Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 38


__ADS_3

Waktu sudah berjalan sebulan namun pengajuan mereka belum selesai juga. Mereka baru akan menyiapkan dokumen untuk menghadap pengurus Ranting Persit di kompi Pram.


Atikah telah menyiapkan materi yang telah di hafalkan dan dibacanya, sebelumnya ia telah sharing pengalaman dengan istri lettingan calon suaminya.


Setidaknya berkenalan dengan sesama persit akan membantunya menyesuaikan diri. Mempersiapkan hal apa saja yang kira-kira akan menjadi pertanyaan dari para senior dan atasannya.


Setelah mempersiapkan berkas Pram menjemput Atikah untuk menghadap satu persatu dari pengurus persit disetiap seksi di ranting kompinya.


Pram bukan pertama kalinya melihat Atikah memakai seragam persitnya namun ia selalu terpesona dengan kecantikan calon istrinya ini.


"Dek..." panggil Pram.


"Ia Mas, kenapa?" Jawab Atikah tanpa menoleh karena sedang mempelajari kertas-kertas dihadapannya.


"Dek..." panggil Pram sekali lagi.


"Hmm ia mas ada apa sih?" jawab Atikah sewot karena Pram hanya memanggil.


"Nah gitu dong liat calon suamimu ini, di panggil kok jawab tapi ga noleh sama sekali." Pram tersenyum melihat ekspresi kesal Atikah.


"Ya ampun Mas, Tikah lagi gugup malah ngajak bercanda ya." Atikah jadi gemas sendiri dengan tingkah calon suaminya.


"Udah fokus ke jalan, Tikah mau membaca lagi lagi materi ini, nanti kalau Tikah ga bisa jawab kan Mas juga yang malu, berarti Mas ga ngajarin Tikah dengan benar." sahut Atikah.


Atikah harus mengetahui kegiatan apa saja yang akan diikutinya nanti setelah menjadi anggota Persit.


Pram hanya senyum-senyum melihat calon istrinya sambil terus menyetir.


Pram telah menjelaskan yang diketahui sebelumnya, bahwa jadwal ibu-ibu persit antara lain olahraga, senam, bakti sosial, dan pengajian.


Tak lupa Atikah juga sudah menghafalkan lagi mars dan hymne persit, peraturan AD/ART. Semua Atikah lakukan dengan senang hati.


Pram juga selalu memberinya semangat akan Atikah tidak merasa keberatan dengan semua yang harus dilaluinya.

__ADS_1


Setelah sampai Batalyon Pram dan Atikah segera berburu tanda tangan dari pengurus persit kompi. Pram menghubungi satu persatu pengurus mulai dari paling bawah untuk diminta tanda tangannya.


Tentu tak mudah mendapat tanda tangan itu, setiap orang memiliki tantangan sendiri untuk mereka berdua.


Tentunya maksudnya adalah baik, agar calon pengantin saling mengerti dan memahami posisi masing-masing setelah menikah nanti.


Hari ini Pram dan Atikah berhasil mendapatkan ACC dari semua pengurus ranting, besok mereka harus kembali lagi untuk mendapatkan tanda tangan dari pengurus cabang.


Setelah seharian dari pagi istirahat hanya sholat dan makan Sampai sore akhirnya mereka menyelesaikan misi mereka hari itu.


Hari-hari yang cukup melelahkan untuk mereka, namun karena dilakukan bersama-sama semua terasa menyenangkan.


Jika orang lain mendekatkan diri dengan berkencan mungkin ini adalah cara mereka untuk lebih saling mengenal satu sama lain.


Banyak hal yang Atikah dapatkan dari wejangan para senior dan atasan selama mereka menghadap. Termasuk etika setelah menjadi persit nanti, bagaimana harus bersikap terhadap senior, atasan maupun kepada adik lettingnya.


Sikap hormat dan santun pada senior dan atasan juga sikap mengayomi dan memberikan contoh yang baik kepada adek lettingnya.


Menurut Atikah persiapkan pernikahan seperti ini diperlukan. Nasehat yang diberikan sangat bermanfaat untuk bekal perjalanan pernikahan mereka kelak.


