Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 24


__ADS_3

" Iya pak, ini sudah bangun." Sahut Pram dari dalam.


Astaghfirullah, kenapa bisa mimpiin cewek gini sih? Masak saking pengennya nikah?. Pram mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


Pram beranjak dari tempat tidurnya dan masuk kamar mandi sikat gigi lalu berwudhu. Bapaknya sudah menunggu di ruang keluarga.


"Maaf pak, Pram kesiangan." Pram telah siap berangkat.


"Ayo Pram sebentar lagi adzan berkumandang." Bapak Pram beranjak dari duduknya dan berjalan menuju masjid beriringan.


" Sholat malam ya Pram. Minta sama gusti Allah mudah-mudahan di dekatkan dengan jodoh yang baik." Nasehat bapak Pram.


"Insya Allah pak." Jawab Pram


Mereka sholat sunah masuk masjid sholat fajar dan tak lama kemudian lanjut sholat subuh berjamaah.


Sepulang mereka dari masjid, ibu telah menyiapkan teh manis untuk pria kesayangan ibunya itu.


"Ini teh manis dan singkong goreng untuk cemilan pagi. Kalau Pram mau sarapan berat di meja makan sudah ada tumis kacang panjang dan tempe goreng Pram." Ibu meletakkan sepiring singkong goreng yang masih dengan asal mengepul.


"Terima kasih ibu. Pram sudah lama tidak makan singkong goreng sepertinya ini akan habis sepiring" Pram langsung mengambil satu potong tangannya kaget karena singkong itu masih sangat panas.


"Pram hati-hati, kan asapnya saja masih mengepul gitu." Kata bapaknya yang melihat tangan Pram menghempaskan singkongnya kembali ke piring.


"Hehehe sudah tidak sabar pak, kelihatannya sangat enak." Pram nyengir.


Pram hari ini libur, setelah sarapan ia berencana membantu bapaknya mengganti tanaman di kebun belakang.


Tanaman cabe yang mulai kering di ganti dengan bibit baru.


Sayur-sayuran yang sudah mulai tua di ambil dan ditanami lagi dengan tanaman sayur baru yang lain. Biar tidak bosan saat dimakan secara berkala sayur di kebun diganti jenisnya, mulai dari kacang panjang, buncis, labu siem, bayam, dan lainnya.


Siang itu udara sangat sejuk tidak panas tapi tidak juga turun hujan, sehingga Pram dan bapaknya betah di kebun.


"Pak, Pram...pulang dulu sudah mau sholat Dzuhur" Panggil ibu dari belakang rumahnya.


Bapak menoleh dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Pram tak terasa sudah jam sebelas lewat, mari kita sudahi saja. Nanti sore kita lanjutkan tinggal memberi pupuk dan menyiram sedikit air." Kata bapak mengajak Pram pulang.


"Iya pak, mari pulang." Pram membereskan cangkul, sabit dan bibit untuk kembali dibawa pulang.


" Udaranya sejuk pak, bikin betah di kebun. Kalau berkebun begini mah bisa betah tidak bikin cepat haus dan lelah." Kata Pram sambil berjalan beriringan dengan bapaknya.


"Betul Pram kebetulan sekali kamu libur pas cuaca redup begini. Terima kasih Pram sudah membantu bapak." Kata bapak pada Pram


"Bapak seharusnya bapak sudah tidak perlu lagi terlalu capek di kebun, bapak harus banyak istirahat. Kalau Pram tidak libur tidak usah ke kebun sendirian. Minta bantuan orang lain saja pak." Pinta Pram karena tidak mau bapaknya kelelahan.


"Bapak akan bosan Pram kalau berdiam diri di rumah. Bapak tidak bisa hanya duduk diam saja." Sepertinya memang Pram menuruni sifat bapaknya yang pekerja keras.


Pram tersenyum mendengarkan bapaknya, Pram tau rasanya ketika dia harus berdiam diri.


"Yang penting bapak jangan memaksakan diri pak, istirahat jika sudah lelah." Pesan Pram.


"Ia Pram bapak juga tidak mau kalau sampai sakit dan merepotkan ibumu." Jawab Bapak.


