah, makasih udah repot-repot. Tapi Pram makan sarapan Atikah soalnya Atikah makannya sedikit sekali nih mah." Lapor Pram pada mertuanya.
"Apaan makan aja engga Mas Pram nih. Udah Mas, sana sarapan yang bener. Tikah mau minum obat dulu." Atikah menyilahkan Pram untuk makan.
Pram membereskan meja makan lipat Atikah kembali dan menyiapkan obat untuk diminum Atikah.
__ADS_1
"Makasih ya mas." Ucap tulus Atikah.
"Adek tidak perlu terima kasih. Cukup vepat sembuh dan segera jadi milik mas itu sudah membuat mas lebih dari bahagia." Jawaban Pram membuat rona muka Atikah kembali memerah.