Mereka mengobrol sambil bercanda dibawah pohon yang ada tempat duduknya, tempat yang syahdu untuk menghabiskan sore, tempat yang pas untuk mereka melepas lelah dan penat setelah seharian mondar-mandir menemui senior mereka.


Atikah melihat jam ditangannya ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore, Atikah harus segera pulang agar tidak lewat magrib sampai rumah.


"Mas, Tikah pulang sendiri saja ya? Jangan di antar. Kasian mas Pram capek. Mas masih harus bekerja setelah mengantar Tikah." Bujuk Atikah agar Pram tidak mengantarnya pulang.


"Udah Dek mas antar saja, besok pagi juga Mas jemput lagi." ucap Pram.


"Ga apa-apa Mas, adek kan udah biasa naik mobil sendiri." Paksa Atikah.


"Tapi Mas ga tega Adek pulang sendiri." Pram bersikeras mengantar.


"Mas, persiapan kita masih panjang, jangan memporsir tenaga mending mas istirahat. Kita besok masih harus menghadap pengurus cabang, mas siapain aja materinya. Tikah pulang ya." Bujuk atikah

__ADS_1


"Ga apa-apa dek, Mas anter Adek sebentar nanti mas langsung pulang trus istirahat. Janji!" Pram memaksa mengantar karena merasa bertanggung jawab atas Atikah.


"Mas tu ya, Tikah bukan ga mau di antar mas, tapi Tikah kasian. Lagian mas, Atikah kan naik mobil ga bakal apa-apa, kalau sekarang mas antar, besok masih harus jemput tenaga mas habis di jalan. Lagian juga Atikah sudah hiasa naik mobil perjalanan jauh." Atikah marah karena merasa Pram tidak mengerti.


"Ya sudah kalau begitu, beneran ga apa-apa tidak di antar?" Tanya Pram meyakinkan.


"Ia ga apa-apa, Atikah akan hati-hati." Janji Atikah.


"Ya sudah sana Adek pulang sudah malam, tapi hati-hati ya, jangan ngebut, nanti kabari kalau sudah sampai. Jangan terlambat mengabari Mas." Pram mewanti-wanti.


" Siap bos!! Ya sudah Mas, Tikah pulang dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Atikah


"Waalaikumusalam, jangan ngebut Dek. Jangan lupa kabari mas ya!" Pram masih saja khawatir.


Atikah menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Pram.


Akhirnya mereka berpisah, Atikah pulang mengendarai mobilnya sendiri.


Pram masih berdiri memandangi mobil Atikah hingga menjadi titik kecil dan menghilang.


Waktu sudah mulai gelap, Pram segera kembali ke barak untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat magrib.


Setelah sholat Pram makan malam lalu kembali ke kompinya untuk mengerjakan pekerjaan yang harusnya siang tadi ia kerjakan. Walaupun sedang dalam pengajuan tapi Pram tidak suka menunda-nunda pekerjaannya.


Menurut Pram ia harus bisa seimbang antara pekerjaan dan masalah pribadi, ia tak ingin menjadikan alasan pengajuan nikahnya untuk meninggalkan kewajiban di kantornya dan melimpahkan kepada orang lain.


Justru saat seperti inilah ia belajar tanggung jawab, menyelesaikan urusan pekerjaan dan urusan pribadi secara seimbang.


Pram kembali ke barak setelah urusannya selesai, ia melihat HP-nya namun belum ada telepon dari Atikah.


Ia kembali ke barak dan rebahan untuk mengistirahatkan badannya sambil menunggu dering hp-nya.


Sudah 2 jam berlalu namun Atikah belum memberi kabar juga, ada rasa khawatir pada diri Pram. Ia mengambil HP-nya dan menghubungi Atikah namun tidak di jawab juga.

__ADS_1


Perasaan Pram semakin tidak enak, biasanya Atikah akan segera menelponnya jika sudah waktu malam sekedar mengucapkan selamat tidur, namun dari tadi pulang belum ada kabar sama sekali bahkan teleponnya pun tidak di angkat.


Pram mencoba menghubungi sekali lagi, selang beberapa detik telepon Pram diangkat, Pram diam membeku mendengarkan perkataan orang di seberang telepon. Bukan Atikah yang mengangkat teleponnya.


__ADS_2