Mereka telah sampai di belakang rumah dan membersihkan diri. Sementara ibu menyiapkan pakaian suaminya dan menuju dapur menyiapkan masakan untuk mereka makan bersama setelah sholat Dzuhur.


Sepulang dari masjid bapak dan Pram memasuki rumah dan bertanya-tanya karena di luar ada mobil terparkir. Mobil siapakah gerangan?


"Assalamualaikum..." Bapak mengucapkan salam.


Beberapa orang di ruang tamu menoleh dan menjawab salam tersebut.


"Waalaikumusalam...." jawab mereka hampir serempak.


"Eh ada tamu toh? Sudah lama Rud?" Tanya bapak kepada lelaki yang seumuran dengan bapak diantara mereka lalau bersalaman dan berpelukan sebentar.


"Belum, baru pulang dari masjid ya? Kebetulan lagi ke rumah anak mumpung hari minggu sekalian ngajak silaturahmi kesini" Jawab bapak tua itu yang ternyata adalah Om Rudi suami tante Dewi yang semalam diceritakan oleh ibu.


"Ini Pram ya?" Om Rudi bertanya sambil menyalami Pram.


"Betul om saya Pram" jawab Pram sambil menundukkan kepala mencium tangan om Rudi.


"Masya Allah tampan sekali kamu sekarang Pram. Terakhir bertemu kamu masih kecil sekali, masih suka ngejailin Atikah dan membuat dia menangis dulu. Kamu ingat?" Om Rudi menepuk bahu Pram.

__ADS_1


"Lupa om, sudah lama sekali." Ucap Pram memerah karena malu.


Kenapa semua orang ingat aku suka menjaili Atikah sih. Batin Pram.


"Nih sekarang juga Atikah sudah besar. Sudah ingin punya suami katanya." Om rudi menunjuk Atikah anaknya, pecah tawa semua orang mendengar celetukan om Rudi kecuali Atikah dan Pram.


Mereka berdua beradu pandang sebentar dan saling menunduk.


Atikah malu ketika di bilang sudah mau punya suami.


Sedangkan Pram malu mengingat gadis itu sama dengan gadis dalam mimpinya semalam.


Rona merah pada wajah mereka berdua membuat para orang tua tersenyum. Mereka lega karena tersungging senyum di bibir kedua remaja beranjak dewasa itu.


"Pram salaman dong sama Tante Dewi juga Atikah kok malah bengong." Ucap ibu Pram memecah keheningan antara mereka yang masih saling tersenyum memberi kode.


"Eh iya Tante, saya Pram." Pram bersalaman dan mencium tangan Tante Dewi. Dan berpaling menuju Atikah dan bersalaman sebentar dengannya.


"Atikah" ucap Atikah mengulurkan tangannya menerima tangan Pram.


"Pram" ucap Pram kembali.


"Ya sudah sana Pram ganti baju dulu kita makan bersama." Perintah ibunya karena Pram masih mengenakan sarung.


" Jeng kebetulan saya masak banyak kalau Pram di rumah. Jadi mau tidak mau harus mencicipi masakan saya ya?" Ajak ibu Pram setengah memaksa.


"Wah jadi enak gini ya... Kita berkunjung pas jam makan siang." Jawab Tante Dewi bercanda.


Mereka memang sudah selayaknya saudara, saling membantu ketika salah satu mengalami kesulitan. Sehingga tidak merasa canggung lagi.


"Ayo Rud, kita langsung ke meja makan saja." Ajak bapak setelah berganti pakaian.


Mereka berkumpul di meja makan untuk menikmati makan siang sambil ngobrol santai. Semua sangat asyik dengan obrolannya kecuali Atikah dan Pram yang masih mengontrol getaran di hati masing-masing.


Mereka hanya mengangguk dan tersenyum ketika obrolan itu mengarah pada meraka. Tapi yang jelas makanan di depan mereka berdua sudah tidak jelas rasanya.


Rasa lapar yang tadi di rasakan Pram seketika hilang, ia tidak bisa makan dengan benar dan hanya mengaduk aduk makanan dalam piringnya.

__ADS_1


__ADS_2