Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 39


__ADS_3

Atikah pulang mengendarai mobilnya, waktu sudah menjelang magrib, matahari berlahan turun tenggelam di ufuk barat.


Atikah melajukan mobilnya semakin kencang, ia berharap dapat sampai rumah sebelum magrib agar tidak perlu berhenti dijalan untuk sholat.


Namun saat melewati tikungan tajam ada sebuah mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan sangat tinggi oleng dan menyenggol mobil Atikah. Atikah tidak bisa menghindari karena berada di tikungan akhirnya harus terseret hingga berbalik arah.


Pengendara mobil yang menyerempetnya pergi melarikan diri sedangkan jalanan sedang sepi, hingga beberapa lama baru ada orang yang menemukan mobil Atikah.


Mereka segera membawa Atikah ke rumah sakit karena Atikah tidak sadarkan diri.


Beruntung Atikah ditemukan oleh orang baik yang mengamankan semua barang Atikah dan membawa ke rumah sakit tepat waktu.


Walaupun Atikah tidak mengalami cidera serius namun ia akan kehabisan nafas jika pingsan terlalu lama.


Pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarga Atikah, orang tua Atikah segera bergegas menemui anak semata wayang mereka dengan khawatir.


"Maaf pak, apakah bapak orang tua gadis ini?" Tanya seorang paruh baya yang telah menolong Atikah menunjuk sebuah tas yang ditemukannya disebelah kemudi.


"Benar pak, saya papahnya Atikah. Apa yang terjadi pak? Bagaimana keadaan putri saya?" Tanya papah Atikah.


"Silahkan bapak lihat kondisi putri bapak dulu nanti saya akan ceritakan kejadiannya." Ajak bapak itu ke kamar dimana Atikah mendapat perawatan.


"Atikah..." Panggil mamah Atikah dengan derai air mata.


"Dia masih belum sadar bu, tapi tidak ada masalah serius padanya, hanya shock saja nanti tidak lama lagi kesadarannya juga akan segera pulih." Jelas dokter yang memeriksa Atikah.


"Ya Allah Atikah, kenapa bisa begini?" Mamah Atikah memeluk anaknya dan terisak.


Atikah membuka matanya, remang-remang ia mulai memperoleh kesadarannya. Ia memperhatikan sekitarnya.


Kepalanya berputar, pelan-pelan ia mengerjapkan matanya.


"Mamah, Tikah ada dimana? Kenapa kepala Tikah pusing sekali?" Tanya Atikah ketika melihat mamahnya memeluknya sambil menangis.


"Alhamdulillah... Kamu sudah sadar nak? Tikah di rumah sakit. Alhamdulillah Tikah tidak apa-apa. Ada yang sakit? Dok anak saya sadar dok!" Mamah Atikah menangis lagi.


"Biar saya periksa dulu Bu." Dokter mendekati Atikah dan memeriksa keadaannya.

__ADS_1


"Syukurlah anak ibu sudah sadar sejauh ini tidak ada masalah serius namun kita tunggu besok hasil CT scan dan Rontgen untuk lebih jelasnya. Sekarang biarkan pasien istirahat terlebih dahulu." Jelas dokter setelah emmeriksa keadaan Atikah.


Dokter pergi meninggalkan ruangan Atikah. Orang tua Atikah memeluk Atikah erat, mereka bersyukur karena keadaan Atikah baik-baik saja.


°°°°


Pram masih menunggu jawaban telepon dari Atikah yang tak kunjung mengangkat, setelah panggilan kesekian baru teleponnya di angkat tapi bukan Atikah yang menjawab.


"Assalamualaikum nak Pram, ini mamah Atikah." Jawab di seberang telepon.


"Oh mamah, Atikahnya kemana mah? Kenapa tidak jawab telepon Pram." Tanya Pram.


"Nak, Atikah kecelakaan pulang dari batalyon tadi sore, sekarang ada di rumah sakit. Namun keadaannya baik-baik saja...."


Belum selesai mamah Atikah menjelaskan Pram sudah menjatuhkan HP-nya.


Perasaannya tidak enak, ia bergegas mengambil jaket dan kunci motornya.


"Bang mau kemana malam-malam begini?" Tanya Andre.


Tapi Pram tidak menjawab ia langsung keluar menuju motornya dan bergegas.


