Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 32


__ADS_3

"Insya Allah, kita bisa menjalaninya bersama." senyum Pram menatap Atikah hangat, namun yang di tatap malah memalingkan muka malu.


"Iya Mas, sekarang mau pulang ke asrama langsung atau balik ke rumah ibu?" tanya Atikah mengalihkan pandangan Pram yang masih menatapnya.


"Langsung ke asrama dek, jauh lagi kalau balik ke rumah. Mamah sama papah ga dateng hari ini? Biasanya kalau hari libur mereka di sini." Pram menanyakan orang tua Atikah.


"Tidak mas, ada arisan sama teman-teman nya papah lagi katanya." terang Atikah.


"Sudah adzan Ashar" Pram melihat jam di tangannya.


"Kalau begitu Mas pulang dulu ya Dek, besok mas akan mulai mengurus pengajuan kita. Mas akan menghubungimu jika ada yang diperlukan." Pram pamitan pada Atikah karena waktu sudah sore.


"Iya Mas, hati-hati ya," Atikah mengantar Pram sampai depan motornya.


"Assalamualaikum" ucap Pram.


"Waalaikumusalam" Atikah menjawab sambil tersenyum.


Atikah membereskan bekas botol dan toples dari meja teras membawanya masuk ke dalam rumah. Ia segera bergegas mandi sore dan sholat Ashar, masih terbersit senyum di bibir indahnya. Ia masih belum percaya bahwa sebentar lagi ia akan menikah.


••••


Pram telah sampai di asrama, ia segera mandi dan bersiap ke masjid untuk sholat jamaah.


Sepulang dari masjid dan apel malam Pram datang ke kompi untuk menanyakan pengajuan nikah memerlukan syarat apa saja.


Pram telah sampai di kompi, dia segera mencari staff yang mengerjakan administrasi dan menanyakan syarat dan alur yang harus ia tempuh saat pengajuan nikah nanti.


"Mas minta tolong ya cetakkan saya syarat untuk pengajuan nikah." pintanya saat sudah berbasa-basi pada staff yang ditemuinya tadi.


"Siap pak, wah pak Pram sudah mau menikah ya. Ternyata diam-diam setelah lama tidak kedengaran pacaran malah langsung ngajuin aja pak?" goda staff yang berpangkat praka itu sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


Karena staff nya praka jadi memanggil Pram dengan sebutan pak. Biasanya Pram akan memanggil pak juga atau mas untuk menghormati tergantung seberapa akrab mereka.

__ADS_1


"Hehehe iya Mas, doain ya mudah-mudahan lancar." jawab Pram sopan.


"Siap Pak!" staff langsung mengeluarkan syarat yang terdiri dari banyak poin. Ia menjelaskan pada Pram satu persatu syarat itu berupa apa dan dimana mendapatkannya.


Pram memperhatikan dengan seksama dan bertanya jika ada yang tidak ia mengerti. Pram terlihat manggut-manggut saja mendengar penjelasan dari staff.


"Ok deh Mas, terima kasih bantuannya. Nanti kalau saya butuh bantuan saya datang lagi kesini ya?" ucap Pram setelah dirasa cukup paham dengan penjelasan yang diberikan


"Siap Pak, semoga lancar." Praka itu mengacungkan jempolnya sambil menganggukkan kepala.


Pram berpamitan dan kembali ke barak. sesampainya di barak ia duduk di kasurnya membaca sekali lagi persyaratan itu.


"Wah banyak juga ya. Bahkan sampai SKCK orang tua Atikah segala. Kasian sekali pasti mereka bakal repot" Pram berguman sendiri dan mengeluarkan HP-nya lalu memfoto kertas itu dan mengirimnya ke Atikah.


Pram: Dek, ini persyaratan kita nanti. Pasti akan sangat melelahkan. Maaf ya.


Pram mengirim pesan pada WA Atikah ia merasa tidak enak karena pasti akan sibuk nantinya, sedangkan waktu mereka tinggal empat bulan.


Hp Pram berbunyi balasan pesan dari Atikah.


Atikah: Iya Mas, tidak apa-apa. Kalau kita menjalaninya dengan senang pasti semua akan baik-baik saja 🙂.


