Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 36


__ADS_3

Atikah menangis haru melihat Pram menyisipkan cincin di jemarinya. Akhirnya Atikah tidak harus ragu lagi, Pram menginginkan dirinya untuk menjadi istrinya bukan sekedar karena perjodohan kedua orang tua mereka. Tapi tulus dari dalam hati Pram sendiri.


Pram tersenyum lega setelah melihat Atikah tersenyum tulus padanya.


"Terima kasih Dek, untuk penerimaannya. Mari kita sama-sama untuk memupuk rasa pada hati kita masing-masing. Walaupun mas tau Adek belum dapat mencintai Mas sepenuhnya karena terlalu cepat. Tapi mari bangun rumah tangga kita dengan penuh cinta setiap harinya." Pram berkata dengan kesungguhannya.


" Insya Allah Mas, selalu bimbing Atikah menjadi istri yang baik." Atikah menganggukkan kepalanya.


"Ayo turun kita makan dulu. Kasian perut kita sudah demo minta diisi." Pram turun diikuti oleh Atikah. Mereka berjalan beriringan dengan perasaan yang baru.


Pram dan Atikah memilih tempat yang sepi di pojokan. Mereka memesan beberapa menu makanan dan minuman jus.


Mereka segera menghabiskan makanan dan pulang karena harus kembali bekerja ke tempat dinas masing-masing.


"Mas anter Tikah ke kampus saja nanti mobilnya mas bawa biar tidak terlalu capek, kalau naik motor takutnya mas kecapekan, lagian ambil motor ke rumah dengan langsung dari kampus deketan dari kampus lo." ucap Tikah melihat jam sudah lewat jam sebelas.


"Nanti Adek pulangnya gimana?" tanya Pram.


"Nanti Adek naik ojek online saja. Besok kita harus ke korem juga kan? Adek besok tidak ada jam kuliah jadi mas bisa ambil motornya besok." Terang Atikah.


"Ok deh kalau begitu. Jadi sekarang kita ke kampus Adek." Pram melajukan mobil mereka menuju tempat Atikah bekerja.


Mereka hening dalam pikiran masing-masing, Pram fokus pada kemudinya dan Atikah sibuk dalam lamunannya memandang jalanan.


Mereka telah sampai di kampus, Atikah turun disusul Pram. Setelah mengantar Atikah menuju kantornya Pram segera balik menuju Batalyon.

__ADS_1


Hari ini Pram hanya ijin setengah hari untuk mengurus pernikahannya, karena pekerjaanya di kompi juga sangat banyak sehingga harus bisa membagi waktu.


Pram telah kembali pada kegiatannya, sebagai Batih dia sudah menyusun kegiatan anggota kompinya dan tugas-tugas tiap anggotanya.


Selesai kegiatan dia memilih untuk istirahat daripada berolahraga seperti sebelumnya. Dulu Pram selalu menyempatkan diri ke tempat gym atau main volly dengan anggota lain. Namun akhir-akhir ini kesibukan kegiatan dan pengajuan nikahnya membuat tenaga Pram terkuras habis.


Selesai mandi dan sholat Ashar Pram rebahan di kasurnya sambil menonton video di aplikasi HP-nya. Pram suka kartun animasi, walaupun sering menjadi bahan ledekan anggotanya karena masih suka kartun Pram tidak peduli.


Akhirnya Pram tertidur dengan hp yang masih menyala, Andre yang kebetulan lewat sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan batihnya tersebut.


Andre mengambil hp Pram dan mematikan videonya lalu menyimpannya di atas meja samping kasur Pram.


Pram hanya berbalik posisi tanpa bangun dari tidurnya, terlihat gurat lelah di garis wajahnya.


Andre mencoba mendekati Pram dan membangunkan perlahan, Andre menyentuh tangan Pram yang panas. Andre lalu memeriksa kening Pram yang sudah berkeringan, ternyata benar Pram demam.


"Ya ampun bang, panas sekali badanmu. Bang bangun sudah Adzan Magrib. Badan abang panas abang sholat dulu nanti saya ambilkan makanan dan obat." ucap Andre membangunkan Pram.


Pram mengerjapkan matanya yang terasa panas. Kepalanya pusing tujuh keliling. Ia tidak biasa tidur sore karena tau tidur sore hanya akan membuat kepalanya pusing.


Ia mencoba duduk namun kepalanya benar-benar terasa berat. Pram kembali berbaring.


"Makasih Ndre udah bangunin. Kepala Abang sakit sekali." Ucap Pram masih memegang kepalanya.


"Ia bang, nanti kalau sudah mendingan pusingnya abang sholat di barak saja, biar Andre yang ambilkan makan dan obat." Walaupun berbeda agama namun Andre tahu bahwa Pram selalu mengusahakan sholat berjamaah di masjid, hanya pada keadaan tertentu saja Pram sholat di barak.

__ADS_1


"Makasih ya Ndre. Ia ini sudah agak mendingan. Abang mau sholat dulu. Kamu makan di ruang makan saja dulu jangan ikut dibawa kesini nanti repot." Pram beranjak pelan-pelan dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Abdre pergi ke ruang makan dan makan bersama dengan anggota yang lain, tak lupa Andre memesankan satu bungkus untuk dibawa ke barak untuk Pram.


Pram telah selesai sholat, Andre sudah menyiapkan makan di piring dan segelas air hangat juga obat yang diambilnya dari KSA.


Pram makan dengan dipaksakan lidahnya terasa pahit, namun mengingat agenda pekerjaan di kompi banyak dan ia juga harus menyelesaikan pengajuannya maka ia harus memaksakan makan dan minum obat agar besok pagi sudah bisa beraktifitas kembali.


Pram telah meminum obatnya dan duduk di kasurnya, HP-nya berdering di raihnya hp di atas meja ternyata telepon dari Atikah.


"Hallo assalamualaikum Dek," jawab Pram.


"Waalaikumusalam mas, lagi apa? Mas sudah makan?" tanya Atikah.


"Alhamdulillah sudah Dek, habis minum obat juga, tadi sepulang kegiatan mas tidur sore eh bangun malah badan mas panas." Cerita Pram.


"Astaghfirullah Mas, pasti kecapekan ya? Banyak istirahat Mas, besok-besok minum vitamin ya. Biar badannya fit terus."


"Ia Dek, makasih. Tumben telpon ada apa?" Tanya Pram.


"Ga papa hehehe mau nanya aja udah makan apa belum. Ya sudah Mas, besok pagi kabari saja ya Mas udah baikan belum kalau belum di tunda saja ke koremnya." Jawab Atikah.


"Oh iya Dek, besok mas kabari. Terima kasih ya perhatiannya. I love u." Ucap Pram sambil merona merah. Ini pertama kalinya Pram mengucap kata itu pada seorang gadis.


Atikah diam saja ia hanya bersorak dalam hati dan mengucap salam lalu menutup sambungan telepon.

__ADS_1


__ADS_2