Pram yang panik dan gugup pikirannya hanya tertuju pada Atikah.


Astaghfirullah, trus saya harus gimana sekarang


Gerutu Pram dalam hati. Akhirnya dia memilih menuju rumah sakit yang terdekat dari jalan pulang ke rumah Atikah dari batalyonnya.


Ia tiba di parkiran rumah sakit dan bergegas menuju resepsionis setelah bertanya tentang korban kecelakaan dan nama Atikah akhirnya pram dapat menemukan kamar Atikah.


Pram segera berlari menuju ruangan yang di sebut perawat tadi.


Hatinya kacau saat memandang pintu kamar Atikah, dia menyalahkan dirinya sendiri yang membiarkan Atikah pulang sendiri. Air matanya sudah tidak terbendung.


Berlahan ia membuka pintu kamar tersebut, nampak olehnya Atikah terkulai di ranjang besi dengan infus dan selang.


Hatinya remuk redam melihat calon istrinya tak berdaya.

__ADS_1


Orang tua Atikah yang melihat kedatangan Pram lalu berdiri menyambut.


"Tidak apa-apa nak, Atikah baik-baik saja, ia hanya sedang istirahat. Tadi pingsan tapi sudah sadarkan diri dan sudah melewati masa kritis, jangan khawatir ya" ucap mamah Atikah menenangkan Pram yang berurai air mata.


"Maafkan Pram mah, harusnya Pram mengantar Atikah pulang tadi. Ini semua salah Pram." Pram memeluk mamah Atikah dengan rasa bersalah.


"Sudah nak, Atikah tidak apa-apa. Sini lihat Atikahnya." Mamsh Atikah mengajak Pram duduk di kursi sebelah ranjang Atikah.


Pram menggenggam tangan kekasihnya tersebut, diciuminya tangan gadis pujaannya itu.


Atikah membuka matanya, ia kaget Pram sudah ada disampingnya.


"Mas, kenapa ada disini?" Tanya Atikah.


"Maafin mas, Dek. Harusnya mas tetap mengantar kamu pulang. Sekarang kamu lihat kan! Kamu harus mengalami kejadian seperti ini." Pram masih terus menyalahkan dirinya sendiri.


Atikah tersenyum dan membelai tangan Pram.


"Tikah baik-baik saja mas, lihat Tikah ga terluka kan? Jangan khawatir." Atikah menenangkan kekasihnya.


"Adek harus nurut sama mas lain kali. Kalau terjadi apa-apa sama Adek mas ga bisa maafin diri mas sendiri." Kata Pram memandang atikah seolah takut kehilangan.


"Ia mas, Tikah janji lain kali nurut sama mas. Udah jangan khawatir. Kenapa ga besok aja kesininya mas? Ini udah malam mas pasti capek juga." Kata Atikah.


"Emang Adek pikir mas bisa tenang? Mas mau tidur disini malam ini." Pram memandang Atikah.


"Adek istirahat lagi ya, mas tungguin disini." Pram menyelimuti badan Atikah sampai dada dan menggenggam tangan Atikah yang tidak dipasangi selang infus.


Pram membelai tangan kekasihnya, ia ingin menanyakan kronologi kejadiannya hingga Atikah bisa mengalami kejadian ini tapi dia merasa waktunya belum tepat, jadi ia membiarkan Atikah istirahat terlebih dahulu.


Setelah Atikah yang terlelap ia melepaskan genggamannya dan duduk di samping oenag tua Atikah.


"Pah, Mah maafin Pram yang lalai menjaga Atikah, harusnya Pram mengantar Atikah pulang sehingga kejadian ini tidak perlu terjadi." kata Pram serius.


"Nak Pram ini adalah musibah yang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang penting Atikah baik-baik saja." Jawab Papah Atikah menepuk pundak Pram.


"Sudah sebaiknya nak Pram sekarang istirahat. Ini sudah malam, mau pulang atau menginap disini?" tanya Mamah Atikah.

__ADS_1


"Disini aja mah, besok Pram ijin dulu untuk tidak masuk kerja. Kalau mamah dan papah mau pulang tidak apa-apa biar saya yang menjaga Atikah malam ini." jawab Pram.


Orang tua Atikah memutuskan pulang dan akan kembali esok paginya.


__ADS_2