Apa emot senyum? Atikah tersenyum lagi? Ahh Pram senang sendiri membayangkan senyuman Atikah yang manis dan keibuan itu.


Ia segera mengetikkan balasan.


Pram: Terima kasih ya Dek, untuk pengertiannya. Besok Mas akan kirim kain persit dan perlengkapannya untuk Adek jahit, biar pas untuk adek jadi lebih baik di jahit sendiri saja ya? Maaf Mas tidak bisa mengantar langsung karena Mas masih banyak pekerjaan. Akhir pekan nanti kalau sudah jadi bajunya Mas antar mengambil jahitannya ya!


Atikah: Ia Mas, tidak apa-apa. Jangan sungkan. Terima kasih ya.


Pram: Iya Dek sama-sama, Mas yang maaf dan sekali lagi terima kasih dek.


Pram meletakkan HP-nya karena tidak mengharap lagi balasan dari Atikah. Ia segera bergegas ke kompi untuk mengambil peralatan Persit yang akan Pram kirim besok lewat ojeg online.

__ADS_1


Pram mengambil tas, sepatu dan kain beserta kerudungnya karena Atikah memakai jilbab tak lupa lencana juga dia ambil. Di dalam bungkus kain sudah ada petunjuk bagaimana kain itu harus dijahit jadi Pram tidak perlu mencari tahu lagi.


Ia segera membayar perlengkapan yang diambilnya itu. Tak lupa ia sendiri mengambil perlengkapan wing baju PDH karena di batalyon baju itu jarang dipakai sehingga wing Pram entah dipinjam siapa.


Setelah selesai Pram segera kembali ke barak dan membungkus perlengkapan yang besok pagi akan di paketkan.


Entah mengapa Pram begitu semangat mengurusi pengajuan nikah ini padahal baru melihat persyaratannya saja sudah membuat kepala pusing membayangkan ia akan menghadap ke siapa saja.


Bukan hanya persyaratan administratif yang disiapkan oleh mereka berdua nanti tapi juga harus menghadap satu-satu ke unsur yang ada di batalyon dari Danton sampai ke Danyon dan itu membutuhkan waktu dan tenaga serta kesabaran ekstra, selain menghadap ke bapak-bapak nya, mereka juga harus menghadap satu-satu ke pengurus Persit yang terdiri dari istri para pemegang jabatan di Batalyon.


Ia tersenyum setelah paketnya rapi dan menyimpannya di lemari. Ia bersiap untuk tidur saat Andre adik lettingnya tiba-tiba sudah duduk di samping Pram.


"Cie cie bang Pram mau meried...cie ga jomblo lagi..." goda adiknya itu.


Pram menoyor kepala Andre.


"Kamu tuh ngintipin orang aja." bentak Pram pura-pura.


"Hehehe Abang udah mau nikah aja ga ketahuan pacarannya." Andre masih terus meledek.


"Ah diam kamu bocah udah sana tidur udah malam ini. Besok giat padat lo." Pram mendelik mengusir Andre dari kasurnya.


"Hahaha..." Andre malah tertawa puas.


"Selamat ya Bang, akhirnya Abang bukan jomblo abadi lagi. Eh malah ngeduluin para play boy di barak ini." ucap Andre tulus tapi masih meledek.


"Huh kamu, udah cepetan nyusul ngajuin juga jangan mainin anak gadis orang aja bisanya." Pram sok menasehati dan berbalik membelakangi Andre.


Andre menurut segera pindah ke kasurnya sendiri. Pram segera memejamkan matanya karena lelah setelah Andre berhenti mengganggunya.


Walaupun matanya terpejam tapi Pram belum bisa tidur. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering sekali insomnia. Padahal ia sangat lelah, mungkin karena belakangan ini ida jarang olahraga dan pikirannya tersita oleh Atikah yang entah sudah muncul cinta atau belum dalam hatinya.


Pram segera menarik selimut di kakinya membungkus dirinya dan berdoa tak lupa mendoakan bapak ibunya dan terakhir mendoakan Atikah. Terlintas senyum disudut bibirnya sebelum ia terlelap dialam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2